VIVAnews Forums
Welcome to VIVAforum!
If this is your first visit, be sure to check out the FAQ by clicking the link above. You may have to register before you can post: click the register link above to proceed. To start viewing messages, select the forum that you want to visit from the selection below.


Like Tree15Likes

Reply
 
LinkBack Thread Tools Display Modes
  #11  
Old 12 February 2010, 19:21
Ani Fitriani's Avatar
Junior Member
 
Join Date: Jan 2010
Location: Selalu Merindukan Seseorang
Posts: 170
Thanks: 29
Thanked 39 Times in 25 Posts
Ani Fitriani super top memberAni Fitriani super top memberAni Fitriani super top memberAni Fitriani super top memberAni Fitriani super top memberAni Fitriani super top memberAni Fitriani super top memberAni Fitriani super top memberAni Fitriani super top memberAni Fitriani super top memberAni Fitriani super top member
Default

19. Dr. Ir. Yogi Erlangga - Matematikawan Numerik Anak Tasik Jawa Barat
Spoiler:

Persamaan Helmholtz Pecah di Tangan Dosen ITB

Persamaan matematika Helmholtz sering dipakai untuk mencari titik lokasi minyak bumi.


Dulu, BJ Habibie menemukan rumus yang mampu mempersingkat prediksi perambatan retak. Banyak lembaga di berbagai negara memakai rumus ini, termasuk NASA di Amerika.

Kini, Yogi Ahmad Erlangga mengulang kesuksesan Habibie. Melalui riset PhD-nya, Yogi berhasil memecahkan rumus persamaan Helmholtz, Desember 2005 lalu. Selama 30 tahun terakhir, tak ada yang berhasil memecahkan persamaan matematika Helmholtz yang sering dipakai untuk mencari titik lokasi minyak bumi itu. Persamaan matematika itu sendiri dikenal sejak satu abad silam.

Media Barat menyebut Yogi sebagai matematikawan Belanda. Padahal, ia adalah pria kelahiran Tasikmalaya, dosen Institut Teknologi Bandung (ITB), dan saat itu sedang menempuh program PhD di Delft University of Technology (DUT).

Keberhasilan itu memuluskan jalan bagi perusahaan perminyakan untuk memperoleh keuntungan yang lebih besar dengan biaya lebih rendah. Selama ini, industri perminyakan sangat membutu*kan pemecahan rumus Helmholtz itu agar bisa lebih cepat dan efisien dalam melakukan pencarian minyak bumi. Setelah Yogi memecahkan persamaan Helmholtz yang selama ini justru banyak dihindari oleh para ilmuwan, perusahaan minyak bisa 100 kali lebih cepat dalam melakukan pencarian minyak — bila dibandingkan dengan sebelumnya.

Tak cuma itu, dari kebutu*an hardware pun, industri minyak bisa mereduksi sekitar 60 persen dari hardware yang biasanya. Sebagai contoh, program tiga dimensi yang sebelumnya diselesaikan dengan 1.000 komputer, dengan dipecahkannya rumus Helmholtz oleh Yogi, bisa diselesaikan hanya dengan 300 komputer.

Yogi mengungkapkan, penelitian mengenai persamaan Helmholtz ini dimulai pada Desember 2001 silam dengan mengajukan diri untuk melakukan riset di DUT. Waktu itu, perusahaan minyak raksasa Shell datang ke DUT untuk meminta penyelesaian persamaan Helmholtz secara matematika numerik yang cepat atau disebut robust (bisa dipakai di semua masalah).

Selama ini, ungkap Yogi, Shell selalu memiliki masalah dengan rumus Helmholtz dalam menemukan sumber minyak di bumi. Persamaan Helmholtz yang digunakan oleh perusahaan minyak Belanda itu membutu*kan biaya tinggi, tak cuma dari perhitungan waktu tetapi juga penggunaan komputer serta memori.

‘’Shell selama ini harus menggunakan rumus Helmholtz berkali-kali. Bahkan, kadang-kadang harus ribuan kali untuk survei hanya di satu daerah saja. Itu sangat mahal dari sisi biaya, waktu dan hardware,'’ ungkap Yogi kepada Republika.

Karena itu, sambung pria yang lulus dengan nilai cum laude saat menyelesaikan pendidikan S1 dan S2 itu, Shell meminta DUT melakukan penelitian yang mengarah pada persamaan Helmholtz agar bisa lebih efisien, cepat, dan kebutu*an hardware yang cukup kecil. Untuk proyek penelitian tersebut, Pemerintah Belanda membiayainya karena proyek ini dianggap sebagai bagian dari kegiatan untuk meningkatkan perekonomian Belanda.

Yogi yang memiliki hobi memasak, melukis, dan olah raga itu, memecahkan rumus Helmholtz setelah berkutat selama empat tahun. Yang membuat penelitian itu lama, ungkap dia, karena persamaan Helmholtz dalam matematika numerik yaitu matematika yang bisa diolah dengan menggunakan komputer.

Karena itu, dalam melakukan penelitian, diperlukan beberapa tahapan yang masing-masing tak sebentar. Apalagi, sambung dia, persamaan ini memang sangat sulit. Ada dua cara untuk menguraikan matematika numerik yaitu secara langsung (direct) dan literasi. ‘’Banyak pakar yang menghindari penelitian untuk memecahkan rumus Helmholtz karena memang sulit,'’ kata pria kelahiran
Tasikmalaya 32 tahun silam ini.

Pakar terakhir yang memecahkan teori Helmholtz adalah Mike Giles dan Prof Turkel, berasal dari Swiss dan Israel, masing-masing dengan caranya sendiri. Teori dari kedua pakar itulah yang kemudian dianalisisnya beberapa waktu sehingga kemudian bisa dioptimalkan dan dijadikan metode yang cukup cepat.

