VIVAnews Forums
Welcome to VivaForum!
If this is your first visit, be sure to check out the FAQ by clicking the link above. You may have to register before you can post: click the register link above to proceed. To start viewing messages, select the forum that you want to visit from the selection below.


Reply
 
LinkBack Thread Tools Display Modes
  #1  
Old 2 July 2010, 18:21
de_martinz's Avatar
Silver Member
 
Join Date: May 2010
Location: BelanDa [ Belakang Dapur ]
Posts: 3,974
Thanks: 184
Thanked 58 Times in 28 Posts
de_martinz super top memberde_martinz super top memberde_martinz super top memberde_martinz super top memberde_martinz super top memberde_martinz super top memberde_martinz super top memberde_martinz super top memberde_martinz super top memberde_martinz super top memberde_martinz super top member
Default Raja - raja Sunda

Pada bahasan raja-raja sunda ini adalah keturunan Tarusbawa yang pada umumnya berkedudukan di Pakuan dan untuk membedakannya dari raja-raja Galuh.

Tarusbawa (669 – 723 M) digantikan oleh Sanjaya (723 – 732 M), Suami cucunya karena mertua Sanjaya, Rakeyan Sunda Sembawa, yang menjadi putera mahkota Kerajaan Sunda wafat mendahului Tarusbawa. Setelah Sanjaya pindah ke Medang di Bumi Mataram (732 M), kedudukannya digant1 oleh puteranya , Tamperan (732 –739 M) ia berkuasa di Sunda dan Galuh seperti Sanjaya.

Tamperan alias Barmawijaya digantikan oleh Banga (739 – 766 M) puteranya dari Dewi Pangrenyep dengan gelar Prabu Kertabuana Yasawiguna Aji Mulya. Banga digantikan oleh puteranya yaitu Rakeyan Medang atau Prabu Hulukujang (776 – 783 M). Setelah wafat ia digantikan oleh menantunya yaitu Rakeyan Ujung Kulon atau Prabu Gilingwesi (783 – 795 M). Raja ini adalah kakak Sang Tariwulan putera Manisri (Menantu Manarah). Jadi, cucu Manarah ini mempersunting cucu Banga yang dengan sendirinya akan mempererat hubungan keraton Sunda dengan Galuh.

Prabu Gilingwesi pun digantikan oleh menantunya yaitu Rakeyan Diwus alias Prabu Pucukbumi Darmeswara (795 – 819 M). Permaisurinya adalah puteri Prabu Gilingwesi. Dari perkawinan ini lahir seorang putera yaitu Rakeyan Wuwus yang kelak menggantkan kedudukan ayahnya dengan gelar Prabu Gajah Kulon (819 - 891 M). adiknya, seorang puteri, diperistri oleh Arya Kedaton cucu Sang Tariwulan dari isterinya yang kedua.

Permaisuri Rakeyan Wuwus adalah puteri Galuh adik Prabu Linggabumi. Karena Linggabumi tidak mempunyai keturunan, setelah dia wafat (852 M), tahta Galuh dikuasai Rakeyan Wuwus sehingga sejak tahun tersebut sampai tahun 891 ia menjadi penguasa Sunda-Galuh. Karena Rakeyan Wuwus pun tidak mempunyai keturunan, ia digantikan oleh Arya Kedaton (891 – 895 M) suami adiknya dengan gelar Prabu Darmaraksa Sakalabuana. Raja ini dibunuh oleh seorang menteri Sunda yang fanatik yang merasa tidak senang tahta Sunda diduduki oleh orang Galuh.

Prabu Darmaraksa digantikan oleh puteranya yaitu Rakeyan Windusakti (895 – 913 M) dengan gelar Prabu Dewageng Jayeng Buana. Raja ini digantikan oleh puteranya yaitu Rakeyan Kemuning Gading dengan gelar Prabu Pucukwesi (913 – 916 M). Ia hanya memerintah selama 3 tahun karena kekuasaanya direbut oleh adiknya. Setelah wafat Prabu Pucukwesi dipusarakan di Ujung Cariang.

Raja berikutnya adalah Rakeyan Jayagiri yang bergelar Prabu Wanayasa (916 – 942 M). Ia digantikan oleh menantunya yaitu Rakeyan Watuatgeng (942 – 954 M) dengan gelar Praburesi Atmayadarma Hariwangsa. Dalam tahun 954 M ia digulingkan dari tahta oleh Sang Lembur Kancana sebagai tindakan balas dendam karena mertua Atmayadarma Hariwangsa, Prabu Wnayasa, telah merebut kekuasaan Prabu Pucukwesi ayah Limbur Kancana. Ia memerintah tahun 954 – 964 M dan kemungkinan berkedudukan di Galuh karena setelah wafat ia disebut sang mokteng Galuh Pakuan (yang wafat di Keraton Galuh). Permaisurinya orang Galuh keturunan Manarah.

Prabu Limbur Kancana digantikan oleh puteranya yang bernama Rakeyan Sunda Sembawa (964 – 973 M) dengan gelar Prabu Munding Ganawirya Tapakmanggala Jayasatru. Ia tidak mempunyai keturunan. Setelah wafat kedudukannya digantikan oleh suami adiknya yaitu Rakeyan Jayagiri (973 –989 M) yang bergelar Prabu Wulung Gadung. Ia dipusarakan di Jayagiri.

Raja berikutnya adalah putera Prabu Wulung Gadung yaitu Rakeyan Gendang atau Prabu Brajawisesa (989 – 1012 M), ia digantikan oleh puteranya yang bergelar Prabu dewa Sanghyang (1012 – 1019 M). Raja ini wafat dipertapaan sehingga disebut sang mokteng patapan. Raja berikutnya adalah puteranya yaitu Prabu Sanghyang Ageung selama 11 tahun (1019 – 1030 M), Ia dipusarakan di tepi Situ Sanghyang yang mungkin terletak di Desa Cibalatarik Tasikmalaya.

