|
#1
|
||||
|
||||
|
Akhirnya, Pencarian SBY Berujung ke Timur ![]() Jakarta - Melalui proses 'dramatis', akhirnya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memilih Komjen Timur Pradopo sebagai calon tunggal Kapolri. Terpilihnya mantan Kapolda Metro Jaya ini cuma beberapa jam saja setelah dia mendapatkan kenaikan pangkat dan menduduki posisi baru sebagai Kepala Badan Pemeliharaan Keamanan. Pengumuman terpilihnya Timur disampaikan oleh politisi Partai Demokrat yang juga menjabat sebagai Ketua DPR Marzuki Alie. Dengan terus menebarkan senyum, Marzuki mengaku baru beberapa menit saja menerima surat dari Presiden soal nama calon Kapolri. "Presiden mengajukan Komjen Polisi Timur Pradopo," kata Ketua DPR Marzuki Alie dalam keterangan pers di Gedung DPR, Jl Gatot Subroto, Jakarta, Senin (4/10/2010) malam. Padahal, dalam waktu yang tidak lama juga, publik telah mendapatkan teka-teki siapa calon Kapolri pilihan SBY. Nama Kabareskrim Mabes Polri Komjen Pol Ito Sumardi disebut-sebut calon terkuat pengganti BHD. Nama Ito muncul saat Ketua Umum DPP Partai Demokrat Anas Urbaningrum melalui akun twitternya @anasurbaningrum memberi petunjuk siapa calon Kapolri yang dipilih SBY. Dalam akun Twitternya, Anas menyebut yang akan menjadi Kapolri adalah yang tidak banyak diperbincangkan. Wakil Ketua DPR Pramono Anung melalui akun twitternya @pramonoanung malah lebih vulgar menyebut siap calon Kapolri. Menurut Pram, calon Kapolri yang dipilih SBY pernah jadi Kapolwil Surabaya. Bisa jadi yang disebut Pram adalah Ito. Sebab, Ito adalah jenderal bintang tiga yang pernah menjabat sebagi Kapolwiltabes Surabaya pada tahun 2001-2003. Hingga, Senin (4/2010) siang nama calon Kapolri masih mengerucut ke Ito. Hingga pada Senin sore, 'peta politik' calon Kapolri berubah saat tiba-tiba Timur Pradopo mendapat kenaikan pangkat menjadi bintang tiga. Atas kenaikan pangkat inilah, Timur berhak atas pangkat Komjen dan otomatis ikut masuk dalam bursa pemilihan calon Kapolri. Menjelang maghrib, tiba-tiba Presiden memanggil Kapolri ke Istana. BHD enggan bicara perihal pemanggilannya yang terkesan mendadak tersebut. Hingga pada akhirnya, tak lama setelah SBY memanggil BHD, Marzuki Alie mengumumkan bahwa SBY telah memilih Timur Pradopo sebagai calon tunggal Kapolri. Pilihan SBY ini, seperti pilihan-pilihan sebelumnya, menimbulkan kontroversi. Mayoritas fraksi pendukung koalisi mendukung. Namun anggota FPKS Nasir Djamil menganggap pilihan SBY ini sangat politis. Menurut Nasir, perlu dipertanyakan kenapa Timur terpilih begitu 'instan', hanya beberapa jam saja dia mendapatkan kenaikan pangkat. "Sangat politis, baru beberapa jam dilantik jadi Kabarhakam, langsung dipasang sebagai calon Kapolri. SBY dalam pandangan saya tidak terbuka dalam proses ini," kata Nasir. Lalu bagaimana dengan calon lain yang 'kalah'? Sebut saja Komjen Ito Sumardi, Komjen Nanan Soekarna, ataupun Komjen Pol Imam Sudjarwo. Apakah para jenderal yang sebelumnya sudah sering disebut sebagai calon Kapolri tidak sakit hati hingga menimbulkan masalah baru di tubuh