
INDONESIA siap menaturalisasi 6 pemain lagi, yaitu Tonnie Cusell, Stefano Lilipaly, Johny Rudolf van Beukering, dan Sergio van Dijk serta dua pemain asal Nigeria yang saat ini bermain di Liga Indonesia, Greg Nwokolo (Persija) dan Victor Chuckwuekezie Igbonefo (Persipura Jayapura). Sebelumnya, kita telah menaturalisasi striker kelahiran Uruguay yaitu Cristian ’’El Loco’’ Gonzales. Kebijakan naturalisasi sekarang ini jamak dilakukan oleh suatu negara untuk mendongkrak prestasi timnasnya. Bukan hanya negara yang miskin prestasi melainkan juga yang sudah mapan prestasi sepak bolanya.
Benarkah pemain hasil naturalisasi bisa mendongkrak prestasi sebuah timnas? Dalam catatan penulis, baru Singapura yang benar-benar menikmati buah naturalisasi ketika mereka berhasil menjuarai AFF. Filipina juga termasuk yang merasakan sisi positifnya, meskipun belum meraih juara kehadiran beberapa pemain naturalisasi terbukti mendongkrak prestasi timnas. Dulu Filipina hanya dipandang dengan sebelah mata di Asia Tenggara, sekarang menjadi tim yang diperhitungkan. Adapun di level dunia, sepengetahuan penulis belum ada negara yang sukses menjadi juara karena program naturalisasi.
Bagaimana dengan Indonesia? Program naturalisasi di negara kita berawal tatkala PSSI dipimpin Nurdin Halid namun ada kesalahan mendasar. Negara-negara yang menerapkan program ini biasanya hanya menaturalisasi pemain asing yang sudah lama bermain di kompetisi lokal. Kedatangan pemain itu ada yang memang murni direkrut dari klub asal atau menjadi imigran sejak lama. Jika ada pemain berkualitas telah memenuhi batas minimal untuk bisa mendapatkan paspor di sebuah negara, otoritas organisasi sepak bola berinisiatif menawarkan naturalisasi.
Berbeda dari PSSI yang sibuk mencari pemain ke berbagai penjuru dunia, terutama Belanda, untuk membujuk pemain berdarah Indonesia menjadi WNI guna memperkuat timnas. Cara ini secara tidak langsung meremehkan talenta lokal yang jumlahnya jutaan di negeri ini. Bakat lokal terabaikan karena salah kelola, atau bahkan karena tak ada motivasi dari PSSI untuk mengembangkan talenta mereka. Memang ada beberapa pemain asing di kompetisi LSI yang ditawari dinaturalisasi namun cara ini bukan fokus utama.
Program naturalisasi bukanlah prioritas dalam membangun timnas. Prioritas utamanya adalah membuat program pembinaan pemain muda dari berbagai jenjang usia dengan jalan memutar roda kompetisi berkesinambungan sesuai dengan jenjang usia. Naturalisasi hanya menjadi pelengkap. Pilihan pemain yang akan dinaturalisasi pun sebaiknya dibatasi hanya yang bermain di kompetisi divisi teratas Liga Indonesia dan itu pun tidak harus dipaksakan.
Permainan Tim
Jika memang ada pemain asing berkualitas dan telah memenuhi batas minimal untuk bisa menjadi WNI, pada titik ini PSSI dapat menawarkan naturalisasi. Harus kita akui kualitas pemain asing yang merumput di Indonesia tidak lebih baik ketimbang pemain yang bermain di liga-liga lain yang levelnya di atas Indonesia. Jadi, jangan sampai menimbulkan kesan bahwa program naturalisasi itu hanya media untuk menampung pemain asing yang jasanya tidak atau belum dipakai negara asalnya.
Hal ini sesuai dengan tujuan naturalisasi yang hanya program pelengkap, bukan program utama untuk membangun timnas sehingga kualitas pemain yang dipilih pun harus di atas rata-rata pemain lokal. Kita bisa berkaca pada kasus Cristian Gonzalez yang bisa disebut contoh nyata untuk keberhasilan naturalisasi lewat cara ini.
Saat ini, tercatat beberapa nama asing di LSI yang akan dinaturalisasi seperti Greg Nwokolo atau Victor Igbonefo. Seyogianya PSSI menaturalisasi mereka. Di sisi lain juga harus menghentikan perburuan pemain berdarah Indonesia ke luar negeri, dan lebih baik lagi bila PSSI tetap fokus membina pemain muda sambil melengkapinya dengan membuka peluang pemain asing berkualitas yang bermain di LSI untuk menjadi WNI.
Keputusan apakah mereka akan bermain di timnas atau tidak tentu bukan wewenang pengurus PSSI melainkan ada di tangan pelatih timnas yang pasti lebih mengetahui kebutuhan tim secara langsung. Untuk itulah pelatih timnas pun harus berkualitas tinggi. Roh permainan sepak bola adalah permainan tim, artinya sebuah tim tak bisa hanya mengandalkan satu atau dua pemain. (10)