Pengganti Dewa Sanghyang adalah Sri Jayabupati (1030 – 1042 M), gelar yang ia dapatkan dari Prabu Darmawangsa, mertuanya sebagai hadiah perkawinan yaitu Maharaja Sri Jayabupati Jayamanhen Wisnumurti Samarawijaya Sakalabuana- mandalawaranindita Harogowardana Wikrametunggadewa dan nama Sundanya menurut Carita Parahiyangan adalah Prabu Detya Maharaja. Namun dalam Pustaka Nusantara I/4 tertulis Prabu Satya Maharaja atau Setya Maharaja. Dalam hal ini ada kemungkinan Carita Parahiyangan yang benar karena dalam naskah-naskah Wangsakerta ada beberapa kejadian salah tulis; huruf DA ditulis SA seperti; dwitya ditulis switya, wadwa ditulis waswa.

Jayabupati digantikan oleh puteranya yaitu Prabu Darmaraja yang dipusarakan di Winduraja (1042 – 1065 M). Ia digantikan oleh Prabu Langangbumi (1065 – 1155 M), menantunya,. Raja ini di pusarakan di Kerta. Penggantinya adalah puteranya yaitu Rakeyan Jayagiri alias Prabu Menakluhur Langlangbumisuta (1155 - 1157 M). Dalam Carita Parahiyangan masa pemerintahan raja ini tergabungkan ke dalam masa pemerintahan ayahnya karena tokoh ini tadak disebut. Ia digantikan oleh puteranya yaitu Prabu Darmakusuma (1157 – 1175 M) yang dipusarakan di Winduraja.

Raja berikutnya adalah Prabuguru Darmasiksa (1175 – 1297 M). Ia disebut juga Sang Paramarta Mahapurusa atau Prabu Sanghiyang Wisnu dan dalam cerita Parahiyangan dianggap sebagai penjelmaan Wisnu atau Patanjala. Ada dua sumber yang menyebutkan bahwa raja ini memerintah selama 122 tahun. Isterinya yang pertama adalah seorang Puteri Sriwijaya, sedangkan isterinya yang kedua berasal dari Darma Agung (sekarang desa Darma) yang terletak di Kecamatan Kadu Gede, Kuningan. Saunggalah yang pertama terletak di sebelah utaranya (Desa Ciherang) sedangkan Sanunggalah yang kedua dibangun oleh Darmasiksa terletak di daerah Mangunreja, Tasikmalaya.

Penggantinya adalah puteranya dari puteri Sriwijaya yaitu Rakeyan Saunggalah atau Prabu Ragasuci (1927 – 1303 M). Permaisuri Ragasuci adalah Dara Puspa puteri raja Melayu Darmasraya yang bernama Trailokyaraja Maulibusana Warmadewa yang juga jadi mertua Prabu Kertanegara dari Singasari. Ragasuci berkedudukan di Saunggalah (Tasikmalaya) dan setelah wafat dipusarakan di Taman.

Raja berikutnya adalah Citraganda yang ditunjuk oleh Darmasiksa sebagai ahli warisnya di Pakuan. Ia putera Prabu Ragasuci dari Dara Puspa. Hubungan kekerabatannya dengan keraton Majapahit sangat erat. Raden Wijaya adalah kakak-sepupunya karena Jayadarma, ayah Wijaya, adalah kakak Prabu Ragasuci. Demikian pula Dara Petak salah seorang isteri Wijaya adalah kakak-sepupunya dari pihak ibu. Dara Petak (adik dara Jingga) adalah puteri Kertanegara dari Dara Kencana kakak dara Puspa ibunda Prabu Citraganda. Dara Petak adalah ibunda Prabu Jayanagara raja Majapahit yang kedua.

Prabu Citraganda (1303 – 1311 M) dipusarakan di Tanjung. Ia digantikan oleh puteranya yaitu Prabu Linggadewata (1311 – 1333 M). Raja ini dapat dianggap raja peralihan karena setelah ia wafat raja-raja berikutnya memerintah di Kawali. Sangat mungkin ia sendiri mengakhiri masa pemerintahannya di Kawali. Raja ini dipusarakan di Kikis.


......Diambil dari Buku Sejarah Jawa Barat (rintisan penelusuran masa silam) Jilid ke-3. PEMDA Tk. I Jawa Barat tahun 1983-1984 hal. 24 – 27..........




Quote:
** Jangan diliat doang yaa.. Kasih thanks ddooonggg ( Ngarep.com )
Kalo gak penasaran jangan di buka ya gan

Last edited by de_martinz; 5 July 2010 at 11:11.
Reply With Quote
  #2  
Old 2 July 2010, 18:24
de_martinz's Avatar
Silver Member
 
Join Date: May 2010
Location: BelanDa [ Belakang Dapur ]
Posts: 3,974
Thanks: 184
Thanked 58 Times in 28 Posts
de_martinz super top memberde_martinz super top memberde_martinz super top memberde_martinz super top memberde_martinz super top memberde_martinz super top memberde_martinz super top memberde_martinz super top memberde_martinz super top memberde_martinz super top memberde_martinz super top member
Lightbulb Sejarah Sunda

Tarusbawa naik tahta kerajaan dalam tahun 669 M sebagai penguasa Tarumanagara.. Setahun kemudian ia mengganti nama negaranya menjadi SUNDA, lalu ia harus berbagi kekuasaan dengan Wretikandayun, pendiri Kerajaan Galuh. Walau pun demikian, dalam tahun 669 M dia masih sempat berkirim surat kepada raja-raja tetangga sahabat yang memberikan penobatan dirinya sebagai penguasa Tarumanagara yang baru, menggantikan mertuanya, Maharaja Linggawarman. Itulah sebabnya dalam sumber-sumber berita Cina tercatat bahwa kedatangan duta Tarumanagara yang terakhir ke negeri tersebut terjadi tahun 669 M. Mudah dipahami karena sejak tahun 670 M Tarumanagara sudah dipecah menjadi dua kerajaan yaitu : SUNDA dan GALUH dengan Sungai Citarum sebagai batas kekuasaan masing-masing.

