|
#11
|
||||
|
||||
|
Legenda Naga Penyebab Banjir
Ada suatu legenda tentang empat orang kakak beradik sekandung yang datang dari lautan untuk bertapa di perbukitan Balikpapan (tapi gak tau bukit yang mana0. Tiga orang menjelma menjadi naga besar yang konon melingkari perbukitan. Seorang lainnya bertapa n berdiri tegak dan menjelma menjadi pohon. Ketiga naga itu bertapa selama masa yang hanya diketahui oleh mereka sendiri. Jika waktu bertapa selesai dan masing-masing naga akan pergi, tanda alam yang terjadi adalah hujan sangat deras(kalo ujan deres artinya naganya pergi). Leluhur warga Balikpapan masih memercayai cerita tersebut. Mereka sangat khawatir apabila hujan turun tiada henti dengan jumlah curah hujan yang besar merupakan pertanda ada naga yang selesai bertapa. Pertanda pertama dikaitkan dengan longsor dan banjir pada 1978. Itulah waktu naga pertama selesai bertapa. Menurut cerita, naga menuju laut dengan melintasi kawasan Pasar Baru. Setelah hujan reda dan banjir kering, endapan lumpur di jalanan memperlihatkan motif naga. Naga kedua konon selesai bertapa pada 1985 (pas aku lahir dong...rugi gak liat...). Waktu itu, hujan lebat mengakibatkan banjir dan tanah longsor di perbukitan perumahan Pertamina. Saluran besar pembuangan air pecah dan menimpa perumahan penduduk di bawahnya. Setelah hujan reda, masyarakat berbenah. Saat itu warga menemukan bentuk meliuk seperti jalan ular di jalanan kompleks yang menembus pagar kawat yang menuju laut. Seekor naga masih tetap bertapa sampai sekarang. Naga itu dipercaya sebagai yang terbesar. Apabila terjadi hujan lebat tiada henti, mungkin saat itu naga selesai bertapa. Naga itu menurut cerita menampakkan diri meski hanya bagian mata saja. Sebab naga mulai tidak senang dengan kehidupan warga Balikpapan. Berkaitan dengan itu, dari kejauhan di laut, pelaut sering melihat titik merah seperti api. Konon itu mata sang naga. Namun, sebenarnya titik merah itu adalah api cerobong kilang Pertamina. Banjir besar terakhir kali terjadi pertengahan 2006. Ratusan rumah nyaris tenggelam, masyarakat nyaris terisolasi, dan lalu lintas macet total. Penyebab banjir adalah hujan tiada henti selama tiga hari sehingga Sungai Ampal meluap sementara saluran air sudah rusak. Mungkin naga terakhir sudah kembali ke laut. Semoga saja demikian sehingga di masa mendatang tidak banjir lagi. Namun, siapa tahu legenda naga dan banjir ternyata salah ato sapa tau naganya balik lagi ke bukit. Mungkin saja tidak hanya tiga naga yang bertapa tetapi seratus atau seribu bahkan. Kalau demikian, mungkin masih akan lama Balikpapan bebas banjir jika disesuaikan dengan legenda legenda. |
|
#12
|
||||
|
||||
|
Kerajaan Kotawaringin
Berdiri :1615-1948 Digantikan oleh : Provinsi Kalimantan Tengah Ibu kota : Kotawaringin Lama, Pangkalan Bun Bahasa : Banjar, Dayak Darat Agama : Islam Sunni mazhab Syafi'i (resmi); Kaharingan Pemerintahan : Monarki Raja pertama : Pangeran Dipati Anta-Kasuma Raja terakhir : Pangeran Ratu Alidin Sukma Alamsyah Kerajaan Kotawaringin adalah sebuah kerajaan Islam di wilayah yang menjadi Kabupaten Kotawaringin Barat saat ini di Kalimantan Tengah yang menurut catatan istana al-Nursari (terletak di Kotawaringin Lama) didirikan pada tahun 1615 [1] atau 1530[2], dan Belanda pertama kali melakukan kontrak dengan Kotawaringin pada 1637, tahun ini dianggap sebagai tahun berdirinya [3] sesuai dengan Hikayat Banjar dan Kotawaringin (Hikayat Banjar versi I) yang bagian terakhirnya saja ditulis tahun 1663 dan diantara isinya tentang berdirinya Kerajaan Kotawaringin pada masa Sultan Mustain Billah. Kotawaringin merupakan nama yang disebutkan dalam Hikayat Banjar dan Kakawin Negarakretagama, seringpula disebut Kuta-Ringin, karena dalam bahasa Jawa, ringin berarti beringin.