‘’Saya punya persamaan matematika dalam bentuk diferensial. Yang saya lakukan untuk memecahkan rumus Helmholtz itu adalah mengubah persamaan ini menjadi persamaan linear aljabar biasa. Begitu saya dapatkan, saya pecahkan dengan metode direct atau literasi,'’ ujarnya.

Metode langsung, papar Yogi, bila dalam perjalanannya kemudian menemukan masalah yang besar maka akan mahal dari segi waktu dan biaya. Namun metode literasi pun belum tentu bisa memperoleh solusi atau kadang-kadang diperoleh dengan waktu yang cukup lama. Hanya, kata dia, yang pasti, dengan metode literasi selalu murah dari segi hardware.

‘’Persamaan Helmholtz ini bisa diselesaikan dengan literasi tapi kalau dinaikkan frekuensinya, jadi sulit untuk dipecahkan,'’ ujarnya. Yogi memaparkan, untuk mengetahui struktur daerah cekung, misalnya, yang dilakukan adalah meneliti daerah akustik dan kemudian dipantulkan gelombangnya dengan frekuensi tertentu. Pantulan tersebut kemudian direkam. Setelah itu, frekuensi akan dinaikkan misalnya, dari 10 Hz, lalu naik lagi 10,2 Hz, 10,4 Hz, dan seterusnya.

Yang kemudian menjadi persoalan, ungkap dia, ketika frekuensi dinaikkan, persamaan Helmholtz akan semakin sulit untuk diselesaikan. Ia memberikan contoh, Shell hanya bisa menyelesaikan persamaan Helmholtz sampai dengan frekuensi 20 Hz. ‘’Ketika dinaikkan menjadi 30 Hz, mereka tak bisa,'’ katanya.

Kemudian, Yogi memperoleh metode robust yang memungkinkan persamaan Helmholtz untuk dipecahkan dengan frekuensi berapa pun. ‘’Kita sudah melakukan tes 300 Hz tidak masalah. Meskipun, sebenarnya 70 Hz pun sudah cukup untuk pemetaan,'’ ujar penggemar matematika ini.

Tak cuma untuk temukan sumber minyak

Menurut Yogi, selain untuk menemukan sumber-sumber minyak, keberhasilan persamaan Helmholtz ini juga bisa diaplikasikan dalam industri lainnya yang berhubungan dengan gelombang. Persamaan ini digunakan untuk mendeskripsikan perilaku gelombang secara umum. Industri yang bisa mengaplikasikan rumus ini antara lain industri radar, penerbangan, kapal selam, penyimpanan data dalam blue ray disc (keping DVD super yang bisa memuat puluhan gigabyte data), dan aplikasi pada laser.

Mengenai kelanjutan dari penemuannya itu, Yogi mengatakan, karena penelitian ini dilakukan oleh perguruan tinggi, maka persamaan Helmholtz ini menjadi milik publik. ‘’Biarpun dibiayai oleh Shell, tapi yang melakukannya universitas, sehingga rumus ini menjadi milik publik,'’ katanya.

Ia tidak mematenkan rumus temuannya itu. Apalagi, sambung dia, produknya itu berasal dari otak sehingga tidak perlu untuk dipatenkan. ‘’PT Pertamina pun sebenarnya bisa menggunakan rumus ini untuk mencari minyak bumi. Saya sempat diundang oleh Pertamina beberapa waktu lalu, tapi karena ada keperluan, tidak hadir. Memang ada yang mengatakan kalau PT Pertamina tertarik dengan temuan saya, cuma masalahnya Pertamina memiliki software-nya atau tidak,'’ ujar pria yang tak suka publikasi ini.

Menurut Yogi, persamaan Helmholtz ini dalam proses penelitiannya sudah dipresentasikan di banyak negara di dunia. Yaitu, saat intermediate progress selama Desember 2001 hingga Desember 2005. Buku mengenai persamaan Helmholtz yang dibuatnya saat masih di Belanda pun, laris manis.

‘’Tinggal satu (buku) dan saya tak punya fotokopinya lagi,'’ ujar dosen yang kini sibuk dengan beberapa penelitian bersama Prof Turkel. Mengutip Turkel, Yogi mengatakan bahwa persamaan yang ditemukannya itu masih bisa dikembangkan lagi. Namun kini, Yogi akan berkonsentrasi pada postgraduate research di Berlin, Jerman, yang akan memakan waktu selama dua tahun sejak 1 Mei 2006.

Terobsesi Memajukan Indonesia

Setelah menjadi terkenal di dunia matematika karena berhasil memecahkan rumus Helmholtz yang dikenal sangat sulit, dosen Teknik Penerbangan ITB, Yogi Ahmad Erlangga, masih memiliki obsesi yang belum tercapai. Menurut anak pertama dari tiga bersaudara pasangan Mohamad Isis dan Euis Aryati ini, obsesi yang belum tercapai adalah ingin melihat bangsa Indonesia maju.

Karena, kata dia, saat ini Indonesia jauh tertinggal dibandingkan dengan India. Padahal, Indonesia dan India sama-sama sebagai negara berkembang dan banyak masyarakatnya yang miskin. ‘’Meskipun miskin, tapi India sekarang bisa menjadi pusat informasi teknologi (IT) di dunia. Saya ingin Indonesia seperti India, kemiskinan bukan berarti tidak bisa berkembang,'’ ujar Yogi kepada Republika. Khusus untuk ITB, sambung pria kalem kelahiran Tasikmalaya 8 Oktober 1974, obsesinya adalah ingin ITB bisa lebih besar lagi.

