
21 December 2011, 22:39
|
 |
Junior Member
|
|
Join Date: Jun 2011
Location: http://forum.vivanews.com/fashion/248131-sixpack-builder-free-personal-trainer-pt-online.html
Posts: 382
Thanks: 2
Thanked 2 Times in 1 Post
|
|
Quote:
Quote:
|
Mencari Format Panduan Wisata yang Sesuai
|
Bukan, artikel ini bukanlah tips, tapi lebih kepada sebuah renungan.
Perjalanan selalu membutuhkan riset, kecuali perjalanan itu dilakukan ke daerah yang sudah kita kunjungi puluhan kali atau informasinya benar-benar lekat “luar kepala”.
Setiap riset perjalanan di zaman modern selalu didahului dengan dunia digital: mencari lewat mesin pencari, mengunduhnya jika perlu, lalu mengatur anggaran dan rencana perjalanan lewat perangkat digital pula. Bahkan, pemesanan tiket dan akomodasi pun dilakukan melalui internet.
Ketika sudah sampai di lokasi, apa yang kita lakukan? Kita membuka buku panduan wisata, yang juga pula ada versi digitalnya. Semua disematkan di dalam sebuah aplikasi mobile yang mungil namun memikat. Lebih luas dari itu, ada panduan wisata yang kemudian memuat embel-embel “sosial”, ketika kita bisa membagi pengalaman perjalanan dengan semua orang walaupun orang lain tidak ikut bersama kita.
Namun, apakah semua ini sesuai dengan karakter pelaku perjalanan? Ketika kita berwisata, apa yang menjadi fokus utama kita? Menikmati perjalanan, bukan? Apakah pernah kita alami di sela-sela perjalanan yang kita lakukan, kita justru sibuk melihat layar ponsel atau perangkat keras yang ada di tangan?
Banyak aplikasi mobile justru lebih cocok digunakan di negara maju yang koneksi internet nirkabelnya cukup baik sehingga dapat menerima dan mengirim data secara konstan tanpa hambatan berarti. Namun, apa yang terjadi ketika berkelana di negara yang koneksi internet nirkabelnya cukup buruk, misalnya, Indonesia?

Konsumsi baterai menjadi pertimbangan utama. Selain itu, ketersediaan paket data yang hemat dan berkualitas menjadi pertimbangan lain. Jangan sampai kita justru sibuk mencari koneksi data sehingga pengalaman autentik terlewatkan.
Bagaimana dengan buku panduan versi cetak? Pilihan banyak dan tak harus tergantung oleh koneksi data. Boleh saja, tetapi pengalaman saya pribadi menunjukkan bahwa buku termasuk tidak cukup ringkas untuk dibawa-bawa. Yang tepat barangkali adalah buku yang ukurannya kecil dan informasinya singkat namun akurat. Buku panduan wisata yang tebal cenderung lebih cocok dipelajari sebelum perjalanan, atau ketika punya waktu luang.
Nah, seperti apakah panduan wisata yang ideal? Menurut saya, sebuah panduan wisata itu harus mudah diakses tanpa bergantung koneksi data atau fisik yang terlalu memberatkan. Selanjutnya, panduan wisata itu harus memberikan informasi yang jujur dan memberikan edukasi.
Edukasi di sini bukan berarti menggurui, tetapi mengajak pemirsanya untuk ikut memikirkan kepentingan lokal, misalnya memberitahu bisnis-bisnis lokal yang baik untuk dikunjungi dan dibeli produksinya, dibanding berbelanja di sentra-sentra perbelanjaan kapitalis seperti mal.
Jika panduan wisata itu harus dibawa-bawa, maka usahakan ia tidak mengganggu perjalanan utama dan tidak mengkonsumsi baterai alat terlalu cepat. Jika unsur multimedia dan visual sangat dipentingkan, maka ia lebih cocok dikonsumsi ketika kita dalam kondisi diam, seperti di tempat akomodasi, atau justru dalam proses perencanaan sebelum melakukan perjalanan.
Satu hal yang lagi yang luput dari kebanyakan panduan wisata adalah alur cerita (storytelling). Ketika disodorkan dengan berbagai pilihan informasi, pengguna belum tentu tahu mana yang baik buatnya. Lebih dari sekadar rekomendasi, panduan wisata harus bisa menyuguhkan kemasan cerita yang menarik untuk diikuti oleh pengguna, layaknya “me ” sebuah film hidup, atau menyusuri sebuah museum hidup.