Polri? Meski hal ini patut diwaspadai, namun diharapkan Timur mampu memimpin Polri secara obyektif dan mampu mempersatukan faksi internal Polri yang pecah menjelang pemilihan Kapolri. "Pak Timur diharapkan menjadi solidarity maker Polri dan merangkul semua calon," kata politisi PAN Tjatur Sapto Edy. Pilihan SBY yang 'berubah' menjelang detik-detik terakhir ini seakan mengingatkan kita dengan kejadian-kejadian serupa sebelumnya. Sebut saja calon Menteri Kesehatan KIB II, Nila Anfasa Moeloek, yang telah menjalani serangkaian tes untuk menjadi Menkes. Namun pada last minutes, NIla tak jadi dipilih. SBY akhirnya memilih Endang Rahayu Sedianingsih. Saat itu, Nila sempat kecewa. Hal yang sama juga dialami oleh calon Wakil Menkeu Anggito Abimanyu. Lama tidak dilantik, ternyata SBY justru memilih Anny Ratnawati sebagai Wakil Menkeu. Kecewa dengan keputusan SBY, Anggito mundur dari Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan dan memeilih kembali ke Yogyakarta, menjadi dosen di Fakultas Ekonomi UGM. detik.com |
|
#2
|
||||
|
||||
|
Komjen Timur: Sebagai Bhayangkara, Saya Siap Laksanakan Tugas Jakarta - Calon Kapolri pilihan Presiden SBY, Timur Pradopo, mengaku siap jika terpilih menjadi Kapolri. Sebagai prajurit, Timur siap melaksanakan tugas yang diembankan kepadanya. "Sebagai Bhayangkara siap laksanakan tugas," kata Timur. Hal tersebut dia katakan di sela-sela acara HUT ke-65 TNI yang berlangsung di Landasan Udara (Lanud) Halim Perdanakusuma, Jakarta, Selasa (4/10/2010). Timur masih enggan berbicara banyak soal pilihan SBY yang jatuh kepadanya. Menurutnya, belum pasti dirinya akan terpilih. "Belum, kita kan masih jadi Kabaharkam (Kepala Badan Pemeliharaan Keamanan)," tutur mantan Kapolda Metro Jaya tersebut. Tapi pencalonan Bapak kan telah diumumkan oleh DPR? "Belum, kita kan baru dicalonkan," ujarnya merendah. Saat ditanya persiapan menghadapi fit and proper test yang akan digelar DPR, Timur meminta untuk sabar. "Belum, sabar ya," kata Timur yang langsung menghindar dari kejaran wartawan. ![]() Presiden SBY semalam telah mengirimkan surat ke DPR yang berisi memilih Komjen Timur Pradopo sebagai calon Kapolri menggantikan Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri yang segera akan habis masa tugasnya. Pengumuman terpilihnya Timur disampaikan oleh politisi Partai Demokrat yang juga menjabat sebagai Ketua DPR Marzuki Alie, beberapa saat setelah mendapatkan surat dari SBY. Timur Pradopo lahir di Jombang, Jatim, 10 Januari 1956. Dia merupakan lulusan Akpol 1978. Dia pernah menjadi Kapolres Jakarta Barat pada 1997-1999 saat peristiwa Trisakti dan Semanggi meletus, Kapolres Jakarta Pusat (2000), dan Kapolwiltabes Bandung (2001) serta menjadi Kapolda Metro Jaya. |
|
#3
|
||||
|
||||
|
JAKARTA, KOMPAS.com - Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) kecewa atas terpilihnya Komjen Pol Timur Pradopo sebagai calon tunggal Kapolri menggantikan Bambang Hendarso Danuri. Pasalnya, Timur masih tersangkut tragedi Semanggi dan peristiwa penembakan mahasiswa Trisakti tahun 1998.