Minimal, ITB menjadi perguruan tinggi terbesar di Asia. Karena, kalau hanya terbesar di Indonesia saja, sejak dulu juga begitu. Bahkan, sambung dia, pernyataan itu justru menjadi tanda tanya besar. ‘’Saya pun masih memiliki obsesi pribadi. Keinginan saya adalah ingin melakukan penelitian tentang pesawat terbang, perminyakan, dan biomekanik,'’ kata pemenang penghargaan VNO-NCW Scholarship dari Dutch Chamber of Commerce itu.
__________________
[SIGPIC][/SIGPIC]
Tidak semua yang kita inginkan bisa kita dapatkan dan tidak semua yang kita benci bisa kita tolak
Itulah hidup, kita belajar untuk menerima hal-hal seperti itu

Reply With Quote
  #12  
Old 12 February 2010, 20:35
Ani Fitriani's Avatar
Junior Member
 
Join Date: Jan 2010
Location: Selalu Merindukan Seseorang
Posts: 170
Thanks: 29
Thanked 39 Times in 25 Posts
Ani Fitriani super top memberAni Fitriani super top memberAni Fitriani super top memberAni Fitriani super top memberAni Fitriani super top memberAni Fitriani super top memberAni Fitriani super top memberAni Fitriani super top memberAni Fitriani super top memberAni Fitriani super top memberAni Fitriani super top member
Default

20. Liem Tiang Gwan - Ahli Radar Eropa Asli Semarang
Spoiler:



Anda yang pernah atau berkali-kali mendarat di Bandara Heathrow, London, Inggris, barangkali tidak mengetahui bahwa radar (radio detection and ranging) yang digunakan untuk memantau dan memandu naik-turunnya pesawat dirancang oleh putra Indonesia kelahiran Semarang. Selain itu, banyak negara di Eropa serta militer menggunakan jasanya untuk merancang radar pertahanan yang pas bagi negaranya.

Itulah Liem Tiang-Gwan, yang selama puluhan tahun bergelut dan malang melintang dalam dunia antena, radar, dan kontrol lalu lintas udara. Maka, bagi mereka yang biasa berkecimpung dalam dunia itu, pasti tidak asing dengan pria kelahiran Semarang, 20 Juni 1930, ini.

Namanya sudah mendunia dalam bidang radar, antena, dan berbagai seluk-beluk sistem gelombang elektromagnetik yang digunakan untuk mendeteksi, mengukur jarak, dan membuat peta benda-benda, seperti pesawat, kendaraan bermotor, dan informasi cuaca.

”Sekolah saya dulu berpindah-pindah. Saya pernah di Jakarta, lalu di Taman Siswa Yogyakarta, kemudian menyelesaikan HBS (Hoogere Burgerschool) di Semarang tahun 1949. Setelah itu, saya masuk Institut Teknologi Bandung dan meraih sarjana muda tahun 1955. Saya melanjutkan studi di Technische Universiteit (TU) Delft, lulus tahun 1958,” ujar pria yang kini berusia 78 tahun dan bermukim di kota Ulm, negara bagian Bavaria, Jerman.

”Lalu saya ke Stuttgart dan bekerja sebagai Communication Engineer di Standard Elektrik Lorenz, yang sekarang dikenal dengan nama Alcatel,” kata Liem.

Meskipun sudah bekerja dan mendapatkan posisi yang lumayan, Liem muda masih berkeinginan untuk kembali ke Tanah Air. Ia masih ingin mengabdikan diri di Tanah Air. Maka, tahun 1963 ia memutuskan keluar dari tempatnya bekerja di Stuttgart dan kembali ke Indonesia.

”Apa pun yang terjadi, saya harus pulang,” ujarnya mengenang.

Hidup berubah

Niat untuk kembali ke Tanah Air sudah bulat. Barang-barang pun dikemas. Seluruh dana yang ada juga dia bawa serta. Liem muda menuju pelabuhan laut untuk ”mengejar” kapal yang akan menuju Asia dan mengantarnya kembali ke Tanah Air. Kapal, itulah sarana transportasi yang paling memungkinkan karena pesawat masih amat terbatas dan elitis.

Namun, menjelang keberangkatan, Liem mendapat kabar bahwa Indonesia sedang membuka konfrontasi dengan Malaysia. Karena itu, kapal yang akan ditumpangi tidak berani merapat di Tanjungpriok, Jakarta. Kapal hanya akan berlabuh di Thailand dan Filipina. Maka, bila Liem masih mau kembali ke Indonesia, ia harus turun di salah satu pelabuhan itu.

”Saat itu saya benar-benar bingung. Bagaimana ini? Ingin pulang, tetapi tidak bisa sampai rumah, malah terdampar di negeri orang. Saya memutuskan untuk membatalkan kepulangan. Seluruh koper dan barang bawaan diturunkan lagi, padahal saat itu uang sudah habis. Tetapi dari sinilah, seolah seluruh hidup saya berubah. Saya kembali lagi bekerja di Stuttgart sebagai Radar System Engineer di AEG-Telefunken. Perusahaan ini sekarang menjadi European Aeronautic Defence and Space (EADS),” katanya.

Sejak itu, karier Liem di bidang gelombang elektromagnetik dan dunia radar semakin berkibar. Setelah bekerja di EADS, ia diminta menjadi Kepala Laboratorium Radarsystem-theory tahun 1969-1978, disusul kemudian Kepala Seksi (bagian dari laboratorium), khusus menangani Systemtheory and Design, untuk sistem radar, pertahanan udara, dan Sistem C3 (Command Control Communication). Sebelum pensiun pada tahun 1995, Liem masih menjabat sebagai Kepala Departemen Radar Diversifications and Sensor Concepts.

”Meski sudah pensiun, hingga tahun 2003 saya masih diminta menjadi consulting engineer EADS,” tambahnya.

Paten

Perannya yang amat besar dalam bidang radar, sensor, dan gelombang elektromagnetik membawa Liem untuk mematenkan sejumlah temuannya. Puluhan temuannya diakui berstandar internasional, kini sudah dipatenkan.

”Yang membuat saya tergetar, ketika menyiapkan Fire Control and Battlefield Radars, Naval Fire Control Radar dan sebagainya. Ini kan untuk perang dan perang selalu membawa kematian. Juga saat saya merancang MSAM Systems: Hawk Successor; Airborne High Vision Radar dan sebagainya,” kata Oom Liem.

