|
#1
|
||||
|
||||
|
Pada bahasan raja-raja sunda ini adalah keturunan Tarusbawa yang pada umumnya berkedudukan di Pakuan dan untuk membedakannya dari raja-raja Galuh.
Tarusbawa (669 – 723 M) digantikan oleh Sanjaya (723 – 732 M), Suami cucunya karena mertua Sanjaya, Rakeyan Sunda Sembawa, yang menjadi putera mahkota Kerajaan Sunda wafat mendahului Tarusbawa. Setelah Sanjaya pindah ke Medang di Bumi Mataram (732 M), kedudukannya digant1 oleh puteranya , Tamperan (732 –739 M) ia berkuasa di Sunda dan Galuh seperti Sanjaya. Tamperan alias Barmawijaya digantikan oleh Banga (739 – 766 M) puteranya dari Dewi Pangrenyep dengan gelar Prabu Kertabuana Yasawiguna Aji Mulya. Banga digantikan oleh puteranya yaitu Rakeyan Medang atau Prabu Hulukujang (776 – 783 M). Setelah wafat ia digantikan oleh menantunya yaitu Rakeyan Ujung Kulon atau Prabu Gilingwesi (783 – 795 M). Raja ini adalah kakak Sang Tariwulan putera Manisri (Menantu Manarah). Jadi, cucu Manarah ini mempersunting cucu Banga yang dengan sendirinya akan mempererat hubungan keraton Sunda dengan Galuh. Prabu Gilingwesi pun digantikan oleh menantunya yaitu Rakeyan Diwus alias Prabu Pucukbumi Darmeswara (795 – 819 M). Permaisurinya adalah puteri Prabu Gilingwesi. Dari perkawinan ini lahir seorang putera yaitu Rakeyan Wuwus yang kelak menggantkan kedudukan ayahnya dengan gelar Prabu Gajah Kulon (819 - 891 M). adiknya, seorang puteri, diperistri oleh Arya Kedaton cucu Sang Tariwulan dari isterinya yang kedua. Permaisuri Rakeyan Wuwus adalah puteri Galuh adik Prabu Linggabumi. Karena Linggabumi tidak mempunyai keturunan, setelah dia wafat (852 M), tahta Galuh dikuasai Rakeyan Wuwus sehingga sejak tahun tersebut sampai tahun 891 ia menjadi penguasa Sunda-Galuh. Karena Rakeyan Wuwus pun tidak mempunyai keturunan, ia digantikan oleh Arya Kedaton (891 – 895 M) suami adiknya dengan gelar Prabu Darmaraksa Sakalabuana. Raja ini dibunuh oleh seorang menteri Sunda yang fanatik yang merasa tidak senang tahta Sunda diduduki oleh orang Galuh. Prabu Darmaraksa digantikan oleh puteranya yaitu Rakeyan Windusakti (895 – 913 M) dengan gelar Prabu Dewageng Jayeng Buana. Raja ini digantikan oleh puteranya yaitu Rakeyan Kemuning Gading dengan gelar Prabu Pucukwesi (913 – 916 M). Ia hanya memerintah selama 3 tahun karena kekuasaanya direbut oleh adiknya. Setelah wafat Prabu Pucukwesi dipusarakan di Ujung Cariang. Raja berikutnya adalah Rakeyan Jayagiri yang bergelar Prabu Wanayasa (916 – 942 M). Ia digantikan oleh menantunya yaitu Rakeyan Watuatgeng (942 – 954 M) dengan gelar Praburesi Atmayadarma Hariwangsa. Dalam tahun 954 M ia digulingkan dari tahta oleh Sang Lembur