Kontras pun menuntut sejumlah pihak membuka kembali peristiwa reformasi berdarah tersebut. Wakil Koordinator Kontras, Indriya Fernida kepada Tribunnews.com, Senin (4/10/2010), mengatakan, Timur Pradopo berstatus sebagai saksi dalam tragedi Semanggi dan peristiwa penembakan mahasiswa Trisakti tahun 1998. Saat tragedi itu, Timur menjabat sebagai Kapolres Jakarta Barat. Sebagai Kapolres Jakarta Barat saat itu, lanjut Indriya, Timur seharusnya diperiksa oleh Komnas HAM. Namun, ia selalu menolak untuk hadir. Padahal, Komnas HAM sudah melayangkan panggilan paksa terhadap Timur. "Soal hasil-hasil assesment Komnas HAM terhadap calon Kapolri tak pernah diinformasikan ke publik. Kami tahu Timur salah satu saksi di Komnas HAM atas kasus di Trisakti, serta peristiwa Semanggi. Dia menolak hadir padahal sudah ada upaya paksa," ujar Indriya. Karena itulah, menurut Indri, sangat penting untuk membuka rekam jejak Timur Pradopo dalam dua kasus tersebut. Diharapkan ada keterbukaan informasi kepada publik untuk menilai sosok calon Kapolri. "Penting untuk membuka rekam jejak Timur Pradopo atas pemeriksaan Komnas HAM, PPATK, dan Polri," jelasnya. Indri juga mengkritik proses pemilihan Timur Pradopo sebagai calon Kapolri tunggal. Alurnya dianggap Indri sebagai sebuah proses politisasi, lantaran dipilih hanya dalam hitungan jam. "Pertama soal prosesnya, jam 13.00 WIB, diangkat jadi Komjen, dan beberapa jam kemudian jadi Kapolri ini harus dilihat proses politisasi Pak Timur," jelasnya. Meski begitu, Indri tetap melihat bahwa pencalonan Timur Pradopo sepenuhnya merupakan hak prerogratif Presiden SBY. (Tribunnews/Willy Widianto) http://nasional.kompas.com/read/2010...Kontras.Kecewa. |
|
#4
|
||||
|
||||
|
TEMPO Interaktif, Jakarta – Munculnya nama Komisaris Jenderal Timur Pradopo sebagai calon tunggal Kepala Polri mengejutkan banyak pihak. Nama itu tak pernah diduga sebelumnya. Ada apa? Ketua Fraksi Partai Amanat Nasional Tjatur Sapto Edy mengatakan Timur adalah pilihan "aman" Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Pilihan itu bisa meredakan adanya perkubuan di kalangan internal Polri menjelang pemilihan Kepala Polri baru.
"Kami mengapresiasi keputusan Presiden," kata tadi malam. Timur, yang sempat menghilang dari daftar calon yang dijagokan, diharapkan akan menjadi jalan keluar dan menciptakan situasi “sama-sama menang”. Sebelum nama Timur muncul ada dua nama kuat calon kepala Polri, yakni Komisaris Jenderal Nanan Sukarna dan Komisaris Jenderal Imam Sudjarwo. Nama Timur bahkan juga menyalip nama Ito Sumardi, Kepala Badan Reserse Kriminal Polri. "Ini adalah jalan keluar yang terbaik yang diambil Presiden, supaya tidak ada yang losing-face di berbagai angkatan dan institusi Polri," Tjatur menambahkan. "Nama Timur, kata Wakil Ketua DPR dari Golkar Priyo Budi Santoso, "Bukanlah "Timur bukan calon yang ujug-ujug jatuh dari langit. Dia sudah masuk dalam daftar kandidat Kapolri yang sudah kita duga." Dia masuk tujuh nama petinggi yang digadang-gadang menjadi orang nomor satu di Polri. Belakangan, namanya tenggelam, entah mengapa. Sementara dua calon lainnya Nanan dan Imam Sudjarwo namanya terus melambung. Imam, terakhir menjabat Kepala Lembaga Pendidikan Kepolisian, resmi menjadi jenderal bintang tiga pada 20 September lalu. Adapun Nanan, yang lebih dulu menyandang bintang tiga, terakhir menjabat Inspektur Pengawasan Umum Polri. Persaingan calon Kapolri ini semakin memanas setelah Sekretariat Gabungan Partai Koalisi pun telah memberikan masukan kepada Presiden soal calon Kepala Polri ini. "Setgab telah membahas, brain storming, calon-calon Kapolri yang punya peluang," kata Tjatur beberapa waktu lalu. Namun, kepopuleran kedua calon itu tiba-tiba seperti sirna kemarin. Muncul kuda hitam calon kepala Polri yakni Ito Sumardi. Nama ini muncul setelah Wakil Ketua DPR Pramono Anung dan Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum membocorkan calon Kapolri lewat Twitter. Kata Pramono, "Kapolri-nya, pernah menjadi kapolwil di Surabaya." Sang kepala Polri itu juga pernah menjadi Kapolda di Sumatra dua kali. Kriteria itu cocok untuk Ito Sumardi, bukan Nanan atau Imam. Anas juga memberi bocoran. Dia mengatakan Presiden mengutamakan calon pemimpin Polri yang profesional, kredibel, dan loyal. "Yang akan jadi Kapolri adalah yang tidak melakukan safari. Kapolri bukan figur politik." Kriteria ini juga cocok untuk nama Ito. Maka, Senin pagi, nama Ito pun disebut-sebut sebagai calon pasti Kepala Polri. Rupanya, dugaan banyak orang terhadap calon Kapolri meleset. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mendadak memutuskan memilih Komisaris Jenderal Timur Pradopo sebagai calon Kapolri pengganti Jenderal Bambang Hendarso Danuri. "Pembahasan dilakukan sebelum Rapat Kabinet Paripurna" kata Ketua Komisi Kepolisian Djoko Suyanto yang juga Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan dalam pesan pendeknya kepada Tempo, Senin 4 Oktober 2010 malam. Menurut Djoko, Presiden memutuskan memilih Timur sebagai calon Kapolri setelah memastikan sang calon memenuhi persyaratan formal maupun non formal. " Syarat itu sebagaimana calon yang lain" kata Djoko. Nama Timur dikirim Senin sore ke DPR dan langsung diterima Ketua DPR Marzuki Alie. Menurut Djoko, nama Timur diajukan setelah mendengar pertimbangan Wakil Presiden Boediono, Ketua Kompolnas, Kapolri dan Kepala BIN. "Di samping itu Presiden juga mempertimbangkan aspek-aspek lain yang berkembang di kalangan masyarakat dan media," katanya. http://www.tempointeraktif.com/hg/hu...282555,id.html |
|
#5
|
||||
|
||||
|
JAKARTA, KOMPAS.com — Nama Timur Pradopo akhirnya menjadi calon tunggal Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia yang diajukan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke DPR, Senin (4/10/2010). Kemunculan Timur Pradopo sebagai calon tunggal Kapolri mengejutkan karena namanya baru disebut-sebut kurang dari 24 jam sebelum pengumuman pencalonannya.
Pangkat komisaris jenderal baru diperoleh tadi pagi saat Kapolri Jenderal (Pol) Bambang Hendarso Danuri mengangkatnya sebagai Kepala Badan Pemeliharaan Keamanan (Kabaharkam) Polri. Sebelumnya, ia menjabat sebagai Kapolda Metro Jaya, dan itu pun belum lama karena baru diangkat pada 22 Juni 2010. Penggantian jabatan tersebut juga sangat cepat karena Timur Pradopo mengaku baru diberi tahu akan dimutasi pagi tadi dan langsung melakukan serah terima jabatan. Meski demikian, karier Timur Pradopo di Polri sudah dilakoni dari bawah sejak masuk Akademi Kepolisian tahun 1978. Ia pernah menjabat sebagai Kapolres Metro Jakarta Barat dan Kapolres Metro Jakarta Pusat pada awal reformasi. Ia juga pernah menjabat sebagai Kapolda Banten, Kapolda Jawa Barat, dan terakhir Kapolda Metro Jaya. Berikut biodata singkat Komjen Timur Pradopo: Nama Lengkap: Timur Pradopo Tempat, Tanggal Lahir: Jombang, Jawa Timur, 10 Januari 1956 Agama: Islam Jabatan terakhir: Kepala Badan Pemeliharaan Keamanan (Kabaharkam) Polri PENDIDIKAN : Umum : - Akademi Kepolisian (1978) - Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) (1989) Khusus : - Kejuruan: PA Lantas - Sekolah Staf dan Pimpinan Polisi (Sespimpol) (1996) - Sekolah Staf Administrasi Tingkat Tinggi (Sespati Polri) (2001) PERJALANAN KARIER DI POLRI : Kepangkatan : - Komisaris Jenderal Jabatan : - Perwira Samapta Poltabes Semarang - Perwira Operasi Satuan Lalu Lintas Semarang - Kepala Seksi Ops Poltabes Semarang - Kapolsekta Semarang Timur - Kabag Lantas Polwil Kedu - Kasubag Ops Dit Lantas Polda Metro Jaya - Kasat Lantas Restro Jakarta Pusat - Kapolsek Metro Sawah Besar - Waka Polres Tangerang - Kabag Jianma Dit Lantas Polda Metro Jaya - Kapolres Metro Jakarta Barat (1997-1999) - Kapolres Metro Jakarta Pusat (1999-2000) - Kapuskodal Ops Polda Jawa Barat (2000) - Kepala Polwiltabes Bandung (2001) - Kakortarsis Dediklat Akpol (2002) - Irwasda Polda Bali (2004) - Kapolda Banten (2005) - Kaselapa Lemdiklat Polri (2008) - Staf Ahli Bidang Sosial Politik Kapolri (2008) - Kapolda Jawa Barat (2008-2010) - Kapolda Metro Jaya (2010) - Kepala Badan Pemeliharaan Keamanan (Kabaharkam) Polri (2010) PENGHARGAAN : - Satya Lencana 16 Tahun KELUARGA : - Irianti Sari Andayani (istri) - 1. Moh Bimo Aryo Seto (anak) - 2. Dhea Istigfarina Miranti (anak) Sumber: Litbang Kompas http://nasional.kompas.com/read/2010....Timur.Pradopo |
|
#6
|
||||
|
||||
|
Nice posting Bro,..