Dia menambahkan, ”Saya sendiri sudah tidak ingat lagi berapa rancangan radar, antena, dan rancangan sinyal radar yang sudah saya patenkan. Itu bisa dibuka di internet.”

Indonesia

Secara sederhana, ilmu tentang elektro yang pernah ditekuni selama belajar, coba dikembangkan oleh Om Liem. Dalam sistem gelombang radio atau sinyal, misalnya, ketika dipancarkan, ia dapat ditangkap oleh radar, kemudian dianalisis untuk mengetahui lokasi bahkan jenis benda itu. Meski sinyal yang diterima relatif lemah, radar dapat dengan mudah mendeteksi dan memperkuat sinyal itu.

”Itu sebabnya negeri sebesar Indonesia, yang terdiri dari banyak pulau, memerlukan radar yang banyak dan canggih guna mendeteksi apa pun yang berseliweran di udara dan di laut. Mata telanjang mungkin tidak bisa melihat, apalagi dengan teknologi yang semakin canggih, pesawat bisa melintas tanpa meninggalkan suara. Semua itu bisa dideteksi agar Indonesia aman,” tambah Liem.

Akan tetapi, berbicara mengenai Indonesia, Liem lebih banyak diingatkan dengan sejumlah kawan lama yang sudah sekian puluh tahun berpisah. ”Tiba-tiba saja saya teringat teman-teman lama, seperti Soewarso Martosuwignyo, Krisno Sutji, dan lainnya. Saya tidak tahu, mungkinkah saya bertemu mereka lagi?” ujarnya sambil menerawang jauh melalui jendela kaca di perpustakaan pribadinya.
__________________
[SIGPIC][/SIGPIC]
Tidak semua yang kita inginkan bisa kita dapatkan dan tidak semua yang kita benci bisa kita tolak
Itulah hidup, kita belajar untuk menerima hal-hal seperti itu

Reply With Quote
  #13  
Old 12 February 2010, 20:41
Ani Fitriani's Avatar
Junior Member
 
Join Date: Jan 2010
Location: Selalu Merindukan Seseorang
Posts: 170
Thanks: 29
Thanked 39 Times in 25 Posts
Ani Fitriani super top memberAni Fitriani super top memberAni Fitriani super top memberAni Fitriani super top memberAni Fitriani super top memberAni Fitriani super top memberAni Fitriani super top memberAni Fitriani super top memberAni Fitriani super top memberAni Fitriani super top memberAni Fitriani super top member
Default

21. Ir. ADI RAHMAN ADIWOSO MSc - Pelopor Teknologi Baru dalam Telepon Bergerak Berbasis Satelit
Spoiler:








Berbekal keahliannya di bidang telekomunikasi satelit, ia menghasilkan teknologi sekaligus produk baru yang belum ada di pasaran dunia. Inovasi Adi memungkinkan komunikasi lewat telepon genggam bisa dilakukan di mana saja. Ketika jaringan kabel belum menjangkau dan telepon seluler konvensional kehilangan sinyal, sistem telekomunikasi temuannya tetap “on”.

“Selama di atas kepala terlihat langit, komunikasi lewat telepon genggam bisa dilakukan”, kata Adi, Chief Executive Officer & President Director PT. Pasifik Satelit Nusantara (PSN), yang juga menduduki jabatan yang sama di Asia Cellular Satelite (ACeS). Alat telekomunikasi bebas blank spot dan irit tempat ini dimungkinkan berkat ide memasang satelit telekomunikasi di orbit geostationer. Di lintasan imajiner yang letaknya 36.000 km di atas permukaan bumi itulah, Adi menempatkan satelit Garuda 1. Satelit gagasannya itu berbobot 4,5 ton yang dilengkapi dua antena payung kembar selebar 12 meter dan mampu menjangkau sepertiga kawasan dunia. Karena ukurannya cukup besar, intensitas pancaran sinyalnya juga cukup besar.

Peluncuran satelit sipil terbesar di dunia pada Februari 2000 itu kontan membuat ciut para operator telepon satelit dunia. Ketika itu, bisa dibilang, seluruh satelit telekomunikasi dunia diluncurkan di orbit rendah (600 – 1.000 km) dan menengah (7.000 – 10.000 km). Daya jangkau satelit-satelit itu terbatas. Agar dapat meliput satu belahan dunia butu* sekitar 60 satelit berorbit rendah atau 12 satelit berorbit menengah. Kelemahan lain pengoperasian sistem telekomunikasi satelit pada telepon bergerak ketika itu adalah pesawatnya yang tidak praktis. Perangkat telepon bergerak yang bisa digunakan untuk berkomunikasi via satelit ukurannya lumayan besar, hampir sebesar kopor traveling. Untuk mengoperasikannya juga perlu stasiun bumi, berupa antena parabola berdiameter satu meter.

Terobosan yang dilakukan Adi tak hanya memperluas cakupan satelit, juga memperkecil dimensi pesawat telepon bergerak berbasis satelit ini. Dengan daya pancar 10 kw, sinyal Garuda 1 bisa diterima dengan pesawat telepon genggam yang sekaligus merupakan stasiun bumi. ”Inilah stasiun bumi terkecil dan termurah yang pernah dibuat manusia”, ujar Adi sambil menunjukkan telepon genggam Ericsson R190. Jaringan telepon satelit yang berinduk ke Garuda 1 itu kemudian dikemas dengan merek dagang Byru.

Cara kerja telepon ini sangat bergantung pada Garuda 1, yang dikendalikan fasilitas pengontrol satelit di pulau Batam. Di situ juga dibangun pusat kendali jaringan (network control center – NCC), yakni pengatur arus percakapan dengan panel pengaturnya. Garuda 1 mampu melayani 22.000 pembicaraan pada saat bersamaan. Selain itu, dibangun pula sebuah pintu gerbang (gateway) yang berfungsi sebagai operator lokal. Dengan Byru, pelanggan bisa menghubungi sesama telepon satelit, ke telepon GSM serta ke telepon rumah. Tiap permintaan sambungan akan dilakukan melalui satelit. Permintaan itu dianalisis oleh NCC Batam, untuk menentukan identitas penelepon dan menentukan gateway mana yang cocok dengan tujuan panggilan. Setelah itu, permintaan sambungan akan diteruskan ke telepon tujuan. Pembicaraan pun berlangsung. Semua proses itu berjalan sangat cepat, hanya dalam hitungan detik.

