Homo Erectus Tertua Dunia Ditemukan di Sragen Jawa Tengah

Discussion in 'Sejarah' started by semifinal, Apr 21, 2016.

  1. semifinal

    semifinal Member

    [​IMG]
    Penemuan spektakuler fosil manusia purba telah ditemukan seorang pria bernama Setu Wiryorejo (56), yang kini fosil itu menjadi milik Balai Pelestarian Situs Manusia Purba, Sangiran ini berlokasi di Sungau Bojong di Desa Manyarejo, Kecamatan Plupuh, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah.

    Fosil tengkorak Homo Erectus yang ditemukan, tampak lebih kecil jika dibandingkan dengan tengkorak Homo Sapien (manusia modern) pada zaman ini. Setelah diteliti oleh ahli Paleoantropologi, Dr Harry Widianto, fosil tengkorak Homo Erectus ini merupakan yang paling tua, yang hidup sekitar 1,5 juta hingga 1 juta tahun yang lalu.

    Untuk ukuran Homo Erectus memiliki panjang 14 cm, lebar 12 cm dan tinggi 10 cm. Sedangkan Homo Sapien memiliki ukuran panjang 18 cm, lebar 14 cm dan tinggi 10 cm.

    Homo Erectus Arkaik, Jenis Homo Erectus Tertua


    Menurut ahli Paleoantropologi, Dr Harry Widianto, indikasi bahwa temuan fosil di Sungai Bojong, Sangiran, itu merupakan fragmen tengkorak Homo erectus arkaik bersifat sangat kuat. Beberapa hal yang menguatkan antara lain lempung hitam yang melekat pada fosil dan morfologi fragmen tengkorak tersebut.

    Menurut Harry, dari lempung hitam yang melekat pada fosil, kita mengetahui fosil berasal dari Formasi Pucangan (lapisan endapan lempung hitam periode 1,8 juta- 900.000 tahun lalu).

    [​IMG]

    Homo erectus arkaik berada pada lapisan Pucangan bagian atas, sekitar 1,5 juta tahun lalu. Kemudian, dari sisi konstruksi morfologi, ukuran tengkorak bagian atas dan bawahnya pendek dengan volume otak hanya 870 cc.

    Artinya, volume otak Homo erectus arkaik ini jauh lebih kecil ketimbang otak manusia modern (1.200-1.400 cc) dan sedikit lebih besar daripada volume otak kera (600 cc).

    Jika dibandingkan dengan volume otak jenis Homo erectus lainnya, Homo erectus arkaik memiliki volume otak paling kecil.

    Selain bervolume otak kecil, tulang tengkorak Homo erectus arkaik itu juga memiliki ketebalan yang signifikan, sekitar 1 sentimeter.

    Penebalan terdapat pada bagian kanan dan kiri tengkorak yang melingkar ke belakang. Ciri ini persis dengan fosil Sangiran-4 (S4) temuan GHR von Koenigswald pada 1936 yang juga berasal dari Formasi Pucangan. Tipe ini merupakan homo erectus yang paling tua yang hidup 1,5 juta hingga 1 juta tahun yang lalu.

    Ditemukan Oleh Pencari Fosil Amatir

    Setu Wiryorejo (56) menemukan fosil tengkorak manusia itu saat ia sedang mencari tulang purbakala di Sungai Bojong, Desa Manyarejo, Kecamatan Plupuh, Kabupaten Sragen, Sabtu, 6 Februari 2016 lalu. Namun ia tak menyangka jika fosil yang ia temukan tersebut tergolong langka dan spektakuler.

    “Saya sering nyari tulang fosil di sungai atau longsoran kalau musim hujan seperti ini. Kalau dapet ya saya bersihkan dan saya serahkan ke balai (Balai Pelestarian Situs Manusia Purba). Sangiran,” ujar Setu di rumahnya.

    Meski tahu bahwa temuan tersebut merupakan tengkorak manusia purba, Setu tak menyangka jika atau tengkorak itu merupakan jenis Homo Erectus Arkaik.

    [​IMG]

    Setu Wiryorejo suka mencari fosil dan mengaku bahwa ia sudah sering menemukan beberapa fosil ketika sedang mencarinya terutama di aliran sungai atau longsoran.

    Penemuan fosil fragmen tengkorak di Sangiran, Sragen, Jawa Tengah, Februari lalu tersebut, melengkapi koleksi Homo erectus arkaik atau Homo erectus tertua yang jumlahnya baru sekitar 20 individu. Temuan itu menegaskan Indonesia sebagai “ladang subur” bagi riset manusia purba.

