Demi Bertahan Hidup Untuk Rebut Irian Barat Prajurit Ini Makan Sepatu

Discussion in 'Sejarah' started by indraone, Apr 17, 2017.

  1. indraone

    indraone Well-Known Member

    [​IMG]
    Sarjono, seorang prajurit Pasukan Infiltrasi untuk Irian Barat terpaksa merebus dan memakan sepatu PDL (pakaian dinas lapangan) miliknya demi bertahan hidup untuk merebut Irian Barat.

    Kala itu, pukul 03.00 waktu setempat, satu per satu pasukan melompat dari pesawat. Aksi pasukan Indonesia ini dinilai sebagai suatu aksi yang nekat bagi Belanda, mengingat hutan belantara di papua sangat luas dengan tiupan angin berkecepatan 60 km per jam, sungai-sungai di tengah hutan, terlebih lagi ada medan yang sangat berbahaya bagi para penerjun disertai kondisi yang masih gelap.

    Anggota pasukan mendarat di puncak pohon yang tingginya lebih dari 50 meter. Mereka menggantung di pohon dan kesulitan mencapai tanah, untungnya setiap prajurit membekali diri dengan tali sepanjang 30 meter. Mereka jatuh dengan menyebar sehingga kekuatan terpencar dari pasukan induk.

    Pertolongan dari rakyat Irian Barat nyaris tak bisa diharapkan. Kebanyakan dari mereka sudah dibina Belanda. Rakyat akan melapor kepada tentara setiap ada tentara Indonesia yang masuk.

    Hingga makanan jadi masalah utama. Di belantara Papua sulit sekali mencari makanan, terlebih dari sangat jarang ada tumbuhan atau makanan yang bisa dimakan. Akibatnya, pasukan Indonesia kerap menahan lapar sampai berhari-hari. Mereka sudah tak percaya dengan penduduk yang menjanjikan makanan. Sebab, bisa dipastikan tempat yang ditunjuk sudah ada tentara Belanda yang menunggu.

    Sarjono, adalah salah satu anggota pasukan yang juga marasakan beratnya operasi tersebut. Dia bertahan hidup dengan merebus dan memakan sepatu PDL miliknya yang terbuat dari kulit. Sarjono berpikir, kulit hewan yang digunakan sebagai bahan sepatunya akan bisa dicerna.

    Sudah sangat kelaparan dan sama sekali tak ada makanan, membuat Sarjono tidak mempunyai pilihan lain. Sarjono pun dapat bertahan hidup hingga akhir misinya dan menceritakan pangalamannya.


    Rata-rata anggota pasukan mendarat di puncak pohon yang tingginya lebih dari 50 meter. Mereka menggantung di pohon dan kesulitan mencapai tanah, tapi setiap pasukan membawa tali yang panjangnya 30 meter. Mereka jatuh tersebar sehingga kekuatan pun terpencar dari pasukan induk.

    Mereka juga sadar penduduk di Irian Barat kebanyakan sudah dibina Belanda. Setiap ada tentara Indonesia, rakyat akan melapor pada tentara. Pertolongan dari rakyat nyaris tak bisa diharapkan.

    Masalah makanan pun jadi hal utama. Di belantara Papua sangat jarang ada tumbuhan atau makanan bisa dimakan.

    Pasukan Indonesia sering kelaparan berhari-hari. Jika berpapasan dengan penduduk yang menjanjikan makanan, mereka sudah tak percaya. Pasti di tempat yang ditunjuk sudah ada tentara Belanda yang menunggu.

    Salah satu kisah miris soal beratnya operasi tersebut, Sarjono, salah satu anggota pasukan, harus bertahan hidup dengan merebus dan memakan sepatu PDLnya yang terbuat dari kulit.


    Dia berfikir kulit hewan yang dipakai untuk bahan sepatunya akan bisa dicerna. Hal itu dilakukannya karena sudah sangat kelaparan dan sama sekali tak ada makanan. Sarjono pun dapat bertahan hidup hingga akhir misinya dan menceritakan pengalamanannya.



    Sumber: riauonline.co.id
     
  2. wandasa

    wandasa New Member

    ini baru pejuang sejati
    Baca juga berita menarik lainnya :
     
  3. Indah75

    Indah75 Active Member

    perjuangan yang tak kan terlupakan......semangat yang membara demi bangsa dan tanah air indonesia.
     

Share This Page