Untuk mewujudkan gagasan itu, Adi memang tak melakukannya sendirian. Meskipun Garuda 1 dibuat oleh Hughes Aircraft (dimana ia pernah bekerja), Amerika Serikat dan R190 dibuat Ericsson, Swedia, rancangannya dibuat sendiri oleh Adi dan timnya di PT Pasifik Satelit Nusantara (PSN), yang didirikan Adi dan Prof Dr. Ir. Iskandar Alisjahbana (guru besar ITB) pada 1991. Bersama guru besar dan mantan rektor ITB itulah, lahir Byru dan Pasti – merek dagang sistem telepon satelit buatan PSN. ”Kekuatan Adiwoso adalah kewirausahaannya”, kata Iskandar. Tanpa keberanian memasarkan sendiri, bisa jadi temuan telepon satelit geostationer itu cuma jadi prototipe di laboratorium. Atau malah menjadi barang dagangan perusahaan asing yang mampu memodali temuan tersebut.

Dengan perangkat telekomunikasi PSN ini, Byru, Pasti (Pasang Telepon Sendiri) dan jasa internet Bina (Balai Informasi Nusantara), penduduk-penduduk daerah yang tak terjangkau jaringan telepon kabel dan nirkabel lainnya tetap bisa bertelepon-ria dan menjelajah informasi lewat internet. Pada akhir 2003, PSM mengklaim telah membebaskan 2.975 desa di 40 kabupaten di Indonesia dari isolasi telekomunikasi dengan perangkatnya yang berbasis satelit.

Kemampuannya mengembangkan bisnis telepon satelit, ketika pesaingnya megap-megap (salah satunya, Iridium malah sudah bangkrut), sedikit banyak tak lepas dari pengalamannya berkecimpung di bisnis satelit. Setelah meraih gelar kesarjanaan di bidang aeronautical dan astronautical engineering dari Universitas Purdue, Amerika Serikat, Adi bekerja di Hughes Aircraft Company. Di situ ia ikut dalam proses pembuatan satelit Palapa pesanan Indonesia. Setelah delapan tahun bekerja di perusahaan pembuat satelit itu bersama koleganya, Adi mendirikan Orion Satellite Asia Pacific di Washington DC. Lantaran keasyikan bekerja, niatnya menggaet program doktor di California Institute of Technology gagal tuntas. Cita-citanya menjadi ahli pesawat terbang pun terlupakan.

Lama di rantau tak menghilangkan kerinduannya pada kampung halamannya. Ia menampik tawaran green card, tiket menjadi warga negara Amerika Serikat dan memilih bekerja di negeri sendiri. Pada 1982, ia boyongan ke Jakarta. Tapi belum genap sewindu bekerja di Tanah Air, Adi memilih pensiun dini. Kecintaannya pada alam di Tanah Air membulatkan tekadnya untuk berkelana dari Ujung Kulon hingga Maumere. Sampai suatu ketika, Iskandar meminta pendapatnya tentang rencana penjualan satelit Palapa B-1 yang sudah habis masa pakainya. Satelit ”rongsokan” itu sudah ditaksir sebuah perusahaan di Amerika seharga US$ 50,000. Mendapat informasi itu, otak bisnisnya bekerja. ”Ngapain dijual. Kita jalankan saja”, kata Adi. Maka terbentuklah PT Pasifik Satelit Nusantara (PSN) pada 1991. Modal awalnya, dari urunan Adi dan Prof Dr. Ir. Iskandar Alisyahbana untuk membeli Palapa B-1. Lantas titik orbit satelit digeser ke timur, sehingga mampu mencakup pulau-pulau kecil di Pasifik. Namanya berubah jadi satelit Pasifik 1. Adi pun mulai menyetir bisnis ini. Hingga berkembang, dari ”sekadar” mengoperasikan dan menyewakan Pasifik 1, PSN kemudian melangkah ke yang lebih besar jangkauannya. Bersama timnya di PSN, keahliannya di bisnis satelit dieksplorasi lebih intensif lagi dengan mendirikan ACeS pada 1994. Di situ, PSN memegang 35% saham dan menggandeng Lockheed Martin, Philippines Long Distance Global Telecommunications (PLDT) serta Jasmine International (Thailand) sebagai mitra.

Untuk mewujudkan ambisi menciptakan sistem telekomunikasi berbasis satelit dengan teknologi GSM (global system for mobile communication), ACeS juga masuk ke Bursa Nasdaq, New York. Dengan modal US$ 750 juta, meluncurlah Garuda 1 ke angkasa. Tak lama berselang, Byru meluncur pula ke pasar. Keberhasilan Garuda 1 membuat nama ACeS berkibar. Di Tanah Air, produk layanan PSN berkembang. Selain bermain di bisnis komunikasi satelit, PSN juga masuk ke bisnis multimedia dengan meluncurkan Multi Media Asia. Semuanya berbasis satelit. (A. Kukuh Karsadi)
__________________
[SIGPIC][/SIGPIC]
Tidak semua yang kita inginkan bisa kita dapatkan dan tidak semua yang kita benci bisa kita tolak
Itulah hidup, kita belajar untuk menerima hal-hal seperti itu


Last edited by Ani Fitriani; 12 February 2010 at 20:47.
Reply With Quote
  #14  
Old 12 February 2010, 20:52
Ani Fitriani's Avatar
Junior Member
 