Tindakan lain yang dilakukan Tarusbawa ialah pemindahan ibukota kerajaannya dari daerah Bekasi ke daerah pedalaman. Hal ini dapat kita ketahui dari berita Kropak 406 yang kadang-kadang disebut Carita Parahiyangan bagian II atau fragmen Carita Parahiyangan. Naskah tersebut memberitakan pembangunan istana baru .

Di inya urut kadatwan, ku Bujangga Sedamanah ngaran Sri Kadatwan Bima-Punta-Narayana-Madura-Suradipati. Anggeus ta tuluy diprebokta ku Maharaja Tarusbawa deung Bujangga Sedamanah.

Disiar ka hulu Cipakancilan, katimu Bagawat Sunda Mayajati, ku Bujangga Sedamanah dibaan ka hareupeun Maharaja Tarusbawa.

(Di sanalah bekas keraton yang oleh Bujangga Sedamanah diberi nama Sri Kedatuan Bima-Punta-Narayana-Madura-Suradipati. Setelah selesai dibangun lalu diberkati oleh Maharaja Tarusbawa dan Bujangga Sedamanah.

Dicari ke hulu Cipakancilan, ditemuilah di sana Bagawati Sunda Mayajati; oleh Bujangga Sedamanah dibawa ke hadapan Maharaja Tarusbawa.)



Dari Carita Parahiyangan kita mengetahui bahwa istana yang eranama demikian (kelak) ditempati oleh Sri Baduga Maharaja yang terkenal dengan julukan Ratu Sunda atau Ratu Pakuan dalam naskah-naskah yang lebih muda. Lokasinya pun tidak akan jauh dari hulu Cipakancilan. Nama keraton dan lokasinya menunjukkan bahwa keraton yang didirikan oleh Maharaja Tarusbawa ini terletak di kawasan Kelurahan Batutulis di sudut bagian tenggara kota Bogor sekarang.

Berita serupa kita temukan dalam Pustaka Nusantara II/3 halaman 204/205. Di sana diberitakan, “Hana Pwanung mangadekna Pakwan Pajajaran lawan kadatwan Sang Bima-Punta-Narayana-Madura-Suradipati ya ta Sang Prabhu Tarusbawa” (Ada pun yang mendirikan Pakuan Pajajaran beserta keraton Sang Bima-Punta-Narayana-Madura-Suradipati adalah Maharaja Tarusbawa).

Kedua sumber itu menunjukan bahwa Tarusbawa telah memindahkan pusat pemerintahannya ke daerah pedalaman atau lebih tepatnya lagi ke lokasi kampung Batutulis yang sekarang termasuk Wilayah Kotamadya Bogor. Kata Pakuan dalam bahasa Sunda kuno berarti Istana. Ada bermacam-macam tafsiran dari para ahli tentang arti Pakuan Pajajran. Ini (uraian lengkap tentang hal ini terdapat dalam buku “Sejarah Bogor”, 1983).

Pakuan Pajajaran menurut Poerbatjaraka (1921) berarti istana yang berjajar (“aanrijen staande hoven”). Bila dilihat nama istana yang cukup panjang tetapi terdiri atas nama-nama yang berdiri sendiri itu dapat diambil kesimpulan bahwa istana tersebut rupa-rupanya terdiri atas lima buah bangunan yang masing-masing bernama Bima, Punta, Narayana, Madura dan Suradipati. Itulah yang biasa disebut panca persada (5 bangunan keraton) dalam satra klasik. Dalam naskah-naskah Wangsakerta nama yang panjang itu sering disingkatkan menjadi Sang Bima atau Sri Bima saja.

Nama Keraton sering meluas menjadi nama ibukota bahkan akhirnya sering menjadi nama negara. Contoh nyata adalah; Ngayogyakarta Hadiningrat dan Surakarta Hadiningrat yang sebenarnya nama-nama keraton sekarang meluas menjadi nama ibukota dan juga nama wilayah. Pakuan Pajajaran pun demikian halnya. Nama itu selain nama rangkuman untuk keraton juga menjadi nama dayeuh dan negara (kerajaan).

Dalam prasasti-prasasti tembaga peninggalan Sri Baduga yang ditemukan di daerah Bekasi, ada tiga versi nama yang digunakan, yaitu Pakuan Pajajaran (lengkap), Pakuan (tanpa Pajajaran) dan Pajajaran (tanpa Pakuan). Orang Sunda yang kemudian cenderung menggunakan kata Pakuan untuk nama ibukota dan Pajajaran untuk nama negara (Kerajaan). Dalam tulisan ini pun akan ditempuh penggunaan seperti itu sedangkan untuk menyingkatkan nama keraton akan digunakan nama “Sri Bima”.

Pakuan didirikan oleh Maharaja Tarusbawa (669 –723 M). Hal ini dapat kita artikan bahwa Pakuan adalah ibukota Kerajaan Sunda, dan didirikan dalam kwartal pertama abad ke-8 Masehi. Bangunan keraton tentu akan diperbaharui beberapa kali oleh beberapa orang penguasa sekali pun namanya tidak berubah. Kropak 406 menunjukkan bahwa keraton itu pernah dipunar (diperbaharui) oleh Prabuguru Darmasiksa dan Prabu Susuktunggal.

Lokasi Keraton ini terletak pada lahan lemah-duwur (lahan datar di atas bukit) yang diapit oleh tiga batang sungai berlereng curam yaitu; Cisadane, Ciliwung dan Cipaku (anak Cisadane). Sebagai berkah di tengah-tengah mengalir Cipakancilan yang ke bagian hulu sungainya bernama Ciawi). Pakuan terlindung oleh lereng terjal pada ke tiga sisinya. Hanyalah pada sisi tenggara kota itu berbatas dengan lahan yang datar. Karena itu pada bagian inilah terdapat benteng atau kuta yang paling besar dengan lebar dasar 7 meter dan tingginya 4 meter serta pada bagian atasnya diperkuat dengan batu. Seperti di Karang Kamulyan (bekas Ibukota Galuh), pada tepi bagian luar benteng tersebut terdapat parit yang merupakan bentuk negatif dari benteng itu. Tanah galian parit inilah yang dijadikan bagan pembangunan benteng.

