VIVAnews Forums
Welcome to VIVAforum!
If this is your first visit, be sure to check out the FAQ by clicking the link above. You may have to register before you can post: click the register link above to proceed. To start viewing messages, select the forum that you want to visit from the selection below.


Reply
 
LinkBack Thread Tools Display Modes
  #1  
Old 8 April 2013, 11:57
kecoeboeng's Avatar
Senior Member
 
Join Date: Dec 2012
Location: 20
Posts: 828
Thanks: 0
Thanked 69 Times in 49 Posts
kecoeboeng super top memberkecoeboeng super top memberkecoeboeng super top memberkecoeboeng super top memberkecoeboeng super top memberkecoeboeng super top memberkecoeboeng super top memberkecoeboeng super top memberkecoeboeng super top memberkecoeboeng super top memberkecoeboeng super top member
Default Upacara Ngaben Tikus di Bali


Upacara Mreteka Merana/Ngaben Tikus, sudah sering dilakukan oleh masyarakat Hindu di Kabupaten Tabanan, khususnya oleh krama subak di wilayah desa pekraman Bedha, desa Bongan , kecamatan Tabanan, kabupaten Tabanan. Mengingat wilayah di desa ini sebagian besar penduduknya hidup dari bercocok tanam, khususnya padi. Sehingga upacara yang berhubungan dengan keselamatan dan kesuburan tanaman, khususnya padi, sudah sering dilaksanakan baik secara rutin seperti Masembuhan dan Nanggeluk Merana maupun tidak rutin (Nabgata Kala) seperti Ngalepeh dan Mreteka Merana.

Upacara Mreteka Merana/Ngaben bikul ini oleh beberapa subak di Bali belum memasyarakat sekali walaupun krama subak di wilayah desa pekraman Bedha sudah sering melakukannya, sehingga upacara ini dianggap sebagai Loka Dresta (kebiasaan setempat) apalagi upacara ini dilaksanakan ditempat suci yaitu di penataran Baleagung Pura Puseh Luhur Bedha, namun dilihat dari hasilnya setelah upacara ini dilaksanakan ternyata telah memberikanh bukti nyata bagi kehidupan para petani.

Mreteka Merana terdiri dari dua kata yaitu kata Mreteka dan kata Merana. Mreteka artinya mengupacarai, Merana artinya hama penyakit. Tujuan dari upacara ini adalah untuk menyucikan roh/atma hama penyakit supaya kembali ke asalnya sehingga tidak kembali menjelma ke bumi sebagai hama penyakit dan merusak segala jenis tanaman yang ada di bumi, khususnya tanaman padi. Pelaksanaan upacara ini sesuai dengan isi lontar (kitab) seperti lontar Sri Purana dan lontar Dharma Pemacula yang menyebutkan Kapreteka, sama luirnya mretekaning wong mati bener artinya diupacarai seperti mengupacarai orang mati. Oleh karena itu, pandangan masyarakat awam pada akhirnya mengkonotasikan upacara Mreteka Merana ini tergolong dalam upacara Pitra Yadnya (Ngaben Tikus) karena upacaranya seperti orang ngaben di Bali yang membawa Cuntaka (tidak suci). Pandangan seperti ini hendaknya perlu diluruskan. Untuk lebih jelasnya, bahwa upacara Mreteka Merana ini tergolong dalam upacara Bhuta Yadnya (mengupacarai sarwa prani) . Bhuta Yadnya adalah upacara yang tidak membawa cuntaka (tidak suci) . Untuk upacara Bhuta Yadnya ada bermacam-macam seperti memakai layang-layang (kulit binatang) ada yang ditanam ada binatang yang diselamkan di laut atau didanau, yang namanya mulang pekelem termasuk di upacarai seperti orang mati yang namanya mreteka merana.

Menurut Lontar Sri Purana dan Dharma Pemaculan, Preteka ring Bale Agung, gesengeng ring tepining samudra, “artinya upacarai di pura Bale Agung dan di bakar di tepi laut”, maka untuk di desa Pekraman Bedha upacara mreteka merana ini dilaksanakan dipenataran Bale Agung Pura Luhur Bedha dan pembakarannya dilasngungkan di pantai Yeh Gangga.