Kancana sebagai tindakan balas dendam karena mertua Atmayadarma Hariwangsa, Prabu Wnayasa, telah merebut kekuasaan Prabu Pucukwesi ayah Limbur Kancana. Ia memerintah tahun 954 – 964 M dan kemungkinan berkedudukan di Galuh karena setelah wafat ia disebut sang mokteng Galuh Pakuan (yang wafat di Keraton Galuh). Permaisurinya orang Galuh keturunan Manarah. Prabu Limbur Kancana digantikan oleh puteranya yang bernama Rakeyan Sunda Sembawa (964 – 973 M) dengan gelar Prabu Munding Ganawirya Tapakmanggala Jayasatru. Ia tidak mempunyai keturunan. Setelah wafat kedudukannya digantikan oleh suami adiknya yaitu Rakeyan Jayagiri (973 –989 M) yang bergelar Prabu Wulung Gadung. Ia dipusarakan di Jayagiri. Raja berikutnya adalah putera Prabu Wulung Gadung yaitu Rakeyan Gendang atau Prabu Brajawisesa (989 – 1012 M), ia digantikan oleh puteranya yang bergelar Prabu dewa Sanghyang (1012 – 1019 M). Raja ini wafat dipertapaan sehingga disebut sang mokteng patapan. Raja berikutnya adalah puteranya yaitu Prabu Sanghyang Ageung selama 11 tahun (1019 – 1030 M), Ia dipusarakan di tepi Situ Sanghyang yang mungkin terletak di Desa Cibalatarik Tasikmalaya. Pengganti Dewa Sanghyang adalah Sri Jayabupati (1030 – 1042 M), gelar yang ia dapatkan dari Prabu Darmawangsa, mertuanya sebagai hadiah perkawinan yaitu Maharaja Sri Jayabupati Jayamanhen Wisnumurti Samarawijaya Sakalabuana- mandalawaranindita Harogowardana Wikrametunggadewa dan nama Sundanya menurut Carita Parahiyangan adalah Prabu Detya Maharaja. Namun dalam Pustaka Nusantara I/4 tertulis Prabu Satya Maharaja atau Setya Maharaja. Dalam hal ini ada kemungkinan Carita Parahiyangan yang benar karena dalam naskah-naskah Wangsakerta ada beberapa kejadian salah tulis; huruf DA ditulis SA seperti; dwitya ditulis switya, wadwa ditulis waswa. Jayabupati digantikan oleh puteranya yaitu Prabu Darmaraja yang dipusarakan di Winduraja (1042 – 1065 M). Ia digantikan oleh Prabu Langangbumi (1065 – 1155 M), menantunya,. Raja ini di pusarakan di Kerta. Penggantinya adalah puteranya yaitu Rakeyan Jayagiri alias Prabu Menakluhur Langlangbumisuta (1155 - 1157 M). Dalam Carita Parahiyangan masa pemerintahan raja ini tergabungkan ke dalam masa pemerintahan ayahnya karena tokoh ini tadak disebut. Ia digantikan oleh puteranya yaitu Prabu Darmakusuma (1157 – 1175 M) yang dipusarakan di Winduraja. Raja berikutnya adalah Prabuguru Darmasiksa (1175 – 1297 M). Ia disebut juga Sang Paramarta Mahapurusa atau Prabu Sanghiyang Wisnu dan dalam cerita Parahiyangan dianggap sebagai penjelmaan Wisnu atau Patanjala. Ada dua sumber yang menyebutkan bahwa raja ini memerintah selama 122 tahun. Isterinya