Join Date: Jan 2010
Location: Selalu Merindukan Seseorang
Posts: 170
Thanks: 29
Thanked 39 Times in 25 Posts
Ani Fitriani super top memberAni Fitriani super top memberAni Fitriani super top memberAni Fitriani super top memberAni Fitriani super top memberAni Fitriani super top memberAni Fitriani super top memberAni Fitriani super top memberAni Fitriani super top memberAni Fitriani super top memberAni Fitriani super top member
Default

22. Prof. Ir. Said D. Jenie, ScD (Aernautics) - Chief Designer and Technology IPTN
Spoiler:
"Ia adalah seorang yang luar biasa di bidangnya," kata pakar dirgantara Adi Sadewo Salatun saat menyampaikan kesannya terhadap pakar aerodinamika, Prof Dr Said Djauharsjah Jenie, Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) yang menghembuskan nafas terakhirnya pada Jumat pukul 07.48 WIB. Ilmu dan keahlian di bidang dinamika wahana antariksa berbadan besar yang elastis yang ditekuni Said adalah bidang yang sangat rumit dan disegani.

"Karyanya yang paling menonjol adalah N-250, pesawat pertama di dunia kelas two-engine, fly by wire (terkomputerisasi) dengan 50 penumpang, yang dirancangnya dari mulai disain hingga terbang," ujarnya.

Doktor lulusan Massachusetts Institute of Technology (MIT) di Amerika Serikat (AS) itu, menurut Salatun, bahkan tidak segan-segan turut terbang ke udara pada percobaannya. Saat itu, Said masih menjabat sebagai Direktur Teknologi Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN), yang kemudian menjadi PT Dirgantara Indonesia (DI).

Salatun juga menyesalkan, maha karya tersebut terpaksa dihentikan setelah dibuat dua unit. Padahal, ia menilai, permintaan masyarakat dunia dan domestik untuk pesawat sekelas N-250 itu tinggi, apa lagi harganya bersaing.

Selain N-250, Said juga menjadi salah seorang tokoh untuk pesawat hasil kerjasama dengan Casa Spanyol, CN-235 yang kemudian sangat laku di pasar dunia, termasuk Angkatan Udara AS yang membeli 50 unit untuk versi Casa.

"Tidak ada orang Indonesia seahli dia, selain teorinya kuat, praktiknya pun kuat. Kita kehilangan putera terbaik di bidang kedirgantaraan yang banyak menyumbangkan keahliannya dalam soal pesawat dan roket," katanya.

Sementara itu, Menteri Negara Riset dan Teknologi (Menristek), Kusmayanto Kadiman, berkomentar bahwa Said Djauharsjah Jenie adalah sosok yang sangat pendiam, namun akan menjadi sangat cerewet jika dipancing untuk bicara seluk-beluk teknologi dirgantara, baik mengenai sejarahnya sampai pada hal-hal yang futuristik.

Said juga memegang teguh nilai-nilai luhur dalam ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) khususnya soal validitas, ujar Kusmayanto, sehingga ia tidak pernah terperangkap pada berita selentingan, rumor dan cerita isapan jempol.

"Sebagai insinyur, beliau selalu mengatakan bahwa jangan pernah mengaku insinyur, jika tak punya kemampuan dan pengalaman merancang karya teknologi, yang dia pegang teguh dan sungguh-sungguh diterapkannya di BPPT dan PT Dirgantara Indonesia," katanya.

Sebagai pengajar, Said yang wafat pada usia 58 itu sangat disiplin, dan terkenal sebagai orang yang mengajar sepenuh hati dengan menyampaikan teori-teori lengkap dengan contoh-contoh nyata sesuai pengalamannya, tambah Kusmayanto.

Said mengawali karirnya sebagai staf pengajar di Institut Teknologi Bandung (ITB) sejak 1974, hingga akhirnya menjadi Kepala Lab Ilmu-ilmu Fisika Terbang Jurusan Teknik Mesin ITB, dan menjadi Ketua Jurusan Teknik Penerbangan hingga Guru Besar ITB sampai akhir hayatnya.

Alumni ITB Jurusan Teknik Penerbangan sejak 1973 itu meneruskan kuliahnya ke perguruan tinggi bergengsi di MIT Jurusan Aeronautics and Astronautics yang mendapat gelar master pada 1978, dan kembali meneruskan studi di tempat yang sama di jurusan astrodynamics hingga lulus pada 1982 bergelar doktor.

Selama kuliahnya di AS, Said juga sempat menjadi asisten dosen dan menjadi asisten penelitian di universitas ternama itu, bahkan bersama MIT sempat bekerjasama dengan Badan Antariksa AS (NASA).

Pada masa mudanya itu, ia juga sempat menjadi peneliti di Divisi Riset Independen Charles Stark Draper Lab di AS, dan peneliti di universitas tekbik (TU) Delft, Belanda.

Said meski ditinggal wafat ayahnya sejak usia setahun, bersama Prof DR Umar Anggara Jenie, saudara kembarnya yang Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang lahir di Solo 22 Agustus 1950, dan dua saudaranya yang lain, tetap berprestasi.

Karir Said di luar dosen juga mengagumkan, dari mulai menjadi Kepala Program Uji Terbang Pengembangan dan Sertifikasi CN-235 di IPTN pada 1982 sampai menjadi Direktur Teknologi di IPTN pada 1999, juga menjadi Staf Ahli Dinas Penelitian dan Pengembangan (Dislitbang) Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU) sejak 1989, dan Instruktur Guidance and Control Program Roket Kendali di Pusat Teknologi Dirgantara Lembaga Antariksa Nasional (Lapan) sejak 1987.

Di BPPT, ia mengawali karir menjadi Kepala Tim Pengembangan Laboratorium Mekanika Terbang pada 1987 sampai menjadi pejabat tertinggi di badan tersebut sampai dengan tutup usia.

Said juga menjadi anggota dari berbagai organisasi nasional dan internasional, seperti Himpunan Astronomi Indonesia (HAI), hingga Institut Aeronotika Astronautika Indonesia (IAAI).




Powerplants
Two 2439kW (3271shp) Allison AE 2100C turboprops driving six blade constant speed Dowty Rotol propellers.

