Mengungkap Misteri Pohon Pemangsa Manusia di Madagaskar

Discussion in 'Misteri' started by indraone, Sep 8, 2016.

  1. indraone

    indraone Well-Known Member

    [​IMG]

    Di era kolonial 1978, ketika orang-orang yang tinggal di daerah terpencil, melihat dunia ini ternyata begitu ganjil, kemudian mereka menyampaikan segala sesuatu yang disaksikan dan didengarnya itu ke London, Brussels dan Berlin.

    Mereka menceritakan tentang daratan yang jauh, kota yang hilang dan binatang yang tidak pernah ditemui di kebun binatang. Tentu saja, cerita-cerita yang mereka gambarkan itu berlebihan, namun, hutan liar di Madagaskar dan legenda tentangnya itu justru sulit untuk dilupakan.

    Madagaskar sekarang masih berupa hutan belantara, bagi dunia luar masih ada beberapa daerah yang belum dimanfaatkan. Sebanyak 90% mikroorganisme tetap/normal yang tumbuh di sini tidak pernah bisa temui di belahan dunia lainnya.

    Carl Liche, seorang petualang Jerman yang masuk ke pedalaman hutan bersama dengan suku Mkodo tiba-tiba menghentikan langkah kakinya saat tiba di sebuah tanah lapang hutan tersebut.


    Pemandangan yang tampak di depannya itu boleh dikata belum pernah disaksikan oleh setiap orang kulit putih. Di atas sebatang pohon setinggi delapan kaki, memiliki penampilan seperti pohon nanas, yang ditumbuhi dengan daun-daunnya yang lebat itu menjuntai dari ujung pohon hingga ke permukaan tanah. Sulur sepanjang tujuh kaki itu membentang ke segala arah.


    Melihat itu, timbul firasat buruk dalam benak Liche, kemudian ia berbicara dengan asisten Inggris-nya, dan melihat penduduk setempat menjadi sangat bersemangat. Mereka mendorong seorang wanita suku Mkodo ke pohon besar itu, dan mulai berdoa.
    Setelah wanita itu meminum suatu cairan yang merembes dari pohon pemangsa, ia menjadi “tak terkendali dan mulai berteriak histeris!”


    Nyanyian persembahan terus berlangsung, sementara pohon pemangsa manusia yang awalnya tak bergeming seperti tak bernyawa itu tiba-tiba hidup.

    Sulur seperti ular itu dengan cepat menjulur, melilit leher dan tubuh mangsanya hingga sesak napas. Tidak lama kemudian jeritan wanita itu pun semakin lemah dan lemah, hingga akhirnya lenyap sama sekali. (Daun) pohon itu membungkusnya rapat-rapat sampai tidak menyisakan celah setitikpun. 10 hari kemudian, Liche kembali ke tempat itu. Namun, yang ia saksikan hanya setumpukan tulang belulang di bawah pohon.

    Ada pun cerita tentang “pohon pemakan manusia” di Madagaskar ini, adalah sebuah cerita yang direkayasa sejumlah orang dan digembar-gemborkan semasa colonial. Cerita ini paling awal dapat ditemui di South Australian Register, dan jelas artikel ini ditulis oleh petualang Jerman, Carl Liche pada 1881.

    Artikel tersebut seketika menyebar dengan cepat setelah dipublikasikan. Pada 1887, dalam laporannya diklaim telah menemukan pohon sejenis di Amerika Tengah yang disebut Ya-Te-Veo. Satu abad berikutnya, cerita tentang tanaman atau pohon pemangsa manusia terus bermunculan dalam mitos dan film.

    Dokumen grafis tersebut telah mengilhami beberapa orang untuk melakukan ekspedisi ke Madagaskar demi mencari pohon mengerikan itu. Salah satunya ekspedisi yang dilakukan oleh Chase Salmon Osborne, Gubernur Michigan 1911-1913, yang pergi ke hutan-hutan Madagaskar untuk mencari pohon pemakan manusia.

    Meskipun ia tidak berhasil dalam usahanya untuk menemukan pohon itu, namun ia menemukan dua orang pribumi dan misionaris Barat yang mengaku telah melihat pohon itu dan mengatakan pohon itu benar adanya. Keberadaan pohon itu menjadi lebih terkenal lagi saat kemudian Chase Osborne menerbitkan bukunya, Madagascar, Land of the Man-eating Tree.

