VIVAforum

VIVAforum (http://forum.viva.co.id/index2.php)
-   Berita Dalam Negeri (http://forum.viva.co.id/berita-dalam-negeri/)
-   -   Drama J U Thalib vs A B Ba'asyir (http://forum.viva.co.id/berita-dalam-negeri/25704-drama-j-u-thalib-vs-b-baasyir.html)

ki_lanang 11 August 2010 20:40

Drama J U Thalib vs A B Ba'asyir
 
Drama Ja’far Umar Thalib dan Abu Bakar Ba’asyir

Kupret Elkazhiem| 10 Agustus 2010 | 19:50

Seorang Ja’far Umar Thalib mengatakan bahwa Abu Bakar Ba’asyir adalah sesat. karena berideologi khawarij yang selama ini dalam studi keislaman dikatakan sebagai cikal bakal pemikiran dan gerakan terorisme di kalangan komunitas muslim. Tapi apakah Ja’far Umar Thalib bukanlah seorang khawarij, toh dia juga menghina-hina hukum di negara ini lemah dan sebagainya serta bertentangan dengan syari’ah Islam. Namun si Ja’far ini tetap mengaku bahwa dirinya sebagai seorang Sunni atau Ahl Sunnah wa al-Jama’ah.

Seperti ketika Khawarij dahulu, di mana Ali dan Mu’awiyah sedang melakukan perjanjian perdamaian, mereka menyatakan diri keluar dari dua kelompok yang tengah berseteru tersebut, jargon yang terkenal dari mereka adalah “Man lam yahkum bima anzalallah fa ulaaika hum al-kafirun.” atau arti bebasnya adalah barang siapa yang tidak berhukum sesuai dengan ketentuan Allah, maka mereka termasuk dalam golongan orang-orang kafir.” alasan ini dipakai untuk mengafirkan sesama muslim karena tidak menerapkan hukum Allah. Kaum khawarij itu menolak putusan hukum Ali yang dinilai sebagai produk manusia. Pantas saja kemudian Ali bin Thalib membalas ucapan mereka dengan kata-kata “Kalimatu Haqqin Yuraadu Biha Baatilun.” atau terjemah bebasnya, “jargon indah dengan agenda busuk.”

Kalau kita melihat Ja’far Umar Thalib di Metro TV yang mengatakan bahwa Ba’asyir sesat, apa dia tidak sama dengan khawarij? Meskipun dia berkilah bahwa apa yang diucapkannya sebagai nasehat, tetapi nasehat apa seperti itu. Lagi-lagi dia memakai kalimat “Menurut Syari’ah Islamiyah” bahwa apa yang dilakukan Abu Bakar Ba’asyir adalah suatu bentuk kesesatan.

Secara ideologis orang-orang seperti Ja’far Umar Thalib dan Ba’asyir sebenarnya sama saja, mereka tidak suka dengan hukum negara ini yang berlandaskan undang-undang dasar 45, mereka menginginkan apa yang dikatakan “Syari’ah Islam” sebagai undang-undang dasar negara. Ini tidak jauh berbeda dengan kelompok Hizbut Tahrir Indonesia yang ingin mendirikan sebuah khilafah Islamiyah di Indonesia, khususnya, dan di dunia pada umumnya. Ada sebuah pemikiran yang kalau saya katakan sebagai utopia, bahwa Indonesia harus mengalami Islamisasi di segala bidang, dan itu diawali melalui jalur politis dengan mendirikan sebuah teokrasi, formalisme ajaran, dan terakhir institusi pendidikan.

Ada kesamaan ideologis dari orang-orang seperti mereka, ada yang mengatakannya sebagai ideologi transnasional, meskipun tidak tepat juga pengistilahannya. Karena liberalisme, pluralisme, feminisme, kapitalisme juga ideologi yang sifatnya transnasional. Akan tetapi yang dimaksud di sini adalah, ideologi dalam suatu gerakan atau kelompok yang mempunyai hubungan lintas negara dan afiliasi gerakannya atau kesamaan ideologi di negara lain. Walaupun kemudian ada perubahan sedikit demi sedikit, akan tetapi apa yang menjadi tujuan ideologis tetap sama.

Misalnya Ikhwan al-Muslimin sebagai basis ideologis PKS, akan tetapi belakangan katanya pimpinan Ikwan al-Muslimin di Indonesia mengatakan bahwa PKS bukanlah Ikhwan al-Muslimin karena tujuan PKS dinilai melenceng, terbuka, dan tidak lagi sebagai partai Dakwah. Kemudian Wahhabi di Saudi yang melancarkan perburuan bid’ahnya lewat kelompok yang disebut Salafi, atau neo-Salafi, dan biasanya ideologi mereka disebarkan lewat institusi-institusi yang didanai oleh Arab Saudi. Kemudian Hizbut Tahrir yang afiliasinya sangat bejibun di beberapa negara, baik Timur Tengah dan Eropa.