[4] Negeri Kotawaringin disebutkan sebagai salah daerah di negara bagian Tanjung Nagara (Kalimantan-Filipina) yang tunduk kepada Majapahit. Sebelum diperintah langsung oleh Dinasti Banjarmasin, Kotawaringin menjadi wilayah Kerajaan Tanjungpura yang diperintah oleh orang Melayu. Tanjungpura menguasai wilayah dari Tanjung Dato (Sambas) sampai Tanjung Puting.[5] Menurut suku Dayak yang tinggal di hulu sungai Lamandau, mereka merupakan keturunan Patih Sebatang yang berasal dari Pagaruyung (Minangkabau). Sejak diperintah Dinasti Banjarmasin, Kotawaringin secara langsung menjadi bagian dari Kesultanan Banjar, sehingga sultan-sultan Kotawaringin selalu memakai gelar Pangeran jika mereka berada di Banjar. Tetapi di dalam lingkungan Kotawaringin sendiri, para Pangeran yang menjadi raja juga disebut dengan Sultan.[6] Kerajaan Kotawaringin merupakan pecahan kesultanan Banjar pada masa Sultan Banjar IV Mustainbillah yang diberikan kepada puteranya Pangeran Dipati Anta-Kasuma. Sebelumnya Kotawaringin merupakan sebuah kadipaten, yang semula ditugaskan oleh Sultan Mustainbillah sebagai kepala pemerintahan di Kotawaringin adalah Dipati Ngganding (1615)?. Oleh Dipati Ngganding kemudian diserahkan kepada menantunya Pangeran Dipati Anta-Kasuma. Menurut Hikayat Banjar, wilayah Kotawaringin adalah semua desa-desa di sebelah barat Banjar (sungai Banjar = sungai Barito) hingga sungai Jelai.[7] Jadi pada mulanya wilayah Kerajaan Kotawaringin meliputi wilayah paling barat Provinsi Kalimantan Tengah kemudian termasuk pula desa-desa di sebelah barat negeri Banjar yaitu wilayah Provinsi Kalimantan Tengah saat ini kecuali Tanah Dusun (Barito Hulu). Bahkan Kotawaringin sempat menguasai sebagian Kalimantan Barat dengan menjajah negeri Matan dan Lawai atau Pinoh, serta juga menuntut daerah Jelai sebagai wilayahnya Adipati dan Sultan Kotawariingin. Sultan yang pernah memerintah hingga masuknya penjajah Belanda dengan urutan sebagai berikut: * Tongara Mandi/Dipati Ngganding * Kiai Gede - keponakan Tongara Mandi * (1637-1657) Pangeran Dipati Anta-Kasuma/Ratu Bagawan (putera Sultan Banjar IV) - mangkubumi Kiai Gede[13] * (1657-xxxx) Pangeran Mas Adipati (anak) - mangkubumi Dipati Gading * (1700-1720) Panembahan Kota Waringin (anak) - mangkubumi Dipati Gading * (1720-1750) Pangeran Prabu/Panembahan Derut (anak) - mangkubumi Pangeran Dira * (1750-1770) Pangeran Adipati Muda (anak) - mangkubumi Pangeran Cakra * (1770-1785) Pangeran Panghulu (anak) - mangkubumi Pangeran Anom * (1785-1792) Pangeran Ratu Bagawan (anak) - mangkubumi Pangeran Paku Negara * (1792-1817) Pangeran Ratu Anom Kasuma Yudha (anak) * (1817-1855) Pangeran Imanudin/Pangeran Ratu Anom (anak) * (1855-1865) Pangeran Akhmad Hermansyah (anak) * (1865-1904) Pangeran Ratu Anom Alamsyah I (anak) * (1905-1913) Pangeran Ratu Sukma Negara (paman) * (1913-1939) Pangeran Ratu Sukma Alamsyah (cucu) * (1939-1948) Pangeran Kasuma Anom Alamsyah II (anak) * Pangeran Muasyidin Syah(dynastychief/son of last Pangeran Ratu of K.;f.i. in 2008) * (2010-sekarang) Pangeran Ratu Alidin Sukma Alamsyah (anak Pangeran Ratu Sukma Alamsyah) disadur dari wikipedia |
![]() |
| Bookmarks |
| Thread Tools | |
| Display Modes | |
|
|