Performance
N25050 - Max cruising speed 610km/h (330kt), economical cruising speed 555km/h (300kt). Initial rate of climb 1970ft/min. Service ceiling 25,000ft. Range with 50 passengers and standard fuel 1480km (800nm), range with 50 passengers and optional fuel 2040km (1100nm).

Weights
N25050 - Operating empty 13,665kg (30,125lb), max takeoff 22,000kg (48,500lb). N-250100 - Operating empty 15,700kg (34,612lb), max takeoff 24,800kg (54,675lb).

Dimensions
N25050 - Wing span 28.00m (91ft 11in), length 26.30m (86ft 4in), height 8.37m (27ft 6in). Wing area 65.0m2 (700sq ft). N-250100 - Same except length 28.12m (92ft 3in), height 8.78m (28ft 10in).

Capacity
Flightcrew of two. Typical accommodation in N25050 for 50 to 54. N250100 will seat up to 62 to 64 passengers at four abreast at 81cm (32in) pitch, 68 at 76cm (30in) pitch, or 60 at 81cm (32in) with optional extra cargo.

Production
At late 1998 firm orders stood at over 30.

Type
64/68 seat turboprop regional airliner

Selain itu, ia juga tercatat menjadi anggota Society of Flight Test Engineers (SFTE), American Institute of Aeronautics and Astronautics (AIAA), Planetary Society, dan Institute for Electrical and Electronics Engineer (IEEE) yang semuanya di AS.
__________________
[SIGPIC][/SIGPIC]
Tidak semua yang kita inginkan bisa kita dapatkan dan tidak semua yang kita benci bisa kita tolak
Itulah hidup, kita belajar untuk menerima hal-hal seperti itu

Reply With Quote
  #15  
Old 12 February 2010, 20:59
Ani Fitriani's Avatar
Junior Member
 
Join Date: Jan 2010
Location: Selalu Merindukan Seseorang
Posts: 170
Thanks: 29
Thanked 39 Times in 25 Posts
Ani Fitriani super top memberAni Fitriani super top memberAni Fitriani super top memberAni Fitriani super top memberAni Fitriani super top memberAni Fitriani super top memberAni Fitriani super top memberAni Fitriani super top memberAni Fitriani super top memberAni Fitriani super top memberAni Fitriani super top member
Default

22. Prof Dr. Mezak Arnold Ratag - Ahli Planetary Nebula Cluster dari Manado
Spoiler:

Professor Mezak Arnold Ratag is one of the most brilliant astronomers in the world. The International Astronomical Union has hailed his work on planetary nebula — a glowing shell of gas and plasma that certain types of stars form when they die — as “a major step forward in science.” His name has been perpetuated in 120 planetary nebula clusters, including the Ratag-Ziljstra-Pottasch-Menzies and Ratag-Pottasch clusters, which he helped discover. He has also received an award of the highest distinction for chivalry for pioneering work in climate modeling. Prof. Ratag has also worked as the director of the Indonesian Bureau of Meteorology, Climatology and Geophysics, as well as a researcher in the National Space and Aeronautics Bureau. He argues that astrology does not have a scientific basis because of its inability to explain the cause-and-effect relationship required in scientific methodology

Prof Dr. Mezak Arnold Ratag dilahirkan di Malang pada tanggal 24 September 1962 sebagai anak ketiga dari Prof. Alexander Ratag dan Grietje Kawengian. Pendidikan sekolah dasar dan sekolah menengah pertama diperolehnya di SD dan SMP Laboratorium IKIP Manado. Pada bulan Agustus 1980 ia terpilih sebagai Pelajar Teladan tingkat SLTA Provinsi Sulawesi Utara dan selanjutnya sebagai salah satu dari tiga Pelajar Teladan Nasional tahun 1980. Beberapa bulan sebelum kelulusannya di SMA Negeri 1 Manado pada bulan Juni 1981, melalui program seleksi Perintis II, ia dibebaskan dari ujian saringan masuk perguruan tinggi dan diterima sebagai mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB).

Setelah menyelesaikan keseluruhan program studi 9 semester dalam waktu kurang dari empat tahun dengan dibimbing oleh Prof. Bambang Hidayat, pada Oktober 1985 Mezak A. Ratag diwisuda sebagai Sarjana Astronomi dengan predikat cum laude. Universitas Kerajaan Belanda di Groningen, Rijksuniversiteit te Groningen membebaskannya dari keharusan untuk menempuh ujian doktoral (magister) dan memperbolehkannya langsung mengikuti program doktor pada tahun 1988. Di bawah bimbingan Prof. Dr. Stuart Pottasch, Mezak Ratag memperoleh gelar doktor (summos honoris) pada bulan Juni 1991 dengan disertasi yang berjudul "A Study of Galactic Bulge Planetary Nebulae". Prof. Dr. Harm Habing dari Komisi Materi Antar Bintang IAU dalam komentar tertulisnya menyebut disertasi ini sebagai “a major step forward in science”. Laporan resmi Kapteyn Astronomical Institute memberi catatan tentang disertasi ini sebagai berikut: “It is the first time that a discussion of chemical composition in the bulge, taking into account planetary abundances, has been given. It may become a reference for some time to come”.

Mezak Ratag telah mempresentasikan dan mempublikasikan lebih dari seratus karya ilmiah nasional dan internasional. Lebih dari 100 buah planetary nebulae (PN) baru telah ditemukannya dan dipublikasikan bersama mitra kerjanya. Dalam katalog penemuan PN yang diterbitkan oleh Observatorium Strasbourg, sejumlah besar di antaranya diberi nama dengan namanya dan nama mitra kerjanya. Lebih dari 100 international citations tentang karya-karya ilmiahnya dapat dijumpai dalam berbagai jurnal, buku, dan prosiding internasional.