Pakuan sebagai ibukota Sunda tercatat pula dalam “The Suma Oriantal” yang berisi catatan perjalanan Tome Pires (1513). Ia menyebutkan bahwa ibukota kerajaan Sunda yang disebut Dayo (Dayeuh) itu terletah sejauh dua hari perjalanan dari pelabuhan Kalapa. Menurut laporan-laporan VOC, perjalanan dari bekas benteng Pakuan ke muara Ciliwung tempat benteng mereka memakan waktu dua hari. Jadi, sejak Maharaja Tarusbawa sampai abad ke-16 ibukota sunda tetap berada di kawasan kota Bogor yang sekarang. Di badingkan dengan usia keraton Galuh, pakuan lebih muda kira-kira satu abad. Yang jelas ialah : pendapat yang mengemukakan bahwa Pakuan Pajajaran didirikan oleh Sri Baduga Maharaja tidak cocok bahkan bertentangan dengan sumber-sumber sejarah yang ada... ini akan dibahas dalam uraian mengenai prasasti Batutulis.


........Diambil dari Buku Sejarah Jawa Barat (rintisan penelusuran masa silam) Jilid ke-3. PEMDA Tk. I Jawa Barat tahun 1983-1984 hal. 1 - 3............

Quote:
sumber
Quote:
** Jangan diliat doang yaa.. Kasih thanks ddooonggg ( Ngarep.com )
Kalo gak penasaran jangan di buka ya gan

Last edited by de_martinz; 5 July 2010 at 09:36.
Reply With Quote
  #3  
Old 2 July 2010, 18:25
de_martinz's Avatar
Silver Member
 
Join Date: May 2010
Location: BelanDa [ Belakang Dapur ]
Posts: 3,974
Thanks: 184
Thanked 58 Times in 28 Posts
de_martinz super top memberde_martinz super top memberde_martinz super top memberde_martinz super top memberde_martinz super top memberde_martinz super top memberde_martinz super top memberde_martinz super top memberde_martinz super top memberde_martinz super top memberde_martinz super top member
Default Bayang-bayang Kerajaan Galunggung

Spoiler:
Sri Jayabupati wafat tahun 1042 M. Ia digantikan oleh poteranya yang bernama Prabu Darmaraja Jayamanahen Wisnumurti Salakasundabuana (1042 – 1065 M) atau sang mokteng Winduraja. Jadi ia dipusarakan di Winduraja. Tempat yang bernama demikian dan menyimpan pantulan kepurbakalaan adalah desa Winduraja di Kecamatan Kawali, Kabupaten Ciamis. Ada gejala bahwa setelah Sri Jayabupati wafat, sampai tahun 1187 pusat pemerintahan terletak di kawasan timur tidak di Pakuan. Cicit raja ini, Prabu Darmakusuma (1157 – 1175 M) juga dipusarakan di Winduraja.

Prabu Darmaraja digantikan oleh puteranya yaitu Prabu Langlangbumi (1065 – 1155 M) atau sang mokteng Kerta. Mungkin sekali salah seorang cucunya diperisteri oleh penguasa Kadiri-Janggala Maharaja Jayabuana Kesanananta Wikramotunggadewa (1102 – 1104 M) atau prabu Surya Amiluhur. Raja ini hanya dua tahun memerintah karena kekuasaannya direbut oleh Jayawarsa Digjaya Sastraprabu. Prabu Jayabuana melarikan diri ke Jawa Barat karena permaisurinya berasal dari sini. Mungkin tokoh inilah yang disebut Prabu Banjaransari pelarian dari Kediri dalam Babad Galuh.

Peristiwa sejarah yang menarik dalam masa pemerintahan Maharaja Langlangbumi ialah berita yang termuat dalam prasasti Geger Hanjuang atau Prasasti Galunggung karena ditemukan di lereng Gunung Galunggung. Prasasti ini ditemukan dibukit Geger Hanjuang yang oleh penduduk setempat disebut Kabuyutan Linggawangi karena terletak di Desa Linggawangi, Kecamatan Leuwisari, Kabupaten Tasikmalaya. Sekarang disimpan di Museum Pusat nomor D-26.

Isi prasasti itu ditulis dalam huruf dan bahasa Sunda Kuno yang cukup terang untuk dibaca. Walaupun tercantum hanya tiga baris pendek namun didalamnya tercantum tanggal dan tahun. Bacaannya baris demi baris sebagai berikut :
Tra ba I gune apuy na-

Sta gomati sakakala rumata-

K disusu(k) ku batari hyang pun

Prasasti itu bertanggal tra (trayodasi = ke-13) ba (badramasa=bulan Badra) atau tanggal 13 bulan Badra (Agustus/September) tahun 1 (gomati) 0 (nasta) 3 (apuy) 3 (gune). Arti lengkapnya yaitu pada hari ke-13 bulan Badra tahun 1033 Saka Rumantak (selesai) disusuk oleh Batari Hyang.

Karena tidak disebutkan paksa (separuh bulan) dalam prasasti ini digunakan system amanta (perhitungan tanggal dari bulan baru ke bulan baru) yang hitungan tanggalnya diteruskan sampai 30. Perhitungan menurut tarih Masehi kira-kira 21 Agustus 1111M

Rumatakyang oleh penduduk setempat disebut Rumantak adalah bekas ibukota Kerajaan Galunggung yang terletak tidak jauh dari bukit Geger Hanjuang tempat prasasti iyu ditemukan. Disusuk berarti dikelilingi dengan parit untuk pertahanan. Berita serupa dapat dibaca dalam Prasasti Kawali dan Batutulis di Bogor. Dengan Demikian tokoh Batari Hyang pundapat kita duga sebagai penguasa Kerajaan Galunggung waktu itu. Ia tentu keturunan dan ahli waris Resiguru Sempakwaja pendiri Kerajaan Galunggung.

Prasasti itu membuktikan bahwa perjanjian Galuh tahun 739 masih tetap dihormati. Dalam kropak 632 tokoh Batari Hyang disebut sebagai nu nyusuk na Galunggung. Ajaran yang tertulis dalam naskah itu disebutkan sebagai ajarannya. Tokoh ini pula yang dalam Kropak 630 (SanghyangSiksakandang Karesian) disebut sang Sadu Jati (sang bijaksana atau sang Budiman). Cukup unik karena “pencipta” ajaran tentang kesejahteraan hidup yang harus menjadi pegangan para raja dan rakyatnya itu adalah seorang wanita.

