Sejarah Lokalisasi Saritem Bandung dari Masa ke Masa

Discussion in 'Bandung' started by dengro, Jun 22, 2017.

  1. dengro

    dengro New Member

    [​IMG]
    Cewek-cewek PSK menjajakan diri di lokalisasi Saritem Bandung

    BANDUNG – Saritem adalah sebuah lokalisasi yang terletak di Kota Bandung, Jawa Barat. Lokalisasi ini terletak di dekat stasiun kereta. Tepatnya di antara jalan Astana Anyar dan Gardu Jati.

    Saritem tak asing lagi bagi warga Bandung. Saritem secara tidak langsung sudah menjadi trademark untuk lokasi wanita penajaj seks komersial.

    Saritem lazimnya seperti kota-kota lain di Indonesia seperti Surabaya dengan Dolly, Yogyakarta dengan Sarkem, Makassar dengan Jalan Nusantara, Bogor dengan Gang Semen, dan kota-kota besar lainnya yang memiliki objek wisata syahwat.

    Saritem dijadikan lokalisasi sejak zaman Belanda. Para PSK kala itu berjejer, dipajang dengan menggunakan kebaya di setiap rumah. Kebanyakan PSK tersebut didatangkan dari desa-desa dengan cara ditipu atau dipaksa, meski ada pula yang menawarkan diri secara terang-terangan.

    Saritem awalnya didirikan oleh orang-orang Belanda yang tinggal di tanah Priangan ini. Saritem sudah ada sekitar tahun 1838, yang berarti sudah 177 tahun keberadaan lokalisasi ini.

    [​IMG]
    Penunjuk arah lokalisasi Saritem Bandung

    Saritem berasal dari nama gadis belia pedagang jamu, asal kota kembang Bandung bernama Saritem. Saritem memang berparas cantik dan berkulit putih. Pesona Saritem ternyata memikat seorang pembesar Belanda kala itu.

    Saritem kemudian dijadikan gundiknya. Sejak saat itulah gadis Saritem menjadi ‘Nyonya Belanda’. Namanya pun berganti menjadi Nyi Saritem.

    Beberapa tahun kemudian, Saritem disuruh Kompeni Belanda tersebut mencari wanita untuk dijadikan teman kencan serdadu Belanda yang masih lajang.

    Kala itu, daerah Gardujati dijadikan sebagai markas militer serdadu Belanda. Untuk kegiatan itu Saritem difasilitasi sebuah rumah yang lumayan besar. Lambat laun wanita-wanita cantik yang dikumpulkan Saritem bertambah banyak.

    Saritem mengumpulkan perempuan-perempuan dari berbagai daerah dari Bandung dan sekitarnya, seperti Cianjur, Sumedang, Garut, dan Indramayu.

    Sejak itu nama Saritem mulai kesohor. Yang datang ke rumah yang dikelolanya pun bertambah banyak. Tidak hanya dari kalangan serdadu yang lajang, tapi serdadu lanjut usia pun juga berdatangan ke tempat Saritem.

    Beberapa warga pribumi juga ada yang datang. Hal ini membuat teman-teman Saritem yang juga menjadi gundik tentara Belanda tertarik membuka usaha serupa. Mereka rata-rata perempuan bekas binaan Saritem.

    [​IMG]
    Lokalisasi Saritem Bandung

    Sejak perang kemerdekaan 1945 markas militer serdadu Belanda berhasil dikuasai pejuang Republik Indonesia. Namun, bisnis Saritem tidak tersentuh.

    Meski Saritem telah tiada, toh tetap saja masyarakat mengenal lokasi itu dengan sebutan Saritem. Selanjutnya rumah-rumah penduduk pun berdiri di sekitar lokasi Saritem.

    Lokasi Saritem berada di tengah-tengah pemukiman penduduk. Inilah yang membuat warga kala itu tidak menggubris keberadaan lokalisasi Saritem.

    Pasalnya, lokalisasi itu telah berdiri lebih awal dibanding pemukiman warga. Bahkan kala itu banyak warga dari berbagai daerah membuka pemukiman di sekitar lokalisasi untuk mengais rupiah dari bisnis Saritem ini.

    Banyak versi menunjukkan asal mula nama Saritem. Ada yang bilang kalau Saritem itu nama seorang tukang jamu berkulit hitam manis yang bernama Sari. Ada juga yang menyebutkan, nama Saritem diambil dari nama seorang penjaga warung remang-remang yang nongkrong di pinggir jalan.

    Memang, tak ada yang mengetahui secara pasti kapan Saritem berdiri. Namun, menurut catatan sejarah yang ditulis seorang peneliti barat, Saritem telah ada sejak dibangunnya jaringan rel kereta api sampai di Kota Bandung, awal 1800-an.

    Lokasinya yang berdekatan dengan stasiun kereta api yang kini dinamakan Stasiun Bandung itu menambah persyaratan bagi Saritem sebagai lokasi melting pot (tempat berbaurnya masyarakat yang berbeda latar belakang dan asalnya).

    [​IMG]
    Pondok pesantren menjadi pintu gerbang lokalisasi Saritem Bandung

    Saritem memang sudah bukan lokalisasi resmi lagi. Bahkan, di gang ini sudah dibangun pesantren. Namun ternyata pembangunan pesantren ini pun tidak mampu menghalangi kegiatan bisnis esek-esek di tempat.

    Membubarkan atau meniadakan bisnis sex di Gang Saritem memang sangat sulit. Selain karena sudah terkenal se-Indonesia bahkan sampai ke luar negeri. Gilanya lagi, ada acara lelang segala di Saritem. Bukan lelang barang lho, tapi lelang “keperawanan”. Benar atau tidaknya masih harus banyak mencari informasi soal bisinis lelang perawan ini.

    Sejak dahulu, Pemkot Bandung berkali-kali mengumumkan akan menutup Saritem, tapi tak pernah berhasil. Di depan jalan ini didirikan pesantren Dar Al Taubah, yang ironisnya menjadi pintu gerbang kompleks lokalisasi ini.

    Pemkot Bandung kemudian membuat Perda No. 11/1995, yang efektif mulai berlaku November 2006. Isinya, semua kompleks lokalisasi akan dihapuskan. Semua kegiatan lokalisasi Saritem akan diakhiri pada 17 April 2007 pukul 24.00, dan Saritem akan ditutup pada 18 April 2007 pukul 09.00 WIB.

    Namun, hingga hari ini, bisnis esek-esek di tempat itu masih marak. Buktinya, sekitar 200 PSK ditangkap polisi di lokalisasi Saritem, Rabu malam Sebanyak 400 rumah masih dijadikan sarang prostitusi.

    “Seluruh penampungan dan kamar-kamar di sini (lokalisasi Saritem) kita razia. Kita menerjunkan 620 personel,” ujar Kapolrestabes Bandung, Kombes Pol AR Yoyol.

    Foto-foto kengkapnya >>
     
  2. Indah75

    Indah75 Well-Known Member

    Ternyata asal muasalnya begitu ya? Ternyata sudah sejak jaman belanda. Dah lamaaaaa sekali.
     

Share This Page