    Ekspedisi lain dilakukan pada 1998. Kali ini oleh seorang penjelajah dari ceko bernama Ivan Mackerle. Ekspedisi ini juga gagal dalam menemukan pohon itu, tapi selama perjalanannya, Mackerle belajar dari pohon karnivora lainnya di pulau itu yang disebut sebagai Kumanga, Si Pohon Pembunuh. Penduduk pribumi mengklaim bahwa pohon ini ditemukan hanya pada satu bagian dari pulau dan dikatakan memiliki bunga yang memancarkan gas sangat beracun. Penduduk asli mengaku tahu di mana pohon seperti itu dan memandu Mackerle ke lokasi tanaman tersebut.

    Selama perjalanan, para anggota ekspedisi yang khawatir akan gas beracun dari tanaman itu memaksa mereka untuk benar-benar mengenakan masker gas. Tapi ketika mereka tiba dilokasi yang diduga sebagai pohon Kumanga, mereka tidak menemukan gas beracun yang dimuntahkan lewat bunganya, tetapi menemukan beberapa kerangka hewan di bawah pohon itu. Tidak ada bunga yang mekar, penduduk asli menjelaskan, bahwa ini adalah musim dimana bunga pohon itu tidak dalam keadaan mekar.

    Mackerle juga menemukan sebuah kisah tentang seorang mantan perwira tentara Inggris yang diduga mengambil foto-foto di pulau itu dimana sebuah pohon yang dipenuhi kerangka binatang berserakan dibawahnya. Apakah pohon ini adalah salah satu dari pohon karnivora tersebut, atau sesuatu yang baru? Hal ini diketahui dari bukti foto yang ada, dan sepertinya mereka memang pernah ada. Namun, pertanyaannya adalah semua yang dikatakan Liche itu mustahil benar adanya.

    [​IMG]

    Pada abad ke-20, para peneliti melakukan penyelidikan atas hal itu, hasilnya tidak ditemukan bukti apa pun untuk membuktikan bahwa cerita Liche itu memang benar, atau sosok petualang bernama Carl Liche ini memang ada. Mereka yang melakukan penyelidikan atas objek misterius itu disebut cryptozoologists, dan mereka mudah menjadi terkenal karena pecaya pada hal yang aneh-aneh!

    Tanaman karnivora ada di berbagai belahan di dunia, sebagian besar tersebar di daerah yang tidak adanya sumber nutrisi yang lebih tradisional. Ada orang yang menemukan tanaman droseraceae dengan daunnya yang bundar di rawa-rawa di Irlandia.

    Rawa memiliki sifat mengalir bebas, artinya sebagian besar nutrisi akan hilang bersama aliran air. Dan untuk menyesuaikan lingkungan seperti ini, droseraceae harus bergantung pada evolusi, yakni memanfaatkan sumber nutrisi yang berbeda.

    Dengan memanfaatkan nektarnya yang manis dan warnanya yang cemerlang, droseraceae (keluarga tumbuhan berbunga-tanaman karnivora) menarik perhatian serangga terperangkap di atas sungut daunnya yang menonjol. Droseraceae ini kemudian melekatkan serangga yang terperangkap di atas sungutnya dengan cairan perekat, setelah itu masing-masing sungutnya mulai menggulung rapat serangga ini.


    Selanjutnya, droseraceae mulai mengurai jaringan lunak serangga menggunakan cairan percernanya. Beberapa hari kemudian, peti mati miniatur (sungut) ini dibuka lagi, membuang sisa-sisanya.


    Gambaran cerita ini sekilas terdengar mirip dengan cerita tentang pohon pemangsa manusia. Kita terbiasa berpandangan bahwa tanaman itu tidak bisa bergerak, juga tidak berbahaya, namun, ada beberapa tanaman tidak seperti ini. Orang-orang terpesona dengan cerita Liche tentang pohon pemangsa manusia, dan ini sepenuhnya menjelaskan bahwa kita merasa sangat takut dengan pandangan ini.


    Justru karena inilah, kisah tentang pohon pemakan manusia ini baru bisa diturunkan secara turun temurun.


    Sumber: Erabaru
     
  2. kiyanas

    kiyanas New Member

  3. adirakreditmobil

    adirakreditmobil kredit mobil bekas

    hampir sama dengan tanaman bunga raflesia yah, tapi hanya makan serangga saja
    kredit mobil bekas
     
  4. Indah75

    Indah75 Well-Known Member

    Sekilas bentuk batang nya seperti mulut. kalau menurut seritanya mengerikan juga ya. Pohon bisa makan manusia. Iiiihhh serem.
     
  5. burusa

    burusa New Member

    Baca juga berita menarik lainnya :
     

Share This Page