|
#1
|
||||
|
||||
![]() Impian mengikuti Konferensi Simulasi PBB di Harvard University, Boston, United State, bakal tinggal kenangan. Setelah lolos di ajang bergengsi itu, beberapa mahasiswa Jurusan Bahasa Inggris Universitas Negeri Padang (UNP) terbentur biaya menunju negeri Paman Sam itu. Deny Setiawan, Anggraini, Afnesha Noveriana, Widya Febrina, Wilda Hidayati, dan Nurul Huda berkesempatan mengasah kemampuan debat dalam konferensi tersebut. Mereka menjadi delegasi yang mewakili Zambia dalam bidang politik, sosial, dan budaya. Konferensi dunia ini digelar 16-19 Februari mendatang. “Ini pertama kali UNP dan Sumbar lolos mengikuti Harvard National Model United Nations (HNMUN). Peluang kita untuk mengenalkan kebudayaan dan pariwisata kita ke mancanegara. Saya ingin orang asing mulai membicarakan Sumatera Barat, tidak melulu menyebut Bali,” kata Deni Setiawan kepada Padang Ekspres di kampus UNP, kemarin. Keberhasilan ini berawal dari diskusi dengan teman-teman debater (sebutan untuk anggota debat, red) nasional. Dari sana mereka pelajari programnya dan mendaftar mengikuti seleksi secara internasional. “Alhamdulillah lolos,” kata Widya menambahkan. Sebelumnya, mereka berhasil meraih prestasi debat tingkat Asia di University College Technology Innovation (UCTI), Bukit Jalil, Malaysia pad April 2011 lalu. Dan mengikuti debat internasional di D’La Salle University, Manila Filipina, awal Januari lalu. Sehingga sudah siap secara mental untuk tampil dalam HNMUN bulan depan. Namun sayang, mimpi tampil mengharumkan nama bangsa melalui konferensi internasional tingkat mahasiswa yang digalang PBB itu terancam batal. Pasalnya, untuk berangkat ke sana, mereka harus didukung dana pihak sponsor. “Sponsor ini yang sulit kita dapat di Padang. Kalau teman-teman di Jawa mereka tidak pusing soal sponsor, tapi kita sulit,” katanya. Maklum saja untuk mengikuti konferensi itu, mereka memerlukan dana sekitar Rp 227 juta untuk tiket pesawat, hotel, dan akomodasi selama mengikuti kegiatan. Sementara dana yang terkumpul baru sekitar Rp 16 juta. “Itu pun sudah habis untuk mengurus visa, dan keperluan lainnya di kedutaan Amerika di Jakarta,” katanya. Ghea berharap betul uluran tangan pihak swasta dan pejabat daerah untuk mendukung pendidikan Sumbar bisa berbicara banyak di tingkat internasional. “Kami ingin Sumbar yang dikenal sebagai penghasil intelektual (pendidikan) di Indonesia, bisa berbicara banyak dan setaraf dengan dunia asing. Kami ingin mewujudkan janji Gubernur menggalakkan mahasiswa Sumbar mendapat beasiswa ke luar negeri,” tekad Geha, panggilan akrab Dia Anggraini. Tetapi, Ghea cs makin galau karena jadwal konferensi tinggal hitungan hari. Impian besar melihat Sumbar sejajar dengan negara lain, perlu dukungan. Berbagai ikhtiar telah dicoba, dengan menyebar proposal. Sayang, bantuan baru sebatas menutupi urusan administrasi keberangkatan. “Kami senang betul kalau Padang Ekspres bisa ikut mencarikan donasi. Donasi bisa diberikan melalui nomor 085265028403 atas nama Ghea atau melalui redaksi Padang Ekspres,” katanya. Delegasi UNP pada konferensi nanti mewakili Negara Zambia. “Setiap peserta tidak boleh mewakili negaranya sendiri, mereka harus menjadi delegasi untuk negara lain, dan kami memilih Zambia,” kata Ghea. Ghea menyebut, Zambia sebuah negara unik di tengah-tengah benua Afrika yang memiliki kekayaan alam, budaya, dan potensi lokal yang perlu mendapat perhatian dunia. Selama ini, sebutnya, Zambia seakan dilupakan kemajuan zaman, sehingga potensi alam, budaya, pariwisata mereka belum bisa dinikmati untuk kesejahteraan masyarakat. “Adalah hak mereka mengangkat derajatnya sama tinggi dengan negara lain. Hak mereka pula mendapatkan pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan hidup yang layak, serta mempertahankan nilai-nilai budaya mereka. Tugas kita membantu mereka mendapatkan haknya. Sama seperti kita Zambia perlu kemerdekaan mendapatkan haknya,” tambah Deny Setiawan. “Akhirnya yang terungkap ke dunia, Zambia Negara miskin dengan tingkat pendidikan rendah, serta tingkat kriminalitas dan penyakit masyarakat tinggi. Melalui konferensi ini kami harap dunia membuka diri untuk Negara model Zambia,” tambah Ghea. Yang paling mencolok, kata Ghea, negara dengan populasi sekitar 12 juta jiwa itu seakan sengaja ditutup aksesnya oleh dunia barat. Penyebabnya, negara ini, salah satu megara dengan kasus HIV/AIDS terbesar di dunia. Sehingga banyak negara melarang warganya melakukan kunjungan ke negara tersebut. “Kami ingin mengubah persepsi itu melalui konferensi ini,” sebut Ghea. Dia optimistis pemikirannya dapat membuka mata dunia terhadap persoalan yang dihadapi Zambia. “Kami sudah pelajari detail negara itu,” kata dara asal Bukittinggi itu. Dia siap mengharumkan nama Indonesia dalam konferensi internasional yang diikuti ribuan mahasiswa dari 35 negara itu. Apalagi, motivasi mereka tengah berada di puncak. Pasalnya, mereka delegasi pertama dari Sumatera yang lolos mengikuti HNMUN. Mereka terpacu menjadi yang terbaik menyaingi delegasi-delegasi dari negara lain, dan pesaing dari dalam negeri sendiri. Yakni delegasi dari Universitas Padjadjaran (Unpad), Universitas Diponegoro (Undip), Universitas Indonesia (UI), dan Institut Teknologi Bandung (ITB). |
![]() |
| Bookmarks |
| Thread Tools | |
| Display Modes | |
|
|