Mengapa sang Batari Hyang membangun parit pertahanan sebagai perlindungan pusat pemerintahannya belum dapat dijelaskan secara memuaskan. Mungkin ia berjaga-jaga karena melihat pusat pemerintahan Kerajaan Sunda- Galuh berada di kawasan timur atau mungkin karena sebab lain. Kerajaan Galunggung dapat mempertahankan kehadirannya setelah Galuh dan Pajajaran runtuh. Dalam awal abad ke-18 sisa kerajaan itu masih ada dengan nama “Kabupaten” Galunggung dan berpusat di daerah Singaparna. Karena alas an histories, penduduk kampung Naga di Salawu tabu menyebutkan Singaparna. Mereka berkukuh menggunakan Galunggung.

Dalam tradisi masa silam Galunggung dianggap sebagai sumber ilmu karena sejak didirikannya merupakan “kerajaan Agam”. Batas-batas alas Galunggung menurut fragmen Carita Parahiyangan ialah Gunung Sawal disebelah utara, Pelang Datar di sebelah timur dan Ciwulan di sebelah selatan. Sebuah naskah yang dimiliki oleh sesepuh di Singaparna (berbahasa Sunda berhuruf Arab) dan berasal dari bagian akhir abad ke-19 masih menyebutkan tokoh Sempakwaja di antara generasi pertama Kerajaan Galunggung. Ia masih dikenal dan disebut dalam berbagai mantera dan do’a. Ia sudah “didewakan” orang.


........Diambil dari Buku Sejarah Jawa Barat (rintisan penelusuran masa silam) Jilid ke-3. PEMDA Tk. I Jawa Barat tahun 1983-1984 hal. 1 - 3............

Last edited by de_martinz; 5 July 2010 at 09:37.
Reply With Quote
  #4  
Old 2 July 2010, 18:25
de_martinz's Avatar
Silver Member
 
Join Date: May 2010
Location: BelanDa [ Belakang Dapur ]
Posts: 3,974
Thanks: 184
Thanked 58 Times in 28 Posts
de_martinz super top memberde_martinz super top memberde_martinz super top memberde_martinz super top memberde_martinz super top memberde_martinz super top memberde_martinz super top memberde_martinz super top memberde_martinz super top memberde_martinz super top memberde_martinz super top member
Default

Hubungan Sunda dengan Sriwijaya

Spoiler:
Permaisuri Tarusbawa adalah Manasih puteri Sulung Linggawarman, raja Tarumanagara terakhir. Adik Manasih yang bernama Sobakancana menjadi isteri Sri Jayanasa pendiri Kerajaan Sriwijaya. Dengan demikian, Tarusbawa dengan Sri Jayanasa terikat oleh tali kekerabatan melalui perkawinan. Secara kebetulan kedua orang itu pun naik tahta kerajaan dalam tahun yang sama (669 M).

Sejak tahun 422 Saka (500 Masehi) kawasan Sumatera dikuasai oleh dua kerajaan besar yaitu; Kerajaan Pali di sebelah utara dan Kerajaan Melayu Sribuja di sebelah Selatan yang ibukotanya terletak di Palembang. Sriwijaya mula-mula hanyalah sebuah negara kecil bawaha melayu dan terletak di daerah Jambi. Berbeda dengan Tarusbawa yang dala tahun 670 M harus berbagi kekuasaan dengan Wretikandayun, dalam tahun yang sama kekuasaan Sri Jayanasa justeru mulai berkembang. Ia bergerak ke arah utara dan dalam jangka waktu 5 tahun dapat menguasai separuh wilayah Kerajaan Melayu yang kekuasaannya sedang menurun.

Dalam tahun 676 Sri Jayanasa berhasil meruntuhkan Pali. Sebagian besar keluarga keraton Pali menyingkir ke Pulau Bali. Dalam gerakan yang berlangsung enam tahun lamanya itu Sri Jayanasa berhasil pula menundukkan Kerajaan Mahasin (sekarang Singapura). Dari Mahasin ia kemudian menundukkan raja-raja di Ujung Mendini (Semenanjung) sampai di daerah Ligor. Dalam tahun 682 M ia bersama pasukannya kembali ke daerah Minangkabau untuk mempersiapkan serangan baru ke daerah selatan. Setahun kemudian ia berhasil menundukkan Kerajaan Melayu dan merebut daerah-daerah kekuasaannya di bagian selatan.

Raja Melayu adalah kakak ibunda Prabu Kartieyasinga suami Maharani Sima. Maharani ini menjadi penguasa Kalingga di Jawa Tengah dalam tahun 674 M menggantikan suaminya. Tindakan Sri Jayanasa terhadap kakak dari mertua perempuannya itu sangat menyakitkan hati Maharani yang terkenal bijaksana dan sangat cantik ini

Sri Jayanasa pun menyadari kemungkinan ini karena ia mengetahui benar hubungan kekerabatan antara penguasa Melayu dengan penguasa Kalingga ini. Untuk memperkuat posisi tindakannya yang mula-mula ialah memperkukuh hubungan negaranya dengan Sunda. Pertalian kekerabatan antara sesama menantu Linggawarman akan dikuatkannya dengan perjanjian persahabaan resmi. Mitra-pasamayan untuk tidak saling menyerang dan saling membantu itu diadakan dan disetujui oleh kedua fihak pada tanggal 14 bagian terang bulan Maga tahun 607 Saka (sekitar 22 Januari 685 M). Menurut Pustaka Nusantara II/3, Maharaja Tarusbawa mengabadikan isi perjanjian ini dalam sebuah prasasti batu yang ditulis dalam dua bahasa (melayu dan sunda).