Ia menjadi anggota International Astronomical Union, UNEP-WMO IPCC Task Group on Climate Impact Assessment, Dutch Astronomical Society, Himpunan Astronomi Indonesia (HAI), Himpunan Fisika Indonesia (HFI), dan Perhimpunan Meteorologi Pertanian Indonesia (Perhimpi). Beberapa kali ia duduk sebagai anggota Delegasi RI dalam rangka UN Framework Convention on Climate Change COP dan pertemuan-pertemuan APEC IST-WG.

Menjadi Ahli Peneliti Utama pada Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional yang diangkat dengan Keputusan Presiden RI sebagai Profesor Riset Astronomi & Astrofisika pada usia yang relatif sangat muda, baginya sebenarnya tidak enak sebab dia selalu tertantang untuk mencapai hal yang lebih baik dan lebih tinggi, padahal karier dan gelar yang diperolehnya sudah pada tingkat paling tinggi. Di Indonesia, gelar profesor biasanya dicapai rata-rata pada usia lima puluh sampai enam puluh tahun. Dan bagi pendidik dalam lingkup Lembaga Pemerintah Non-Departemen, gelar profesor ini selain diusulkan dan ditetap kan oleh lembaga tempat dia mengabdikan ilmunya, juga harus melalui Surat Keputusan (SK) Presiden RI.


tanpa mengurangi rasa hormat kepada para jenius, karena tidak ditampilkan di sini
Silakan buat yg lain kalo mau menambahkan
__________________
[SIGPIC][/SIGPIC]
Tidak semua yang kita inginkan bisa kita dapatkan dan tidak semua yang kita benci bisa kita tolak
Itulah hidup, kita belajar untuk menerima hal-hal seperti itu


Last edited by Ani Fitriani; 12 February 2010 at 21:05.
Reply With Quote
  #16  
Old 16 February 2010, 14:05
Ani Fitriani's Avatar
Junior Member
 
Join Date: Jan 2010
Location: Selalu Merindukan Seseorang
Posts: 170
Thanks: 29
Thanked 39 Times in 25 Posts
Ani Fitriani super top memberAni Fitriani super top memberAni Fitriani super top memberAni Fitriani super top memberAni Fitriani super top memberAni Fitriani super top memberAni Fitriani super top memberAni Fitriani super top memberAni Fitriani super top memberAni Fitriani super top memberAni Fitriani super top member
Default

kok gak ada yang mau menambahi sih?
__________________
[SIGPIC][/SIGPIC]
Tidak semua yang kita inginkan bisa kita dapatkan dan tidak semua yang kita benci bisa kita tolak
Itulah hidup, kita belajar untuk menerima hal-hal seperti itu

Reply With Quote
  #17  
Old 19 April 2010, 17:18
gatel8888's Avatar
New Member
 
Join Date: Apr 2010
Posts: 3
Thanks: 0
Thanked 0 Times in 0 Posts
gatel8888 is an unknown quantity at this point
:getokk:

Hebat.... ngga nyangka banyak orang pinter dari Indonesia...
Generasi sekarang bisa nyusul ngga ya??? habisnya lebih suka demo daripada belajar...
Reply With Quote
  #18  
Old 22 April 2010, 06:32
Chobit's Avatar
Junior Member
 
Join Date: Apr 2010
Location: Bandung
Posts: 443
Thanks: 1
Thanked 2 Times in 1 Post
Chobit super top memberChobit super top memberChobit super top memberChobit super top memberChobit super top memberChobit super top memberChobit super top memberChobit super top memberChobit super top memberChobit super top memberChobit super top member
Default

Quote:
Originally Posted by gatel8888 View Post
Hebat.... ngga nyangka banyak orang pinter dari Indonesia...
Generasi sekarang bisa nyusul ngga ya??? habisnya lebih suka demo daripada belajar...
Demo seh gak papa..... masih bisa pintar.
yg bnyk sekarang anak mudanya sdh kena alkohol, narkoba, suka dugem, free sex dan klw sdh kena ini dijamin gak bakal pintar sampai mati....
Reply With Quote
  #19  
Old 22 April 2010, 09:25
friendly9's Avatar
New Member
 
Join Date: Jan 2010
Posts: 12
Thanks: 0
Thanked 0 Times in 0 Posts
friendly9 super top memberfriendly9 super top memberfriendly9 super top memberfriendly9 super top memberfriendly9 super top memberfriendly9 super top memberfriendly9 super top memberfriendly9 super top memberfriendly9 super top memberfriendly9 super top memberfriendly9 super top member
Default

pengertian dari jenius itu apa,pengertian dari kepintaran itu apa?kenapa semua nya profesor apakah yang tidak proffesor itu dumb kalo menurut ane sob,kepintaran atau kejeniusan yaitu orang orang yang pandai di bidang nya dan berhasil,kalo meunurut ane orang indonesia pinter2 kok ,bangsa laen lewat,kecuali china,ane dah survey kok,cuma kendala nya mank bahasa obama aja,kalo gak punya duit untuk sekolah tinggi gimana padahal dia pinter...mohon maaf sob TS salam peace
Reply With Quote
  #20  
Old 27 April 2010, 22:20
nugiepercetakan's Avatar
Senior Member
 
Join Date: Apr 2010
Location: Jakarta
Posts: 411
Thanks: 2
Thanked 1 Time in 1 Post
nugiepercetakan is an unknown quantity at this point
Default

__________________
Nugie Nugraha (nugie)
Project Manager
WAZHTUFFLE Printing & Graphic Design
Jl. Batu Ampar VII, Jakarta Timur
M : +628567778887
+622199050660
E : nugiemandiri@yahoo.co.id
W: Http://nugie-nugraha.blogspot.com
Reply With Quote
Reply

Bookmarks

Thread Tools
Display Modes

Posting Rules
You may not post new threads
You may not post replies
You may not post attachments
You may not edit your posts

BB code is On
Smilies are On
[IMG] code is On
HTML code is Off
Trackbacks are On
Pingbacks are On
Refbacks are On



All times are GMT +7. The time now is 05:00.