Di desa pekraman Bedha upacara seperti ini dilaksanakan apabila hama tikus dan hama lainnya telah menyebabkan gangguan yang sudah luar biasa dan tidak bisa dikendalikan. Upacara mreteka merana ini sudah lebih dari enam kali dilaksanakan. Pada tahun 2000 pernah dilaksanakan, setelah itu tanaman tidak pernah lagi terserang oleh hama penyakit sampai tahun 2008. Akan tetapi sejak tahun 2008 hama penyakit khususnya hama tikus lagi merajalela sampai tidak bisa dikendalikan. Itulah sebabnya berdasarkan kesepakatan krama subak di wilayah desa pekraman Bedha yang terdiri dari subak Gubug I, subak Gubug II, subak Sakeh, subak Tanah Pegat, subak Lanyah Wanasara, subak Bengkel dan Pangkung Tibah yang luasnya 900 Ha melaksanakan upacara Mreteka Merana.

Tata cara Pelaksanaan Upacara Mreteka Merana

Sesuai dengan isi lontar Kerti Cama dan lontar Purwana Yama Tatwa, tata cara pelaksanaannya sebagai berikut, memakai perwujudan badan wadan wadag (awak awakan) yang disebut sekah, terdiri dari belulang (kulit tikus) . Ini yang diupacarai (diringkes) yang pelaksanaannya seperti mengupacarai orang mati. Oleh karena dalam upacara ini kita menggunakan kulit tikus, sudah barang tentu tikus itu, sebelum upacara kita bunuh. Pembunuhan ini dibenarkan oleh lontar Purwana Yama Tatwa, asal pembunuhan itu tidak menggunakan senjata tajam (Haywa pinatian dening sanjata malandep, apan hilang gunaning sanjata ika, lan ngawe tuaken cuntaka ). Sebab ketajaman senjata itu akan hilang dan menyebabkan cuntaka (tidak suci) Pembunuhan supaya dilaksanakan dengan cara mengikat , dijepit dengan belatung dan duri duri kemudian dibuang ditengah laut.

Sesuai dengan isi lontar Usada Sawah , perwujudan badab wadag (awak awakan) sekah itu terdiri dari 5 buah karena tikus itu adalah penjelmaan ari-ari, darah , yeh nyom (air ketuban) dan lamad. Ari0ari, tikus kuning, darah tikus merah, air ketuban tikus hitam Lamas tikus putih dan ada lagi tikus mancawarna (berwarna lima) Kulit tikus itu yang dipakai perwujudan badan wadag (pengawak) .

Waktu Pelaksanaan Mreteka Merana

Sesuai dengan isi lontar Purwana Yama Tatwa, tata cara mengupacarai tikus itu adalah pada saat bertepatan dengan bulan tikus (kapreteka nangken rasi tikus). Kalau tidak diupacarai ia akan manjadi hama memakan tanaman, semua tanaman petani milik petani, oleh karena tikus dan hama lainnya, lahir dari manusia yang berprilaku yang tidak baik (wang apakrama). Cara mengupacarai sama seperti mengupacarai manusia yang sudah mati (Preteka luirning wong mati bener). Untuk di Desa Pekraman Bedha, upacara ini dilaksanakan apabila hama tikus dan lainnya sudah tidak bisa dikendalikan.
Reply With Quote
  #2  
Old 8 April 2013, 11:59
kecoeboeng's Avatar
Senior Member
 
Join Date: Dec 2012
Location: 20
Posts: 828
Thanks: 0
Thanked 69 Times in 49 Posts
kecoeboeng super top memberkecoeboeng super top memberkecoeboeng super top memberkecoeboeng super top memberkecoeboeng super top memberkecoeboeng super top memberkecoeboeng super top memberkecoeboeng super top memberkecoeboeng super top memberkecoeboeng super top memberkecoeboeng super top member
Default

Lontar Babad Dewa

Dikisahkan babi peliharaan Batara Putrajaya denga rajanya bernama Babi Si Hati, yang dibunuh oleh Batari Danuh, bangkai bangkainya terbuang ke laut. Maka marahlah Batara Baruna (Dewa Laut) , lalu mengutuk bangkai bangkai babi itu. Tulang tulangnya menjadi tikus dan bulunya menjadi walang sangit. Kemudian oleh Batara Baruna memerintahkan untuk merusak tanaman padi di bumi.