yang pertama adalah seorang Puteri Sriwijaya, sedangkan isterinya yang kedua berasal dari Darma Agung (sekarang desa Darma) yang terletak di Kecamatan Kadu Gede, Kuningan. Saunggalah yang pertama terletak di sebelah utaranya (Desa Ciherang) sedangkan Sanunggalah yang kedua dibangun oleh Darmasiksa terletak di daerah Mangunreja, Tasikmalaya. Penggantinya adalah puteranya dari puteri Sriwijaya yaitu Rakeyan Saunggalah atau Prabu Ragasuci (1927 – 1303 M). Permaisuri Ragasuci adalah Dara Puspa puteri raja Melayu Darmasraya yang bernama Trailokyaraja Maulibusana Warmadewa yang juga jadi mertua Prabu Kertanegara dari Singasari. Ragasuci berkedudukan di Saunggalah (Tasikmalaya) dan setelah wafat dipusarakan di Taman. Raja berikutnya adalah Citraganda yang ditunjuk oleh Darmasiksa sebagai ahli warisnya di Pakuan. Ia putera Prabu Ragasuci dari Dara Puspa. Hubungan kekerabatannya dengan keraton Majapahit sangat erat. Raden Wijaya adalah kakak-sepupunya karena Jayadarma, ayah Wijaya, adalah kakak Prabu Ragasuci. Demikian pula Dara Petak salah seorang isteri Wijaya adalah kakak-sepupunya dari pihak ibu. Dara Petak (adik dara Jingga) adalah puteri Kertanegara dari Dara Kencana kakak dara Puspa ibunda Prabu Citraganda. Dara Petak adalah ibunda Prabu Jayanagara raja Majapahit yang kedua. Prabu Citraganda (1303 – 1311 M) dipusarakan di Tanjung. Ia digantikan oleh puteranya yaitu Prabu Linggadewata (1311 – 1333 M). Raja ini dapat dianggap raja peralihan karena setelah ia wafat raja-raja berikutnya memerintah di Kawali. Sangat mungkin ia sendiri mengakhiri masa pemerintahannya di Kawali. Raja ini dipusarakan di Kikis. ......Diambil dari Buku Sejarah Jawa Barat (rintisan penelusuran masa silam) Jilid ke-3. PEMDA Tk. I Jawa Barat tahun 1983-1984 hal. 24 – 27.......... Quote:
![]() Spoiler: Last edited by de_martinz; 5 July 2010 at 11:11. |
|
#2
|
||||
|
||||
|
Tarusbawa naik tahta kerajaan dalam tahun 669 M sebagai penguasa Tarumanagara.. Setahun kemudian ia mengganti nama negaranya menjadi SUNDA, lalu ia harus berbagi kekuasaan dengan Wretikandayun, pendiri Kerajaan Galuh. Walau pun demikian, dalam tahun 669 M dia masih sempat berkirim surat kepada raja-raja tetangga sahabat yang memberikan penobatan dirinya sebagai penguasa Tarumanagara yang baru, menggantikan mertuanya, Maharaja Linggawarman. Itulah sebabnya dalam sumber-sumber berita Cina tercatat bahwa kedatangan duta Tarumanagara yang terakhir ke negeri tersebut terjadi tahun 669 M. Mudah dipahami karena sejak tahun 670 M Tarumanagara sudah dipecah menjadi dua kerajaan yaitu : SUNDA dan GALUH dengan Sungai Citarum sebagai batas kekuasaan masing-masing.