    Direktur Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Harry Widianto mengatakan, selama ini, penemuan fosil Homo erectus arkaik atau manusia berjalan tegak yang hidup pada 1,5 juta-1 juta tahun lalu tergolong sedikit.

    Penemuan Homo erectus arkaik terakhir terjadi pada 2007 di Glagahombo, Sangiran. Pada masa lalu, fosil tengkorak Homo erectus arkaik ini pernah ditemukan di daerah Mojokerto, maka dinamakan “Homo erectus arkaik (modjokertensis)”.

    [​IMG]

    Proses Penanggalan Libatkan Peneliti Perancis

    Berdasarkan periode kehidupannya, terdapat tiga jenis Homo erectus, yaitu Homo erectus arkaik yang hidup 1,5 juta-1 juta tahun lalu; Homo erectus tipik yang hidup 730.000-300.000 tahun lalu; dan Homo erectus progresif yang hidup pada 200.000- 100.000 tahun lalu.

    Homo erectus arkaik hidup saat lingkungan Sangiran masih berupa rawa-rawa (1,8 juta- 900.000 tahun lalu), yang ditandai dengan lapisan tanah lempung berwarna hitam atau disebut Formasi Pucangan.

    [​IMG]

    Pada masa itu, Homo erectus arkaik tinggal di pinggir sungai-sungai purba yang mengalir di tengah-tengah rawa.

    “Artefak peninggalan Homo erectus juga ditemukan di endapan sungai purba, yakni berupa alat-alat dari serpihan batuan kalsedon,” ucap Harry.

    Para peneliti menemukan pula fosil-fosil fauna yang hidup berdampingan atau semasa dengan Homo erectus arkaik. Jenis fauna yang ditemukan memang belum beragam. Beberapa di antaranya ialah kuda nil purba, kura-kura raksasa, dan sejumlah jenis hewan rusa.

    Penemuan fosil fauna menjadi lebih beragam pada periode kehidupan Homo erectus tipik (730.000-300.000 tahun lalu). Pada masa tersebut, lingkungan Sangiran telah berubah menjadi hutan terbuka.

    [​IMG]

    Sering temukan fosil, Setu Wiryorejo peroleh 7 sertifikat

    Pada 6 Februari 2016 itu, Setu Wiryorejo, warga Grogolan Manyarejo, Sragen, menemukan fosil atap tengkorak belakang manusia purba. Tak jarang temuan fosil oleh Setu Wiryorejo yang ia serahkan tersebut dihargai penghargaan berupa sertifikat.

    Setu mengaku hingga saat ini ia sudah menerima 7 sertifikat, yakni di bulan Desember tahun 2011, Maret 2012, Desember 2012, Mei 2013, Februari, Mei dan Oktober dan tahun 2015. Namun imbalan berupa uang belum ia terima.

    Setu Wiryorejo mengaku, dulu pada tahun 2003 ia pernah diberi Rp 300 ribu atas temuan fosilnyua, sedangkan yang lainnya diberi sertifikat. Ia menyatakan, bahwa hatinya ikhlas saja jika diberikan sertifikat karena fosil yang ia temukan adalah barang bersejarah, milik negara, ujarnya.

    Setu juga mengaku tak pernah berniat menjual benda purbakala temuannya ke pihak swasta, meskipun bisa saja ditawari uang banyak. Pasalnya di situs Sangiran beberapa tahun lalu marak jual beli benda purbakala yang dilakukan oleh wisatawan asing. Namun praktek tersebut terbongkar oleh kepolisian setempat.

    “Belum ada sih yang menawari uang atau mau dibeli. Saya tidak mau, karena ini benda langka bersejarah, bukan milik saya. Ini kekayaan negara,” ucapnya.

    Sementara itu, Kementerian Pendidikan Republik Indonesia melalui kepala Balai Pelestarian Situs Manusia Purba, Sangiran, Sukronedi, berjanji untuk segera memberikan penghargaan kepada Setu Wiryorejo (56), serta penemu fosil lainnya.

    Penghargaan berupa sertifikat berikan, dan Dirjen serta Bupati yang menyerahkan. Selain itu pihak pemerintah juga menyerahkan sejumlah uang sekitar Rp 20 juta, ujar Sukronedi.


    Sumber: https://indocropcircles.wordpress.com
     
  2. adibunga

    adibunga Member

    Baru tau nih....masuk pelajaran di sekolah harusnya nih
     
  3. poenx

    poenx New Member

    Weeeeeeeeh masih percaya aja ni sm teori darwin.
     
  4. dombadu

    dombadu Member

    Baca juga berita menarik lainnya :
     
    Last edited: Jun 20, 2017

Share This Page