Lontar Sri Purana Tatwa

Disini disebutkan, timbulnya hama penyakit itu bila umat hindu lupa melakukan upacara di pura Ulun Suwi, Masceti, Pura Kentel Gumi dan Watu Klotok. Beliau yang bersetana disini adalah penguasa hama. Di pura Masceti penguasa tikus, di pura Sakenan penguasa walang sangit.

Secara Mithologis kisah I Gudug Basur dan I Bawi Srenggi. Kedua duanya ingin mengawini Betari Sri. Maka marahlah suami beliau, Betara Rambut Sedana, kemudian dapat membunuh keduanya. I Gudug Basur menjelma menjadi garam dan ikan laut dan berjanjji akan selalu dekat dengan Betari Sri (berupa makanan ) sedangkan I Bawi Srenggi menjelma , ekornya menjadi tikus , darahnya candang api, napasnya candang aus, yang akan selalu merusak Betari Sri (tanaman padi)

Lontar Usada Sawah

Disini disebutkan bahwa raja tikus itu, berasal dari saudara empat (catur sanak).

- Ari-ari menjadi tikus kuning, berada di barat, milik Batara Mahadewa

- Darah menjadi tikus merah, berada di selatan milik Batara Brahma

- Yeh Nyom, menjadi tikus hitam, berada di utara, milik Betara Wisnu

- Lamas, menjadi tikus putih, berada di timur, milik Betara Iswara

- Adanya tikus mancawarna, sudah barang tentu berada di tengah, milik Sanghyang Siwa Geni


Serangkaian denga upacara mreteka merana, dimana dibuat perwujudan badan wadag sebanyak 5 buah, untuk disucikan setelah suci dikembalikan kepada pemiliknya masing masing menyatu kepada Hyang Pencipta, untuk kembali menjelma menjadi merana.

Lontar Sila Gama Catur Pataka

Lontar ini menyebutkan sumber penyebab merana akibat perbuatan manusia disebut “Apah Krama” yaitu perbuatan terlarang seperti perkawinan sumbang (gamia gamana) misalnya mengawini ibu kandung, adik kandung, dan lain sebagainya.

Lontar Purwana Yama Tatwa

Lontar ini menyebutkan penyebab merana itu berasal dari perbuatan orang yang “ Papa Krama” antara lain orang sudra mengawini Brahmana dan Ksatria, Kesatria mengawini Brahmana, manusia kawin dengan binatang (salah timpal) anaknya menjadi salah wetu (tidak sesuai) anaknya menjadi tikus, ari-ari menjadi walang sangit , air ketuban menjadi basah , Lamas menjadi candang, Getih menjadi mati muncuk. Ini kalau tidak diupacarai dengan pengentas penyucian selamanya akan cemer (kotor) Para dewa akan hilang tidak ada di dunia, sakit tidak henti-hentinya menimpa para pemimpin para mentri dan wiku. Oleh karena itu tikus itu patut diupacarai, seperti mengupacarai orang yang sudah meninggal. Lontar Sri Purana menambhkan, demikian juga lontar Dharma Pemaculan, supaya diupacarai di Bale Agung dan dibakar di tepi laut .

Rangkaian Upacara Mreteka Merana/Ngaben Tikus tahun 2010.

Di Penataran Bale Agung, Pura Puseh Luhur Bedha.


Hari senin, 9 Agustus 2010, Upacara: Ngaturang Pekeling yaitu permakluman kepada Tuhan, akan melakukan upacara mreteka merana. Tempat: Pada pura pura yang berhubungan erat dengan subak, seperti pura ulun Suwi, Kahyangan Tiga , Pekendungan , Batu Ngaus

Hari Rabu, 11 Agustus 2010, Upacara: Menghaturkan caru (sesajen untuk para Bhuta ). Tempat: Di Penghulu sawah, krama subak masing-masing

Hari Jumat, 13 Agustus 2010, Upacara: Menangkap tikus , untuk dicari kulitnya untuk sarana upakara. Tempat: Sawah dan tegalan di subak wilayah desa pekraman Bedha.