Tindakan Sri Jayanasa yang kedua ialah menawarkan persahabatan kepada penguasa Kalingga. Maharani Sima menolak tawaran itu yang menyebabkan hubungan kedua negara akan makin memburuk. Menurut naskah di atas ada juga mahakawi yang mengisahkan bahwa permusuhan antara Sriwijaya dengan Kalingga makin meruncing sebab Maharani Sima menolak pinangan Sri Jayanasa atas alas an sakit hati dan perbedaan agama (Sri Jayanasa penganut Budha Mahayana sedangkan ia penganut agaama Siwa).

Keterangan mencapai puncaknya dalam tahun 686 M karena angkatan perang Sriwijaya telah siap melaksanakan serbuan ke Kalingga. Semua negara sahabat Kalingga, termasuk Cina, menjanjikan bantuan angkatan perangnya kepada sang Maharani.Melihat gejala ini Maharaja Tarusbawa turun tangan. Sebagai saudara dan sahabat ia berkirim surat kepada Sri Jaaynasa. Isinya berupa pesan bahwa ia tidak menyetujui rencana Sriwijaya menyerang Kalingga karena alas an “susila”. Mungkin karena Sima seorang janda dan Tarusbawa hawatir Sri Jayanasa akan dituduh oleh negara-negara lain telah melakukan serangan gara-gara pinangannya telah ditolak oleh Maharani Sima.

Surat dari saudara dan sekaligus sahabatnya ini mungkin sama kuat atau mungkin lebih besar pengaruhnya kepada Sri Jayanasa karena pada akhirnya ia mengurungkan niatnya. Kapal-kapal dagang orang Kalingga yang di tahan di pelabuhan-pelabuhan Sriwijaya diperbolehkan pulang setelah muatannya dirampas. Tindakan Sriwijaya terhadap Kalingga akhirnya hanya berupa gangguan terhadap pelayaran kapal-kapalnya di perairan terbuka. Itu pun dengan cara terselubung karena yang dikerahkan bukan pasukan angkatan laut melainkan kelompok-kelompok bajak laut yang “direstui”.

Raja-raja Sriwijaya yang sejaman dengan Tarusbawa (669 – 723), selain Sri Jayanasa (669 – 692 M) adalah Darmaputra (692 – 704 M), Darmapara (704 – 711 M), Lokitawarman (711 – 718 M) dan Indrawarman (718 – 730 M).

Setelah Sri Jayanasa wafat, sikap bersahabat penguasa Sriwijaya terhadap Sunda makin memudar. Mereka makin cenderung kepada sikap iri bahwa sebagi kerurunan Linggawarman, mereka pun mempunyai hak atas sebagian bekas wilayah Tarumanagara.

Kecenderungan itu akhirnya meningkat menjadi gangguan terhadap kapal-kapal dagang Sunda di perairan terbuka bahkan lebih meningkat lagi dengan gangguan “perompak” terhadap pesisir daerah Jawa Barat disekitar Selat Sunda.

Ketegangan hubungan dengan Sriwijaya inilah mungkin yang telah menjadi salah satu alas an bagi Tarusbawa untuk memindahkan ibukota kerajaan ke pedalaman. Pakuan yang didirikan menjadi salah satu pusat pemerintahan untuk seluruh Jawa Barat setelah terjadi perpaduan antara Galuh dengan Sunda.

Setelah Tarusbawa digantikan oleh Sanjaya suami Tejakancana cucu yang diangkat anak oleh Tarusbawa. Hubungan Sunda dengan Sriwijaya makin memburuk bahkan menjadi permusuhan yang terang-terangan. Setelah Sanjaya menjadi penguasa Sunda-Galuh dan sekaligus menjadi putera mahkota Kalingga, ia mengerahkan laskar gabungan dari ketiga negara itu untuk melancarkan serangan ke Sumatera sekitar tahun 728 M. Ekspedisi ini lebih bersifat petualangan untuk memenuhi hasrat Sanjaya yang haus akan perang dan kemenangan. Indrawarman penguasa Sriwijaya yang terkenal dengan sebutan Demang Lebar Daun dapat dikalahkannya. Namun Sriwijaya menjadi kuat kembali di bawah pemerintahan puteranya yaitu Wisnuwarman (730 – 755 M)

Dalam perkembangan selanjutnya akan kita lihat bahwa Kerajaan Sunda harus berupaya menyesuaikan posisinya di antara kepentingan Sriwijaya dengan Jawa Timur. Pada umunya Raja-raja Sunda berupaya mengambil sisi netral bahkan dengan kedua belah pihak menjalin hubungan kekerabatan melaui perkawinan. Hubungan antara Sriwijaya dengan Jawa Timur baik pada masa Mamenang, Kadiri, Singasari atau pun Majapahit hampir tidak pernah serasi karena di antara keduanya selalu terjadi persaingan kekuasaan untuk menguasai perairan Nusantara.

Peta politik itu menjadi semakin kompleks setelah Kerajaan Melayu mampu bangkit kembali. Raja-raja Jawa Timur selalu mendukung dan melindungi kerajaan ini untuk menekan kerajaan Sriwijaya secara tidak langsung. Mencari dukungan dan perlindungan raja-raja Jawa Timur untuk menghadapi Sriwijaya ini juga dilakukan oleh Kerajaan Samudera dan Pasai yang kedua-duanya merupakan kerajaan Islam. Karena ini sejak abad ke-11 Masehi telah banyak saudagar-bangsawan Islam yang tinggal di Gresik Jawa Timur. Sejarah mencatat pula kehadiran sebuah makam Islam di Desa Leran, Gresik yaitu makam Fatimah binti Maimum yang berasal dari masa kejayaan “Hindu Jawa”.

Fatimah adalah kemenakan Sultan Muhammad Saleh (1014 – 1040 M) raja Pasai yang kedua (menantu Sultan Malik Ibrahim Makdum). Suami Fatimah, Abu Hasan, adalah saudagar besar yang tinggal di Jawa Timur. Fatimah meninggal dunia tahun 1004 Saka (1082 M). Makamnya merupakan suatu “teka-teki” kesejaraha karena mencerminkan kehadiran Isklam di Jawa Timur dua abad sebelum Kerajaan Majapahit didirikan.Yang penting dalam kaitan tulisan ini ialah makam itu memantulkan sebagian peta politik masa silam ketika para penguasa di Jawa Timur menjalin hubungan baik dengan kerajaan Islam di Sumatera dalam rangka strateginya menghadapi Sriwijaya.