Contohnya, jika berkeliling Jakarta, kita bisa mengemasnya menjadi urut-urutan tertentu, misalnya sesuai narasi kronologis sejarah. Selain belajar tentang sejarah secara tekstual, pengguna pun dapat melihat kondisi terkini situs yang dikunjunginya. Dengan begitu, ia tidak hanya berusaha memenuhi harapan-harapannya, tetapi juga menerima kondisi riil yang ada dan menjadikannya sebuah pembelajaran. Ini semua merupakan bagian dari wadah besar bernama "responsible travel".
|
Quote:
Quote:
|
Bersahabat dengan Gadget Selama Perjalanan
|
Bagi generasi muda, gadget menjadi barang wajib untuk dibawa selama perjalanan. Rasanya, tanpa alat elektronik kesayangan seperti telepon genggam, pemutar lagu portabel, komputer jinjing dan komputer tablet, perjalanan menjadi tak sempurna.
Kebutuhannya tidak lagi sekadar menghubungi keluarga atau teman dekat ketika berada di perjalanan, tetapi lebih luas dari itu: kebutuhan sosial, mendapatkan informasi & pengetahuan, sampai menghibur diri.
Tetapi, jangan sampai kebutuhan ini berubah menjadi ketergantungan. Ketergantungan akan membuat perjalanan kita menjadi tak ubahnya hanya memindahkan fisik, tetapi tidak membuat kita menikmati dan mendapatkan manfaat dari perjalanan itu sendiri.

Jika Anda suka membawa gadget, perhatikan beberapa faktor berikut ini agar gadget Anda justru bermanfaat, tidak membawa mudarat.
Kebutuhan: Sesuaikan jumlah gadget dengan kebutuhan bepergian. Jika bepergian ke sebuah pulau atau pantai di mana kegiatan utamanya adalah olahraga atau rekreasi air, maka kemungkinan gadget yang Anda perlukan hanya ponsel dan kamera saku. Kalau tujuan perjalanan adalah murni dokumentasi, maka Anda bisa membawa kamera dan kit lensa lengkap. Pintar-pintarlah memilih.
Selektif: Usahakan memiliki gadget seringan, seringkas dan selengkap mungkin fiturnya untuk tujuan perjalanan Anda. Misalnya, sebuah ponsel pintar yang bisa membaca dan mengirim email, menelusuri halaman web dan menelepon akan cukup daripada membawa komputer tablet atau komputer jinjing sebagai “tambahan”.
Jika lebih ingin membawa komputer tablet, maka tinggalkan komputer jinjing, dan sebaliknya. Untuk ponsel, cari ponsel yang bisa diganti-ganti kartunya sehingga Anda bisa membeli paket perdana seluler di daerah tujuan.
Efisiensi: Bawalah pemanjang atau pencabang kabel agar bisa mengisi baterai beberapa gadget sekaligus. Bawa baterai cadangan. Pelajari jenis stop kontak yang ada di daerah tujuan. Cari gadget yang hemat energi. Jika membawa hard disk eksternal atau kartu memori kamera, usahakan membawa yang kapasitasnya sangat besar sehingga tidak perlu membawa beberapa alat sekaligus.
Etika: Gadget digunakan pada waktu yang tepat, tidak ketika berinteraksi dengan orang lain, berjalan menyusuri keramaian atau berada di tempat suci, misalnya. Ada waktu di mana Anda bisa menggunakannya sehingga tidak merugikan orang lain.
Selain itu, manfaatkan fitur-fitur di gadget Anda untuk patuh pada kondisi yang berlangsung, misalnya Airport Mode ketika mengudara, non-aktifkan dering telepon ketika berada di tempat penting, atau tidak mengambil foto sembarangan apalagi di tempat-tempat sensitif seperti kedutaan atau fasilitas pemerintah.
Keamanan: Belilah asuransi perjalanan yang mencakup penggantian untuk kehilangan alat elektronik atau bagasi.
Kemas ringkas: Seberapa banyak pun gadget yang dibawa, usahakan mengemasnya seringkas mungkin dan mudah dicapai jika diminta untuk dikeluarkan oleh petugas imigrasi atau keperluan lainnya.
Selamat bepergian dengan gadget-gadget Anda, semoga menyenangkan.
|
sumber:
beberapa sumber...
Quote:
monggo gan mampir ke cerita inspiratif ane:
Ketika Tindakan Lebih Dari Sekedar Kata-Kata
(Pejuang Anak Jalanan)
http://bit.ly/vnjBHT
|
|