Hari Selasa, 12 Oktober 2010, Upacara: Membuat tempat upacara, sarana upakara. Tempat : Di Penataran Bale Agung Pura Puseh Luhur Bedha, dan di tepi pantai Yeh Gangga

Hari Sabtu, 16 Oktober 2010
, Upacara: Nunas tirta pakuluh, memohon air suci, untuk menyelesaikan upacara, yang dimohon dari Tuhan Yang Maha Esa. Tempat: Di Pura (tempat Suci) yang ada kaitannya dengan subak , seperti pura diatas

Hari Senin, 18 Oktober 2010. Upacara:

a. Ngeringkes, yaitu mengupacarai kulit-kulit tikus untuk dijadikan perwujudan badan wadag (awak awakan ) sekah

b. Tarpana Saji, yaitu upacara penyucian badan wadag maupun roh dari merana tersebut, untuk bisa kembali ke asalnya.

c. Menerima tamu undangan, sebagai saksi dan ikut mendoakan agar upacara berjalan dengan lancar dan berhasil sesuai dengan apa yang diharapkan ileh krama subak yaitu hama penyakit tidak lagi mengganggu tanaman, khususnya tanaman padi.
Reply With Quote
  #3  
Old 8 April 2013, 11:59
anaa's Avatar
Platinum Member
 
Join Date: Apr 2011
Location: Prince-News.blogspot
Posts: 21,888
Thanks: 25
Thanked 292 Times in 270 Posts
anaa super top memberanaa super top memberanaa super top memberanaa super top memberanaa super top memberanaa super top memberanaa super top memberanaa super top memberanaa super top memberanaa super top memberanaa super top member
Default

bali emang punya banyak macam tradisi,,,
bangga ane sebagai bangsa Indonesia yang mempunyai pulau dewata segudang budaya,,,
__________________
No Siggy Kakaak
Reply With Quote
  #4  
Old 8 April 2013, 12:00
kecoeboeng's Avatar
Senior Member
 
Join Date: Dec 2012
Location: 20
Posts: 828
Thanks: 0
Thanked 69 Times in 49 Posts
kecoeboeng super top memberkecoeboeng super top memberkecoeboeng super top memberkecoeboeng super top memberkecoeboeng super top memberkecoeboeng super top memberkecoeboeng super top memberkecoeboeng super top memberkecoeboeng super top memberkecoeboeng super top memberkecoeboeng super top member
Default


Hari Selasa, 19 Oktober 2010, Upacara: Pakiriman Ke Segara, yaitu perwujudan badan wadag (sekah), dinaikan ke suatu tempat yang disebut wadah untuk diusung ke tepi pantai Yeh Gangga oleh semua Krama Subak. Di tepi pantai , sekah ini dibakar kemudian abunya dimasukkan ke kelapa muda (nyuh gading) yang namanya puspa asti, setelah diupacarai oleh wiku, kemudian dibuang ke laut, maknanya, roh tikus itu sudah terbebas dari ikatan badan wadag, seperti ngaben. Roh tikus kembali diwujudkan dalam bentuk sekah lagi, dengan sarana daun beringin dan bunga bunga, kemudian diupacarai disucikan lagi, lagi dibakar, dan abunya lagi dimasukkan ke kelapa muda (nyuh gading) dalam wujud puspa lingga. Setelah diupacarai dibuang lagi ke tengah lautan dengan jukung. Maknanya, roh ini sudah terbebas dari ikatan karmanya, segala perbuatan yang buruk waktu di dunia nyata. Sehingga sekarang bisa kembali ke asalnya (Hyang Pencipta) , sehingga tidak kembali menjelma ke dunia sebagai hama penyakit. Upacara ini disebut memukur, seperti mengupacarai orang mati.

Hari Jumat, 22 Oktober 2010, Upacara: Nyalarin, setelah tiga hari menghaturkan upakara di pura pura tempat mohon Tirta Pakuluh (Air Suci Penyelesaian Upacara) sebagai ungkapan terima kasih kepada beliau yang berstana di pura tersebut.

