Dari Perkebunan Kelapa Sawit Untuk Energi Terbarukan

Discussion in 'Iptek' started by sakkabumi, Apr 18, 2017.

  1. sakkabumi

    sakkabumi New Member

    Perkebunan kelapa sawit menghasilkan dua jenis energi terbaharui yakni biofuel generasi pertama berupa biodiesel dan biofuel generasi kedua berupa bioethanol dan biogas berbasis POME (Palm Oil Mill Effluent). Naiknya harga gas Elpiji (LPG) membuat kita tersadar bahwa bahan bakar yang ditambang dari perut bumi lambat-laun akan habis. Ketersediaan bahan bakar gas Elpiji akan semakin menipis dan harganya pun akan semakin membumbung tinggi.
    Perkebunan kelapa sawit dapat dipandang sebagai “pabrik” biologis untuk menangkap dan menyimpan energi matahari. Limbah pabrik kelapa sawit sangat melimpah. Saat ini diperkirakan jumlah limbah pabrik kelapa sawit (PKS) di Indonesia mencapai 28,7 juta ton limbah cair/tahun dan 15,2 juta ton limbah padat (TKKS)/tahun. Dari limbah tersebut dapat dihasilkan kurang lebih 90 juta m3 biogas. Jumlah ini setara dengan 187,5 milyar ton gas Elpiji. Jumlah biogas kelapa sawit ini cukup untuk memenuhi kebutuhan gas satu milyar KK (kepala keluarga) selama satu tahun.
    Perkebunan kelapa sawit merupakan industri penting dalam rencana transformasi energi nasional dari energi tak terbarui ke energi terbarui. Biogas kelapa sawit dapat menjadi pengganti gas alam, biodiesel menjadi pengganti sebagian solar, dan bioethanol sebagai pengganti premium.
     

Share This Page