
7 October 2010, 10:40
|
|
|
Kapten Japa, Pejuang yang Luar Biasa
Masyarakat Denpasar memperingati Serangan Umum Kota Denpasar setiap tanggal 11 April yang dipusatkan di Lapangan Puputan Badung. Peristiwa heroik 63 tahun lalu itu bagi kalangan pejuang memiliki nilai historis kepahlawanan. Mereka para pejuang dengan semangat nasionalisme membara berusaha mempertahankan wilayah Kota Denpasar dari penguasaan penjajah. Bukan saja karena mereka langsung terlibat pertempuran melawan pasukan NICA, tapi nilai-nilai perjuangan yang dimiliki oleh masing-masing pejuang masih melekat dalam hati. Tidak sedikit diantaranya berkorban harta benda, lebih dari itu jiwa pun menjadi taruhannya. Salah satu pejuang Kota Denpasar yang tidak dapat dilepaskan dengan peristiwa Serangan Umum Kota Denpasar yang berkecamuk pada 11 April 1946, sosok pejuang Ida Bagus Japa.
Perjalanan kepemimpinan Ida Bagus Japa atau yang lebih sering disebut Kapten Japa selama memimpin pasukan masih melekat dihati sanubari para rekan seperjuangannya. Salah satu rekan seperjuangan Kapten Japa yang masih hidup Ida Bagus Raca bercerita tentang sosok Kapten Japa ditemui (Kamis, 9/4) dikediamannya. Selama perjalanan perjuangan Kapten Japa yang saat ini patungnya dapat dilihat dibundaran Renon ini menurut Ida Bagus Raca beliau sosok pejuang yang luar biasa. Selain itu Wakil Ketua Markas Daerah LVRI Bali ini mengenang sosok Kapten Japa bukan saja sebagai pejuang yang berani, tapi tegas dan memiliki rasa humor yang cukup tinggi pula. Kapten Japa menurut IB. Raca pejuang yang betul-betul memiliki semangat tinggi, tegas dalam memberikan komando terhadap pasukannya. IB Raca ingat sekali saat tentara NICA kira-kira jam dua pagi pada (11/4) 63 tahun lalu, dimana satu jam lebih awal menggempur pejuang Denpasar, di bawah pimpinan Kapten Japa di tangsi Kayumas, beliau dengan semangat membara memerintahkan pasukan untuk melawan gempuran NICA saat itu. “Nah saat pertempuran itulah Kapten Japa gugur terkena timah panas tentara NICA,” kenang IB Raca sembari teriang Kapten Japa merintih kesakitan sebelum akhirnya Kapten Japa menghembuskan nafat terakhir di tangsi Kayumas.
Ditanya kesempatan untuk menolong Kapten Japa, IB Raca yang saat itu berada beberapa meter sebelah pemimpimnya itu mengaku tidak bisa berbuat banyak karena berondongan peluru dari tentara NICA terus dilesatkan. Menurut IB. Raca salah satu rekan seperjuangannya, Ida Bagus Banjar yang juga kebetulan ada disebelahnya hanya sempat mengambil senjata yang dibawa Kapten Japa. Beberapa jam setelah bertemu dengan pejuang lainnya, diutuskanlah Wayan Cenat dan Made Kada untuk menyampaikan berita duka ke Geriya Kedaton. Sehari sebelum pertempuran Serangan Umum Kota Denpasar, Kapten Japa masih memiliki keyakinan kita pejuang Denpasar akan menang. Tapi kenyataan berkata lain, beliau sosok pemimpin yang tegas, pemberani dan memiliki rasa homor yang tinggi diusia yang baru menginjak 21 tahun disaat istrinya hamil besar waktu itu meninggal terkena timah panas pasukan NICA. Setiap memperingati Serangan Umum Kota Denpasar, bagi IB. Raca dan teman seperjuangan yang masih hidup selalu ingat sosok Kapten Japa yang tegas, pemberani dan selalu sempat-sempatnya membuat rekan seperjuangan terhibur dengan lelucon yang diperlihatkan Kapten Japa. (Oka/denpasarkota.go.id)
|