Tindakan lain yang dilakukan Tarusbawa ialah pemindahan ibukota kerajaannya dari daerah Bekasi ke daerah pedalaman. Hal ini dapat kita ketahui dari berita Kropak 406 yang kadang-kadang disebut Carita Parahiyangan bagian II atau fragmen Carita Parahiyangan. Naskah tersebut memberitakan pembangunan istana baru . Di inya urut kadatwan, ku Bujangga Sedamanah ngaran Sri Kadatwan Bima-Punta-Narayana-Madura-Suradipati. Anggeus ta tuluy diprebokta ku Maharaja Tarusbawa deung Bujangga Sedamanah. Disiar ka hulu Cipakancilan, katimu Bagawat Sunda Mayajati, ku Bujangga Sedamanah dibaan ka hareupeun Maharaja Tarusbawa. (Di sanalah bekas keraton yang oleh Bujangga Sedamanah diberi nama Sri Kedatuan Bima-Punta-Narayana-Madura-Suradipati. Setelah selesai dibangun lalu diberkati oleh Maharaja Tarusbawa dan Bujangga Sedamanah. Dicari ke hulu Cipakancilan, ditemuilah di sana Bagawati Sunda Mayajati; oleh Bujangga Sedamanah dibawa ke hadapan Maharaja Tarusbawa.) Dari Carita Parahiyangan kita mengetahui bahwa istana yang eranama demikian (kelak) ditempati oleh Sri Baduga Maharaja yang terkenal dengan julukan Ratu Sunda atau Ratu Pakuan dalam naskah-naskah yang lebih muda. Lokasinya pun tidak akan jauh dari hulu Cipakancilan. Nama keraton dan lokasinya menunjukkan bahwa keraton yang didirikan oleh Maharaja Tarusbawa ini terletak di kawasan Kelurahan Batutulis di sudut bagian tenggara kota Bogor sekarang. Berita serupa kita temukan dalam Pustaka Nusantara II/3 halaman 204/205. Di sana diberitakan, “Hana Pwanung mangadekna Pakwan Pajajaran lawan kadatwan Sang Bima-Punta-Narayana-Madura-Suradipati ya ta Sang Prabhu Tarusbawa” (Ada pun yang mendirikan Pakuan Pajajaran beserta keraton Sang Bima-Punta-Narayana-Madura-Suradipati adalah Maharaja Tarusbawa). Kedua sumber itu menunjukan bahwa Tarusbawa telah memindahkan pusat pemerintahannya ke daerah pedalaman atau lebih tepatnya lagi ke lokasi kampung Batutulis yang sekarang termasuk Wilayah Kotamadya Bogor. Kata Pakuan dalam bahasa Sunda kuno berarti Istana. Ada bermacam-macam tafsiran dari para ahli tentang arti Pakuan Pajajran. Ini (uraian lengkap tentang hal ini terdapat dalam buku “Sejarah Bogor”, 1983). Pakuan Pajajaran menurut Poerbatjaraka (1921) berarti istana yang berjajar (“aanrijen staande hoven”). Bila dilihat nama istana yang cukup panjang tetapi terdiri atas nama-nama yang berdiri sendiri itu dapat diambil kesimpulan bahwa istana tersebut rupa-rupanya terdiri atas lima buah bangunan yang masing-masing bernama Bima, Punta, Narayana, Madura dan Suradipati. Itulah yang biasa disebut panca persada (5 bangunan keraton) dalam satra klasik. Dalam naskah-naskah Wangsakerta nama yang panjang itu sering disingkatkan menjadi Sang Bima atau Sri Bima saja. Nama Keraton sering meluas menjadi nama ibukota bahkan akhirnya sering menjadi nama negara. Contoh nyata adalah; Ngayogyakarta Hadiningrat dan Surakarta Hadiningrat yang sebenarnya nama-nama keraton sekarang meluas menjadi nama ibukota dan juga nama wilayah. Pakuan Pajajaran pun demikian halnya. Nama itu selain nama rangkuman untuk keraton juga menjadi nama dayeuh dan negara (kerajaan). Dalam prasasti-prasasti tembaga peninggalan Sri Baduga yang ditemukan di daerah Bekasi, ada tiga versi nama yang digunakan, yaitu Pakuan Pajajaran (lengkap), Pakuan (tanpa Pajajaran) dan Pajajaran (tanpa Pakuan). Orang Sunda yang kemudian cenderung