thanks banyak ya,.. ![]()
|
|
#7
|
||||
|
||||
|
DPR Umumkan Timur Pradopo Sebagai Calon Kapolri di Rapat Paripurna
Jakarta - DPR dalam Rapat Paripurna mengumumkan Komjen Pol Timur Pradopo menjadi calon tunggal kapolri besutan Presiden SBY. Dengan demikian, maka Jenderal Pol Bambang Hendarso Danuri akan segera meninggalkan kursi Kapolri. "Seusai kesepakatan pimpinan dan kita juga baru menerima surat Presiden kemarin malam yang salah satunya adalah menetapkan calon Kapolri Komjen Pol Timur Pradopo sebagai calon tunggal yang diajukan Presiden," ujar Wakil Ketua DPR Pramono Anung. Pramono Anung bertindak sebagai pimpinan rapat paripurna di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (5/10/2010). Dalam rapat tersebut, tidak ada protes atas usulan kapolri dari SBY itu. Rapat dimulai sekitar pukul 10.00 WIB. Pihak pemerintah diwakili Menkum HAM Patrialis Akbar. Anggota DPR yang hadir berjumlah 298 orang. "Sehubungan dengan itu, artinya Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri dalam waktu dekat akan memasuki masa pensiun dan kami memberhentikan Bambang Hendarso Danuri sebagai Kapolri yang kemudian digantikan oleh Komjen Timur Pradopo yang menjabat Kabaharkam Polri," imbuh Pramono. Atas usulan SBY, DPR akan melakukan fit and proper test dalam waktu dekat. "Untuk diumumkan kepada seluruh fraksi yang kemudian akan dibawa ke Bamus, dan kemudian akan dilakukan fit and proper test oleh Komisi III," kata politisi PDIP itu. Selain menyampaikan pencalonan Timur, rapat paripurna hari ini juga mengagendakan pengambilan keputusan terhadap RUU Tindak Pidana Pencucian Uang. Rapat kemudian dilanjutkan dengan pengambilan keputusan. Ketua DPR Marzuki Alie dalam keterangan pers di Gedung DPR, Senin 4 Oktober kemarin menyatakan, Presiden SBY telah mencalonkan Timur Pradopo sebagai calon tunggal Kapolri. Pilihan SBY ini akan dibawa ke Rapat Paripurna DPR hari ini. Terpilihnya mantan Kapolda Metro Jaya ini cuma beberapa jam saja setelah Timur mendapatkan kenaikan pangkat dan menduduki posisi baru sebagai Kepala Badan Pemeliharaan Keamanan pada Senin (4/10) kemarin. Timur Pradopo lahir di Jombang, Jatim, 10 Januari 1956. Dia merupakan lulusan Akpol 1978. Dia pernah menjadi Kapolres Jakarta Barat pada 1997-1999 saat peristiwa Trisakti dan Semanggi meletus, Kapolres Jakarta Pusat (1999-2000), dan Kapolwiltabes Bandung (2001) serta menjadi Kapolda Banten, Kapolda Jabar dan terakhir Kapolda Metro Jaya. detik |
|
#8
|
||||
|
||||
|
Siapapu calonnya,..yg penting bisa memgang tampuk kepemimpinan di dalam tubuh POLRI secara baik,sesuai dengan undang undang dan harapan masyarakat banyak,..
|
|
#9
|
||||
|
||||
|
Quote:
|
|
#10
|
||||
|
||||
|
Siapapun Calonnya,..yang pasti dia harus BERSIH,..
TIDAK CACAT HUKUM.. Setuju gak gan..?
|
![]() |
| Bookmarks |
| Thread Tools | |
| Display Modes | |
|
|