Hubungan Sunda dengan Sriwijaya dengan sendirinya akan terpengaruh oleh suasana hubungan antara Sriwijaya dengan Jawa Timur. Ang jelas karena posisi seperti itulah Kerajaan Sunda menempati posisi yang “aman” karena baik Sriwijaya maupun Jawa Timur tidak akan mengganggu kedaulatan demi kepentingan mereka sendiri.

Kerajaan di Jawa Barat setelah masa Tarumanagara, baik Sunda maupun Galuh tidak pernah memiliki angkatan Laut yang kuat. Karena itu ada kalanya daerah pesisir utara kedua negara ini dijadikan semacam “daerah pengaruh” oleh Sriwijaya dan Kediri. Sebaliknya kedua belah pihak sering menerima posisi raja Sunda sebagai penengah dalam persengketaan mereka. Dalam tahun 1182 Masehi misalnya, Sundapura pernah dijadikan tempat pertemuan perdamaian antara Sriwijaya dengan Kediri.

Pertemuan itu terjadi atas permintaan (dengan surat) dari Maharaja Cina setelah terjadinya pertempuran besar di Laut Jawa antara kedua angkatan laut tanpa ada pihak yang menang. Kedua pihak yang bermusuhan menerima tawaran raja Sunda agar pertemuan diadakan di Sundapura. Pertemuannya sendiri dipimpin oleh Duta Cina dan disaksikan oleh duta-duta sahabat kedua negara yang bersengketa. Salah satu hasilnya ialah “ pembagian wilayah kekuasaan antara kedua belah pihak “Sriwijaya di belahan barat dan Kadiri di belahan timur wilayah Nusantara.

Raja Sunda yang terlibat dalam peristiwa ini adalah Prabuguru Darmasiksa. Salah seorang isterinya berasal dari Sriwijaya tetapi ia pun berbesan dengan Trailokyaraja Maulibusanawarmandewa raja Melayu Darmasraya. Sebagai keturunan Sri Jayabupati (dari generasi ke-5). Darmasiksa pun keturunan Jawa Timur karena salah seorang permaisuri Sri Jayabupati adalah Puteri Prabu Darmawangsa.

Last edited by de_martinz; 5 July 2010 at 09:39.
Reply With Quote
  #5  
Old 2 July 2010, 18:25
de_martinz's Avatar
Silver Member
 
Join Date: May 2010
Location: BelanDa [ Belakang Dapur ]
Posts: 3,974
Thanks: 184
Thanked 58 Times in 28 Posts
de_martinz super top memberde_martinz super top memberde_martinz super top memberde_martinz super top memberde_martinz super top memberde_martinz super top memberde_martinz super top memberde_martinz super top memberde_martinz super top memberde_martinz super top memberde_martinz super top member
Default

SEJARAH LONGSER

Spoiler:

Purwa Carita

Bagi masyarakat Jawa Barat khususnya Kabupaten Sumedang, terutama mereka generasi tua yang pada saat ini berumur 50 tahun ke atas. minimal mendengar lebih jauhmya kenal dan mengetahui tentang seni Longser.

Namun bagi mereka generasi muda sekarang sedikit mengetahuinya, apalagi generasi yang akan datang.,

Melalui media ini kami akan menyampaikan sedikit sejarah Seni Tradisional Longser yang terdapat di Kampung Parugpug Desa Cijambe Kecamatan Paseh Kabupaten Sumedang.

"...... menurut keterangan para pendiri tokoh Longser di Kampung Parugpug yaitu Bapa Kalsip, Longser didirikan tahun 1935 yang pada waktu itu beliau melatih Seni Beladiri Silat yang dibantu oleh Saudaranya yaitu Bapa Enduy.

Rombongan silat tersebut tidak hanya untuk beladiri saja, tetapi atas kreatifitas Bapa Kalsip dipakai hiburan secara berkeliling (ngamen) dari Desa ke Desa.Sejak tahun 1938 rombongan Bapa Kalsip kedatangan seorang pelawak dari Bandung yaitu Bapa Leunyay. Beliau kebetulan mempunyai keahlian dibidang seni Longser dan sejak itu melatih seni Longser Parugpug.

Keahlian melawak diberikan atau diturunkan kepada Bapa Enju Ahmad dengan julukan Bang Kancil, sebagai pembantu pelatih dari Bandung yaitu Rohani yang turut melatih bidang silat, Lawak dan Drama.

Longser di Kampung Parugpug hingga saat ini generasi ke generasi, Longser masih ada.

Tokoh-tokoh lain yang turut mendukung berdirinya Longser ini adalah :

- Sdr. Isrem (Mujaer)

- Sdr. Usup

- Sdr. Aja (Aleuy).

Dengan adanya seni Tradisional Longser banayk pengaruhnya baik terhadap masyarakat sekitar maupun masyarakat yang ada di Kecamatan-kecamatan lain di Kab. Sumedang yang pernah di datangi. Pengaruh tersebut terlihat dengan tumbuhnya perkumpulan-perkumpulan Silat dan yang menonjol bahwa Longser merupakan tontonan yang dapat yang dapat tempat di masyarakat. Pertunjukan Longser biasajuga mengadakan pementasan disamping seni lain banyak menerima pengaruh dari seni lain yaitu seperti tata cara pentas, lagu-lagu dan sebagainya.

JALAN PERTUNJUKAN

Sebelum kami menguraikan pelaksanaan jalan pertunjukkan, ada baiknya barangkali kami jelaskan bahwa sebelum Longser yaitu grup Pencak Silat pelaksanaan pemanggungan dilaksanakan dengan jalan ngamen (berkeliling) dari kampung ke kampung tanpa menggunakan panggung di halaman rumah melainkan di lapangan, Setelah menjadi Longser pelaksanaan pementasan berubah, dari mengandalkan sumbangan sukarela dari pe dengan jalan melemparkan uang terbungkus sapu tangan, memakai alat-alat atau pakaian /topi dan sebagainya, dan pementasannya menjadi arena di Keben (dibatasi dengan kain/bilik) disekelilingnya dan memungut uang dengan karcis tanda masuk.