Lalu bagaimana dengan terorisme, Abu Bakar Ba’asyir seperti kena getahnya karena dia seringkali dikaitkan dengan aksi pengeboman di beberapa wilayah di Indonesia. Sementara media massa terus mengekspos perihal pengeboman dan korban-korban, bukan persoalan ideologi yang melatarbelakangi pemikiran mereka. Padahal mereka pun konservatif, dan Puritan. Terorisme dan Radikalisme sendiri berbeda, seseorang yang radikal belum tentu dia melakukan teror. Radikal itu sendiri tidak berhak menyandang konotasi negatif, Copernicus yang dulu menentang pihak Gereja yang mengatakan Bumi sebagai pusat tata surya adalah seorang yang Radikal, tetapi dia tidak melakukan teror.

Batasan terorisme ini juga harus jelas, sebenarnya gerakan-gerakan yang ingin mengganti pancasila dengan al-Qur’an dan Sunnah adalah sah-sah saja untuk menyebarkan ideologinya di Indonesia. Tinggal bagaimana nanti kompetisi dan kontestasi dari kaum liberal yang akan mengcounter mereka, tapi itu semua dalam tataran pemikiran keagamaan dan praksis sosial, bukan dengan menciptakan Bom kemudian meledakkan di tempat keramaian sehingga melukai siapa saja tanpa pandang agamanya apa. Itulah yang disebut teror dan pelakunya terorisme. Mungkin karena pemerintah didesak terus oleh entahlah siapa, akhirnya asal main pungut Ba’asyir dan dituding aktor ideologisnya.

Bagi saya yang paling lucu sebenarnya adalah NU dan Muhammadiyah yang masih sibuk ngurusin Qunut dan tidak pakai Qunut, Ru’yat Hilal (melihat bulan) atau Hisab (perhitungan), Tahlilan dan tidak Tahlilan. Sebenarnya Muhammadiyah dan NU tidak lagi bisa digolongkan tradisional dan modern, keduanya sama saja sekarang. Moderat dan Modern, NU yang dulu dikatakan kumpulan Islam abangan dan tradisionalis, tetapi saat ini para kadernya justru memiliki pemikiran-pemikiran yang modern. Demikian pula dengan Muhammadiyah yang katanya revivalis dan modernis, tetapi di beberapa wilayah juga melakukan ritual-ritual mauludan, tahlilan, dan sebagainya yang biasa dilakukan kader NU.

NU dan Muhammadiyah justru murni gerakan keislaman yang berasal dan menampilkan ciri khas ke-Indonesiaannya, walaupun para pendiri keduanya mengenyam tradisi keilmuan di Timur Tengah seperti Mekkah dan Madinah. Kedua organisasi massa inilah yang sering mendapatkan gempuran ideologis dari kelompok-kelompok transnasional sebagaimana saya sebut di atas. Terutama pada masyarakat awam.

Saya pernah menceritakan dalam sebuah tulisan bagaimana kultur masyarakat yang tadinya sebagai warga NU tiba-tiba bisa dirubah menjadi Wahhabi gara-gara masjid mereka disusupi orang-orang Wahhabi. Pertama kali satu orang masuk sebagai seorang penjaga masjid atau marbot, kemudian dalam setiap rapat pengurus masjid selalu ikut, akhirnya dia mengusulkan agar khatib jumat sesekali diganti oleh ustaz yang dia kenal. Setelah itu dalam rangka memakmurkan masjid, dia mengusulkan diadakan pengajian yang memakai nama pengajian Salafi atau pengajian Ahl Sunnah wa al-Jama’ah (warga NU sangat dekat dengan istilah aswaja ini) pada hari atau jam tertentu. Akhirnya warga NU yang tadinya tidak tahu menahu dan awam soal keislaman mulai dicekoki, dan tradisi-tradisi mereka diganti. Sampai semuanya benar-benar berubah, dan anehnya rata-rata hal semacam ini dialami oleh warga yang tinggal di kota-kota besar dan dijejali fenomena masyarakat urban seperti Jakarta. Muhammadiyah pun mengalami hal yang tidak jauh berbeda, tapi mungkin karena ada kesamaan pemahaman maka prose asimilasi dengan Wahhabinya pun lebih cepat.

Tetapi rivalitas antara NU dan Muhammadiyah pada masa sekarang ini semestinya sudah tidak relevan lagi diungkit dan dibicarakan, di antara elit-elit mereka sendiri kata-kata menghormati perbedaan dan pemahaman sudah tersemat. Lalu isu apa yang menarik bagi media massa untuk diangkat?

