VIVAnews Forums
Welcome to VIVAforum!
If this is your first visit, be sure to check out the FAQ by clicking the link above. You may have to register before you can post: click the register link above to proceed. To start viewing messages, select the forum that you want to visit from the selection below.


Reply
 
LinkBack Thread Tools Display Modes
  #1  
Old 15 June 2012, 09:17
MangBewok's Avatar
Banned
 
Join Date: Jun 2012
Location: 20
Posts: 122
Thanks: 0
Thanked 4 Times in 4 Posts
MangBewok super top memberMangBewok super top memberMangBewok super top memberMangBewok super top memberMangBewok super top memberMangBewok super top memberMangBewok super top memberMangBewok super top memberMangBewok super top memberMangBewok super top memberMangBewok super top member
Default Cerita Pemerkosaan Nanking di THE FLOWERS OF WAR

Quote:
Pemerkosaan Nanking,
Cerita kejadian pembunuhan dan pemerkosaan yang dilakkukan oleh pasukan Jepang di tahun 1937 digambarkan dengan luar biasa realistik dalam film “The Flowers of War”, sampai-sampai Criters berharap kalau sutradara kawaka nasal China, Zhang Yimou menayangkan film lain yang mengawali adegan ini. Jepang, baik secara resmi dan tak resmi, telah menghabiskan waktu selama 74 tahun dengan sangat memalukan menyangkal pembantaian masal atas wanita dan anak-anak warga negara China di kota tersebut pernah terjadi. Sebuah film historikal besar dengan menggunakan setting ini, sudah sangat lama dinantikan oleh banyak pihak.

Meski para filmmaker yang pernah sukses membesut “Ju Dou” dan “Raise the Red Lantern” berhasil menyajikan tayangan visual yang luar biasa, cerita mengenai seorang pria berkewarganegaraan Amerika (Christian Bale) yang sinis dan jadi pemeran protagonist yang bertugas untuk menyelamatkan sekelompok remaja wanita terasa sedikit klise.

Dibuat berdasarkan novel karya Yan Geling, “Flowers” dimulai dari peperangan terakhir di kota Nanking. Para penduduk sipil berkaburan dan Mayor Li (Tong Dawei) yang heroik membawa sekelompok prajurit miliknnya untuk keluar dari cengkraman pasukan Jepang. Adegan-adegan perang yang ditayangkan terasa dibuat seperti sebuah bagian dari film action atau video game bergenre first-person shooter.

Adegan ini dibuat sangat realistis. Untuk setiap anak kecil yang diselamatkan oleh Mayor Li lewat senapan sniper miliknya, sekitar enam dari mereka tak bisa diselamatkan.

Mereka yang beruntung adalah murid-murid dari sekolah katolik yang berdomisili di gereja kota, yang berlindung dibawah lindungan orang-orang barat. Sang pendeta telah meninggal, dan seorang anak laki-laki (Huang Tianyuan) yang bertugas telah memanggil seorang pengurus pemakaman (Bale), yang berjalan melewati zona perang dengan melambai-lambaikan sapu tangan bergambar bendera Amerika, memamerkan jenggot kebarat-baratannya dan berteriak “Saya orang Amerika” kepada setiap petugas patroli Jepang yang ia lewati.

Selengkapnya langsung ke TKP aja yaa Gan, KLIK


Indahnya berbagi
Reply With Quote
Reply

Bookmarks

Thread Tools
Display Modes

Posting Rules
You may not post new threads
You may not post replies
You may not post attachments
You may not edit your posts

BB code is On
Smilies are On
[IMG] code is On
HTML code is Off
Trackbacks are On
Pingbacks are On
Refbacks are On



All times are GMT +7. The time now is 04:14.