Pancasila, Freemason, dan Kontroversi Lain yang Mewarnainya

Discussion in 'Sejarah' started by indraone, Jun 1, 2016.

  1. indraone

    indraone Well-Known Member

    [​IMG]
    Setiap 1 Juni masyarakat Indonesia mengenalnya sebagai hari kelahiran Pancasila. Sebuah pandangan yang menjadi dasar Negara hingga kini sejak Indonesia mendapatkan kedaulatannya. Dalam perjalannya, Pancasila dipercaya menjadi alat pemersatu bangsa dengan lima sila yang memayungi semua golongan, suku, agama, dan ras di nusantara.

    71 tahun yang lalu Presiden Sukarno untuk kali pertama merumuskan Pancasila dalam pidatonya di depan anggota Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPK). Pidato ini pada awalnya disampaikan oleh Soekarno secara aklamasi tanpa judul dan baru mendapat sebutan “Lahirnya Pancasila” oleh mantan Ketua BPUPK Dr. Radjiman Wedyodiningrat.

    Pancasila memang menjadi warisan yang sakral dari para pendiri bangsa untuk generasi sekarang dan di masa depan. Meski kesakralan itu lantas tak melepaskannya dari kontroversi sejarah. Salah satunya ketika Pancasila dikaitkan dengan ajaran Freemason. Pada 21 Desember 1949 pengurus provinsial Hindia Belanda mengirimkan telegram pada Sukarno yang saat itu diangkat sebagai Presiden RIS.

    [​IMG]

    Pimpinan Freemason menganggap bahwa salah satu sila dalam Pancasila yakni sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab sejalan dengan ajaran Freemason mengenai pelayanan terhadap kemanusiaan. “Berhubungan dengan pengangkatan Yang Mulia sebagai presiden pertama Republik Indonesia Serikat, Freemason dengan segala hormat mengucapkan selamat kepada Yang Mulia, dan menegaskan kepada Anda bahwa tujuan-tujuan RIS untuk melayani kemanusiaan, seluruhnya mendapat resonansi dalam asas-asas Freemason.”

    Paul W Van der Veur dalam buku Freemasonry di Indonesia menjelaskan bahwa Freemasonry modern merupakan perkumpulan asal Eropa pada awal abad ke-18, namun akarnya merujuk kepada serikat tukang batu abad pertengahan dan pada masa silam yang dipenuhi mitos. Perubahan menjadi Freemasonry modern terjadi saat keberadaan loji-loji tukang batu di Inggris dan Skotlandia diakui sebagai tuan-tuan “Mason baik” yang terpandang dalam masyarakat. Ini seperti peningkatan kasta dan status sosial.

    Freemason hadir di Hindia Belanda pada 1762 sejak didirikannya loji Mason pertama di Batavia, La Choisie. Pembangunan ini diprakarsai oleh JCM Radermacher. Ayahnya Suhu Agung pertama di Belanda pada 1730-an. Aktivitas Mason menyebar ke Semarang namun baru pada pertengahan abad ke-19, pengangkatan anggota Freemason Indonesia dan Tionghoa dilakukan. Abdul Rachman, cicit Sultan Pontianak adalah anggota Freemason pertama yang diangkat pada 1844. Dari suku Jawa, yang pertama menjadi anggota adalah Raden Panjie Onggowidjojo,ondercollecteur di Sidoarjo.

    Meskipun mengklaim sama dengan Pancasila, pada akhirnya organisasi ini harus menemui “ajal” ketika Sukarno secara resmi melarang keberadaan mereka di Indonesia melalui UU Komando Militer Tinggi (lihat Keppres No. 264/1962). Pertimbangannya bahwa Freemasonry memiliki dasar dan sumber yang berasal dari luar Indonesia dan tidak selaras dengan kepribadian nasional.

    [​IMG]

    Selain dengan Freemason, Pancasila pun pernah mengalami benturan dengan paham lain seperti dari kalangan Islam dan Komunis. Dua kelompok yang menggunakan ideologi sama-sama ingin menggeser Pancasila sebagai dasar negara dan menggantinya dengan ideologi mereka. Pertarungan politik ini berlangsung secara masif meski dalam taraf perang gagasan.


    Dari kelompok komunis, DN Aidit yang pernah menjadi ketua umum PKI pernah mengelak soal tuduhan bahwa partainya ingin menggeser Pancasila sebagai dasar negara. Menurut Aidit, PKI menerima Pancasila sebagai keseluruhan. Hanya dengan menerima Pancasila sebagai keseluruhan, Pancasila dapat berfungsi sebagai alat pemersatu.


    PKI justru menentang pemretelan terhadap Pancasila. Bagi PKI, semua sila sama pentingnya. “Kami menerima sila Ketuhanan Yang Maha Esa dalam rangka Pancasila sebagai satu-kesatuan. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa mencerminkan kenyataan bahwa jumlah terbanyak dari bangsa Indonesia menganut agama yang monoteis (bertuhan satu),” ujar Aidit dalam sebuah arsip wawancara di majalah Pembina pada 12 Agustus 1964.

    Hampir 71 tahun Indonesia berdiri sebagai negara yang berdaulat dan selama itu pula Pancasila belum bergeser dari tempatnya yang sekarang. Pancasila bagaikan batu karang yang tetap kokoh meski diterjang ombak. Namun ia juga bisa jadi benda mati seandainya kita sebagai generasi bangsa tak mampu melaksanakan amanat kelima sila dalam Pancasila.



    Sumber
     
    Panji J. Kusuma likes this.
  2. tukangrujak

    tukangrujak Active Member

    Waduh,...mudah2n ga ada hubungannya....
     
  3. dombadu

    dombadu Member

    Baca juga berita menarik lainnya :
     

Share This Page