Namun meskipun telah dipungut uang masuk didalam biasanya masih tetap banyak yang memberi uang dengan cara seperti mengamen. Bahkan selain pada waktu istirahat suka ada yang dikatakan nyarayuda yaitu meminta sumbangan kepada pe secara sukarela.

Pola dasar pelaksanaan pagelaran secara garis besar berbentuk seperti berikut :

a. Tatalu yaitu instrumental selama 20 menit dengan tujuan mengumpulkan pe.

b. Bubuka/pembukaan dengan jalan menampilkan 4 pesilat secara rampak.

c. Penari tunggal yang diikuti oleh 2 pelawak sehingga si penari minta bantuan kepada pemimpin pementasan dan selanjutnya pementasan selang seling antara melawak, menari dan dialog. Dalam melawak tersebut si penari dijadikan sumber/alat melawak bagi si pelawak dengan penentu keputusan adalah pimpinan pementasan. Demikian pementasan sampai dengan pukul 23 malam.

d. Setelah itu pementasan berubah menjadi bentuk drama yang mempunyai alur cerita dengan berakhir sampai pukul 1 malam, Kecuali bila mengadakan pementasan pada orang kenduri atau selamatan biasanya pementasan berakhir sampai dengan pukul 3 pagi.

Waditra yang dipergunakan, sebelum berbentuk Longserterdiri dari dua buah gendang besar, dua kulanter, satu kempul, terompet, dan kecrek. Setelah berbentuk Longser ditambah seperangkat gamelan yaitu :

- dua buah Saron

- satu buah Peking, Panerus, Bonang dan Rebab

Lagu-lagu sebelum Longser :

1. Kembang Beureum 4. Pareredan

2. Polos Tomo 5. Kadipatenan

3. Golempang 6. Kacang Asin

Lagu-lagu waktu Longser :

1. Kembang Beureum 7. Polos Tomo

2. Kembang Gadung 8. Golempang.

3. Pareredan 9. Kadipatenan

4. Kacang Asin 10. Geboy

5. Cikeruhan 11. Hayam ngupuk

6. Sorban Palid 12. dsb.

Cerita yang biasa dipentaskan Longser :

1. Karta Genjer 2. Haji Nyandung

3. Kedok Torotol 4. Si Letar

5. Madgono dan Sutejo Mak Solo


Last edited by de_martinz; 5 July 2010 at 09:39.
Reply With Quote
  #6  
Old 3 July 2010, 08:20
Ajengmaniez's Avatar
Moderator
 
Join Date: Apr 2010
Posts: 5,194
Thanks: 15
Thanked 16 Times in 6 Posts
Ajengmaniez super top memberAjengmaniez super top memberAjengmaniez super top memberAjengmaniez super top memberAjengmaniez super top memberAjengmaniez super top memberAjengmaniez super top memberAjengmaniez super top memberAjengmaniez super top memberAjengmaniez super top memberAjengmaniez super top member
Default

panjaaaaaannnngggg dan laaaaammmmmaaaaaaa

anyway.... nice share....
Reply With Quote
  #7  
Old 5 July 2010, 09:40
de_martinz's Avatar
Silver Member
 
Join Date: May 2010
Location: BelanDa [ Belakang Dapur ]
Posts: 3,974
Thanks: 184
Thanked 58 Times in 28 Posts
de_martinz super top memberde_martinz super top memberde_martinz super top memberde_martinz super top memberde_martinz super top memberde_martinz super top memberde_martinz super top memberde_martinz super top memberde_martinz super top memberde_martinz super top memberde_martinz super top member
Default

Quote:
Originally Posted by Ajengmaniez View Post
panjaaaaaannnngggg dan laaaaammmmmaaaaaaa

anyway.... nice share....
makasih neng

tapi gak ada thanks sama kiriman niyh
Reply With Quote
  #8  
Old 5 July 2010, 09:43
zulkarnain's Avatar
Junior Member
 
Join Date: May 2009
Location: Malang
Posts: 156
Thanks: 4
Thanked 3 Times in 2 Posts
zulkarnain is an unknown quantity at this point
Default

susah buat dibaca tulisannya.. bikin mata perih..
Reply With Quote
  #9  
Old 5 July 2010, 09:55
dest's Avatar
administrator
 
Join Date: Apr 2010
Location: -Lampu Merah Pertama
Posts: 11,081
Thanks: 430
Thanked 404 Times in 136 Posts
dest has disabled reputation
Default

Quote:
Originally Posted by zulkarnain View Post
susah buat dibaca tulisannya.. bikin mata perih..
saran bagus buat TS.........
__________________
.
Quote:
-yeah-
I'm not a brilliant man
I'm just a lucky man

follow me: @ddeesst


REGISTRASI VIVAFORUM
(silahkan click disini)

Reply With Quote
  #10  
Old 5 July 2010, 10:17
de_martinz's Avatar
Silver Member
 
Join Date: May 2010
Location: BelanDa [ Belakang Dapur ]
Posts: 3,974
Thanks: 184
Thanked 58 Times in 28 Posts
de_martinz super top memberde_martinz super top memberde_martinz super top memberde_martinz super top memberde_martinz super top memberde_martinz super top memberde_martinz super top memberde_martinz super top memberde_martinz super top memberde_martinz super top memberde_martinz super top member
Default

Quote:
Originally Posted by zulkarnain View Post
susah buat dibaca tulisannya.. bikin mata perih..
Quote:
Originally Posted by xdest View Post
saran bagus buat TS.........
Saran diterima
Reply With Quote
Reply

Bookmarks

Thread Tools
Display Modes

Posting Rules
You may not post new threads
You may not post replies
You may not post attachments
You may not edit your posts

BB code is On
Smilies are On
[IMG] code is On
HTML code is Off
Trackbacks are On
Pingbacks are On
Refbacks are On



All times are GMT +7. The time now is 00:31.