menggunakan kata Pakuan untuk nama ibukota dan Pajajaran untuk nama negara (Kerajaan). Dalam tulisan ini pun akan ditempuh penggunaan seperti itu sedangkan untuk menyingkatkan nama keraton akan digunakan nama “Sri Bima”. Pakuan didirikan oleh Maharaja Tarusbawa (669 –723 M). Hal ini dapat kita artikan bahwa Pakuan adalah ibukota Kerajaan Sunda, dan didirikan dalam kwartal pertama abad ke-8 Masehi. Bangunan keraton tentu akan diperbaharui beberapa kali oleh beberapa orang penguasa sekali pun namanya tidak berubah. Kropak 406 menunjukkan bahwa keraton itu pernah dipunar (diperbaharui) oleh Prabuguru Darmasiksa dan Prabu Susuktunggal. Lokasi Keraton ini terletak pada lahan lemah-duwur (lahan datar di atas bukit) yang diapit oleh tiga batang sungai berlereng curam yaitu; Cisadane, Ciliwung dan Cipaku (anak Cisadane). Sebagai berkah di tengah-tengah mengalir Cipakancilan yang ke bagian hulu sungainya bernama Ciawi). Pakuan terlindung oleh lereng terjal pada ke tiga sisinya. Hanyalah pada sisi tenggara kota itu berbatas dengan lahan yang datar. Karena itu pada bagian inilah terdapat benteng atau kuta yang paling besar dengan lebar dasar 7 meter dan tingginya 4 meter serta pada bagian atasnya diperkuat dengan batu. Seperti di Karang Kamulyan (bekas Ibukota Galuh), pada tepi bagian luar benteng tersebut terdapat parit yang merupakan bentuk negatif dari benteng itu. Tanah galian parit inilah yang dijadikan bagan pembangunan benteng. Pakuan sebagai ibukota Sunda tercatat pula dalam “The Suma Oriantal” yang berisi catatan perjalanan Tome Pires (1513). Ia menyebutkan bahwa ibukota kerajaan Sunda yang disebut Dayo (Dayeuh) itu terletah sejauh dua hari perjalanan dari pelabuhan Kalapa. Menurut laporan-laporan VOC, perjalanan dari bekas benteng Pakuan ke muara Ciliwung tempat benteng mereka memakan waktu dua hari. Jadi, sejak Maharaja Tarusbawa sampai abad ke-16 ibukota sunda tetap berada di kawasan kota Bogor yang sekarang. Di badingkan dengan usia keraton Galuh, pakuan lebih muda kira-kira satu abad. Yang jelas ialah : pendapat yang mengemukakan bahwa Pakuan Pajajaran didirikan oleh Sri Baduga Maharaja tidak cocok bahkan bertentangan dengan sumber-sumber sejarah yang ada... ini akan dibahas dalam uraian mengenai prasasti Batutulis. ........Diambil dari Buku Sejarah Jawa Barat (rintisan penelusuran masa silam) Jilid ke-3. PEMDA Tk. I Jawa Barat tahun 1983-1984 hal. 1 - 3............ Quote:
Quote:
![]() Spoiler: Last edited by de_martinz; 5 July 2010 at 09:36. |
|
#3
|
||||
|
||||
|
Spoiler: ........Diambil dari Buku Sejarah Jawa Barat (rintisan penelusuran masa silam) Jilid ke-3. PEMDA Tk. I Jawa Barat tahun 1983-1984 hal. 1 - 3............ Last edited by de_martinz; 5 July 2010 at 09:37. |
|
#4
|
||||
|
||||
|
Hubungan Sunda dengan Sriwijaya
Spoiler: Last edited by de_martinz; 5 July 2010 at 09:39. |
|
#5
|
||||
|
||||
|
SEJARAH LONGSER
Spoiler: Last edited by de_martinz; 5 July 2010 at 09:39. |
|
#6
|
||||
|
||||
|
panjaaaaaannnngggg dan laaaaammmmmaaaaaaa
![]() ![]() ![]() anyway.... nice share....
|
|
#7
|
||||
|
||||
|
Quote:
![]() tapi gak ada thanks sama kiriman niyh
|
|
#8
|
||||
|
||||
|
susah buat dibaca tulisannya.. bikin mata perih..
|
|
#9
|
||||
|
||||
|
saran bagus buat TS.........
__________________
. Quote:
|
|
#10
|
||||
|
||||
|
Saran diterima
|
![]() |
| Bookmarks |
| Thread Tools | |
| Display Modes | |
|
|