|
#1
|
||||
|
||||
|
VIVAnews - PT Pertamina siap melakukan keputusan yang diambil pemerintah terkait pembatasan bahan bakar minyak, kendati pelaksaan pembatasan itu tinggal dua pekan, atau tepatnya awal Oktober mendatang.
Menurut juru bicara PT Pertamina M Harun, saat ini belum ada keputusan resmi dari Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) opsi mana yang dipilih. Namun, Harun mengatakan, yang paling memungkinkan justru menerapkan model kluster wilayah. Misalnya untuk kluster wilayah tengah kota, premium dihilangkan dan diganti dengan Pertamax, "Atau premium dikurangi, dan Pertamax diperbanyak," katanya kepada VIVAnews, Kamis 16 September 2010. Sistem kluster itu akan diperhitungkan dalam sisi permintaan, wilayah kota, apakah termasuk daerah menengah, atau atas. "Misalnya Menteng, Pondok Indah, kita melihat dari sisi ekonomi masyarakat, sisi pemakaian non premium seberapa besar," tambahnya. Pertamina saat ini tengah melakukan pemetaan terhadap posisi SPBU, yang dikaitkan juga letak dan permintaan masyarakat. Hal itu akan dibicarakan dengan BPH Migas. "Karena kebijakan finalnya kan dengan BPH Migas, Pertamina hanya selaku eksekutor," ujarnya. Namun jika opsi pembatasan BBM berdasarkan tahun produksi 2005, secara teknis Pertamina juga tidak akan kesulitan dengan hal tersebut. Caranya, Pertamina akan mengganti nozzle (mulut selang) dengan ukuran yang lebih besar untuk premium, sementara untuk Pertamax tetap. Hal itu karena mobil baru, ukuran leher tangki lebih besar dibanding ukuran leher tangki mobil lama. "Ini lebih mungkin dilakukan dibandingkan petugas SPBU menanyakan STNK konsumen," katanya. Menurut dia, apa yang disampaikan Menko Perekonomian Hatta Rajasa adalah imbauan bagi pemilik mobil produksi 2005 ke atas agar membeli BBM non subsidi, seperti Pertamax. Sebelumnya, Hatta Rajasa mengatakan bahwa studi yang dilakukan Universitas Indonesia menunjukkan bahwa pemilik kendaraan pribadi tahun 2005 ke atas tergolong masyarakat cukup mampu membeli BBM non subsidi. (hs) • VIVAnews |
|
#2
|
||||
|
||||
|
Menurut agan-agan gimana ya
![]() kalo ane sih yang ada kalo SPBU tertentu di batasi pemasukan untuk premium maka SPBU yang memiliki pemasukan premium terbanyak akan penuh oleh pengguna premium... ![]() Efektif kah cara ini
|
|
#3
|
||||
|
||||
|
Quote:
di sini SPBU premium subsidi lebih ramai dari pada SPBU non Subsidi bahkan truk2 besar jg ikut antri padahal SPBUnya di pinggir jalan kecil..alhasil nyebabin macet banget.... ![]()
__________________
![]() |
|
#4
|
||||
|
||||
|
Waduuuhh,,,,
![]() gak akan efektif ini gan ![]() betul kata agan Jika ada SPBU tertentu yang di kurangi jatah premium maka para konsumen premium akan mencari SPBU yang memiliki jatah premium yang banyak...
|
|
#5
|
||||
|
||||
![]() Quote:
waduuuhhh... ![]() makin gak efektif berarti ya dice
|
|
#6
|
||||
|
||||
|
bener banget....SPBU non subsidi tetep aja sepi....
__________________
![]() |
|
#7
|
||||
|
||||
|
emang apa bedanya SPBU non subsidi sama SPBU subsidi
|
|
#8
|
||||
|
||||
|
yang non subsidi kan lebih mahal om.....
__________________
![]() |
|
#9
|
||||
|
||||
|
ane yakin bakalan ribet tuch gan..........
|
|
#10
|
||||
|
||||
|
ni pejimana c,hahhaha....
kyak premium dgn pertamax... hayu pilih yg mana.. |
![]() |
| Bookmarks |
| Thread Tools | |
| Display Modes | |
|
|