Demikianlah sekilas rangkaian upacara Mreteka Merana/Ngaben Tikus, yang dilakukan oleh umat Hindu, khususnya di desa Pekraman Bedha, berdasarkan petunjuk petunjuk lontar , serta dresta yang berlaku , dalam rangka menyelamatkan tanaman, khususnya tanaman padi, dari gangguan hama penyakit (Merana)
Reply With Quote
  #5  
Old 8 April 2013, 12:19
bayu ninja's Avatar
Super Member
 
Join Date: Feb 2011
Posts: 44,179
Thanks: 32
Thanked 48 Times in 40 Posts
bayu ninja super top memberbayu ninja super top memberbayu ninja super top memberbayu ninja super top memberbayu ninja super top memberbayu ninja super top memberbayu ninja super top memberbayu ninja super top memberbayu ninja super top memberbayu ninja super top memberbayu ninja super top member
Default

Kebudayaan dan adat di bali masih sangat kental ya sampe saat sekarang ini ..
Reply With Quote
  #6  
Old 8 April 2013, 12:28
anaa's Avatar
Platinum Member
 
Join Date: Apr 2011
Location: Prince-News.blogspot
Posts: 21,888
Thanks: 25
Thanked 292 Times in 270 Posts
anaa super top memberanaa super top memberanaa super top memberanaa super top memberanaa super top memberanaa super top memberanaa super top memberanaa super top memberanaa super top memberanaa super top memberanaa super top member
Default

Quote:
Originally Posted by bayu ninja View Post
Kebudayaan dan adat di bali masih sangat kental ya sampe saat sekarang ini ..
iya gan masih kental banget,bener-bener ethnic bangsa yang bisa menjaga budaya,,,salut buat masyarakat bali
__________________
No Siggy Kakaak
Reply With Quote
  #7  
Old 8 April 2013, 12:42
satellit's Avatar
Moderator
 
Join Date: Oct 2012
Location: Bandar Lampung
Posts: 4,975
Thanks: 155
Thanked 2 Times in 2 Posts
satellit super top membersatellit super top membersatellit super top membersatellit super top membersatellit super top membersatellit super top membersatellit super top membersatellit super top membersatellit super top membersatellit super top membersatellit super top member
Default

Quote:
Originally Posted by anaa View Post
iya gan masih kental banget,bener-bener ethnic bangsa yang bisa menjaga budaya,,,salut buat masyarakat bali
budaya2 yang seperti ini yang memperkaya indonesia...
__________________
Quote:

“Be yourself; everyone else is already taken.”
― Oscar Wilde

follow me @satellitsebas

Reply With Quote
  #8  
Old 8 April 2013, 21:40
nindi's Avatar
Platinum Member
 
Join Date: Jun 2011
Posts: 16,030
Thanks: 2
Thanked 123 Times in 111 Posts
nindi super top membernindi super top membernindi super top membernindi super top membernindi super top membernindi super top membernindi super top membernindi super top membernindi super top membernindi super top membernindi super top member
Default

bali sebagai simbol wisata dan kesenian kita dimata internasional memiliki beraneka ragam budaya,..
Reply With Quote
  #9  
Old 9 April 2013, 16:49
hktoyshop's Avatar
Super Member
 
Join Date: Feb 2009
Location: http://hk-toys.com
Posts: 35,479
Thanks: 13
Thanked 568 Times in 359 Posts
hktoyshop super top memberhktoyshop super top memberhktoyshop super top memberhktoyshop super top memberhktoyshop super top memberhktoyshop super top memberhktoyshop super top memberhktoyshop super top memberhktoyshop super top memberhktoyshop super top memberhktoyshop super top member
Default

semua umat beragama di indonesia memang memiliki acara upacara berbeda-beda dan unik-unik..yang harus tetap kita jaga kelestariannya sebagai warga indonesianya..
__________________
mampir gan di mari blog ane yang pingin ketawa
http://gambar.humor-jorok.com
Reply With Quote
  #10  
Old 10 April 2013, 10:56
Subwoofer's Avatar
Silver Member
 
Join Date: Feb 2013
Location: Surabaya
Posts: 3,008
Thanks: 12
Thanked 6 Times in 6 Posts
Subwoofer super top memberSubwoofer super top memberSubwoofer super top memberSubwoofer super top memberSubwoofer super top memberSubwoofer super top memberSubwoofer super top memberSubwoofer super top memberSubwoofer super top memberSubwoofer super top memberSubwoofer super top member
Default

Ruwet juga upacaranya yah... ane belon pernah liat yang beginian waktu ke bali...
Reply With Quote
Reply

Bookmarks

Thread Tools
Display Modes

Posting Rules
You may not post new threads
You may not post replies
You may not post attachments
You may not edit your posts

BB code is On
Smilies are On
[IMG] code is On
HTML code is Off
Trackbacks are On
Pingbacks are On
Refbacks are On



All times are GMT +7. The time now is 03:53.