Kembali pada dua orang muslim yang dijadikan elit dan tokoh oleh para pengikutnya, maka apa yang ditampilkan di Metro TV bak drama menjelang hari pertama di Bulan Ramadhan. Sosok Ja’far Umar Thalib yang sesungguhnya tidak jauh berbeda dengan sosok lain yang ditudingnya, yaitu Abu Bakar Ba’asyir.

http://media.kompasiana.com/group/ma...bakar-baasyir/

yankiijo 11 August 2010 20:59

mengkotak2an umat islam dalam golongan2 seperti itu tidak tepat.

princess_sasha 11 August 2010 22:28

Ki lananag yang baik...
mohon di jawab.
saya lihat sumber nya dari kompasiana..
apakah ini tulisan ki lanang sndiri
atau tulisan org lain yg di post disitu..
karena banyak hal tendensius dalam artikel itu...

chilok 12 August 2010 09:11

Quote:

Originally Posted by yankiijo (Post 766748)
mengkotak2an umat islam dalam golongan2 seperti itu tidak tepat.

iya siyh,,
tapi knyataanya bnyk masyarakat awam yg mlihat n mnganggapnya sperti itu..
mungkin salah kita juga kurang bisa menjaga ukhuwah..

Robert GedeQ 12 August 2010 09:19

Quote:

Originally Posted by smartsasha (Post 766794)
Ki lananag yang baik...
mohon di jawab.
saya lihat sumber nya dari kompasiana..
apakah ini tulisan ki lanang sndiri
atau tulisan org lain yg di post disitu..
karena banyak hal tendensius dalam artikel itu...

Yup, :cry::cry::cry:

fnugros 12 August 2010 09:24

hmmmmmm gitu ya???

cogito 13 August 2010 08:46

Quote:

Originally Posted by ki_lanang (Post 766722)
Drama Ja’far Umar Thalib dan Abu Bakar Ba’asyir

sebenarnya gerakan-gerakan yang ingin mengganti pancasila dengan al-Qur’an dan Sunnah adalah sah-sah saja untuk menyebarkan ideologinya di Indonesia. Tinggal bagaimana nanti kompetisi dan kontestasi dari kaum liberal yang akan mengcounter mereka
http://media.kompasiana.com/group/ma...bakar-baasyir/

hhmmmm........
bagaimana kalau yang tidak konsisten justru para penggerak tersebut?
berteriak anti liberalisme namun berbuka puasa di McDonalds.

hehehehehe......

ki_lanang 14 August 2010 18:48

Quote:

Originally Posted by yankiijo (Post 766748)
mengkotak2an umat islam dalam golongan2 seperti itu tidak tepat.

Saya kira apa yang dilakukan oleh penulis opini itu tidaklah keliru.

Banyak hal (subyek, benda, pengetahuan, dll) yang seringkali dianalisa, dipilah-pilah dan kemudian di-klasifikasi-kan. Misalnya dalam satu ruang kelas, dapat dikalsifikasikan berdasarkan : jenis kelamin, sikap/perilaku (rajin, pemalas, pendiam atau heboh), kepandaian/prestasi, dll.

Bilamana ada yang tidak sesuai, mungkin bisa dikoreksi atau dibantah, ok?
Silakan pencerahannya......:)

ki_lanang 14 August 2010 18:57

Quote:

Originally Posted by chilok (Post 767144)
iya siyh,,
tapi knyataanya bnyk masyarakat awam yg mlihat n mnganggapnya sperti itu..
mungkin salah kita juga kurang bisa menjaga ukhuwah..

Ukhuwah mana yang hendak dijaga ?

A. Ukhuwah Islamiyyah, yakni persaudaraan antar sesama Muslim. Ini yang dikhawatirkan mendukung eklusifisme umat Islam.
B. Ukhuwah 'ubudiyyah atau saudara kesemakhlukan dan kesetundukan kepada Allah.
C. Ukhuwah insaniyyah (basyariyyah) dalam arti seluruh umat manusia adalah bersaudara, karena mereka semua berasal dari
seorang ayah dan ibu. Ini yang mendukung sikap Universalime dan liberalism.
D. Ukhuwah wathaniyyah wa an-nasab, yaitu persaudaraan dalam keturunan dan kebangsaan. Inilah yang mendukung sikap
Nasionalisme dan Pluralisme (ke-bhineka-an) dalam kerangka NKRI berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. :kiss:
.
.

ki_lanang 14 August 2010 19:01

Quote:

Originally Posted by cogito (Post 769148)
hhmmmm........
bagaimana kalau yang tidak konsisten justru para penggerak tersebut?
berteriak anti liberalisme namun berbuka puasa di McDonalds.

hehehehehe......

Yah...namanya juga dah waktunya buka dan laper tau...!

Sekalian mengamalkan Ukhuwah insaniyyah ....... :nyerah:

Hehe....


All times are GMT +7. The time now is 07:55.

Powered by vBulletin® Version 3.8.0
Copyright ©2000 - 2014, Jelsoft Enterprises Ltd.