|
#1
|
||||
|
||||
|
Dalam mata pelajaran writing untuk tingkat atau tahap awal, para mahasiswa biasanya diminta untuk menuliskan pengalaman mereka. Menulis atau menceritakan pengalaman, menurut saya, sangat mudah karena mahasiswa hanya perlu menceritakan kembali apa yang telah terjadi tanpa harus ‘mengarang cerita’. Tahap berikutnya adalah menulis opini. Mahasiswa diminta untuk mengungkapkan pendapat mereka tentang suatu topik yang diberikan.
Dalam menulis opini, mahasiswa diminta untuk menyatakan apakah mereka setuju atau tidak terhadap sebuah isu. Untuk memperkuat opini mereka, mahasiswa bisa memberikan contoh-contoh. Misalnya, saat ini para anggota DPR dinilai sebagai orang-orang yang tidak mau mendengar suara rakyat atau tidak perduli dengan nasib bangsa. Apakah mahasiswa itu setuju dengan penilaian tersebut? Apa alasan kesetujuan atau ketidak-setujuan mereka? Contohnya? Seandainya saya mahasiswa itu, saya akan menulis seperti berikut. Para anggota DPR, sepertinya, adalah orang-orang yang tidak sesuai dengan fungsi mereka. Sebagai anggota dewan, mereka seharusnya prihatin terhadap nasib bangsa. Tetapi, bagaimana kenyataannya? Mereka sibuk menghambur-hamburkan uang untuk plesir ke luar negeri dengan dalih studi banding. Rakyat menjadi kecewa karena telah memilih mereka untuk duduk menjadi wakil rakyat. Para anggota DPR ini tidak perduli dengan pemulihan keadaan bangsa. Mereka hanya sibuk menghitung uang fasilitas dan tetek-bengeknya. Rakyat telah salah memilih. Para anggota DPR seperti alat yang salah untuk tujuan yang baik. Mereka seperti celana dalam Gus Dur. Lho, apa hubungannya? Ketika Gus Dur studi di Kairo, suatu hari beliau mendapat kunjungan seorang tamu – teman dari Indonesia. Gus Dur hendak menyuguhkan minum, teh manis hangat. Beliau mencari lap atau serbet untuk mengelap gelas, tetapi tidak menemukannya. Dengan tenang, beliau mengambil celana dalamnya untuk mengelap gelas itu. “Lho, Gus. Kok ngelap gelas pake celana dalam?” temannya protes. “Tenang saja. Ini celana dalam baru, belum pernah aku pakai. Lihat, masih ada stikernya. Gitu aja kok repot,” balas Gus Dur dengan banyolannya yang khas. (Cerita ini diceritakan oleh Emha Ainun Najib dalam sebuah acara di Politeknik NSC Surabaya pada tahun 1997.) Celana dalam baru, memang! Tetapi, fungsinya bukan untuk mengelap gelas. Kembali ke anggota DPR, mereka seperti celana dalam Gus Dur, tidak cocok untuk tujuan memulihkan kondisi bangsa. Celana dalam hanya cocok berada di selangkangan. Lihatlah bagaimana anggota DPR nonton video ****o, terkantuk dan tertidur selama sidang, ngeyel untuk pigi ke luar negeri, dan seterusnya. Tidak ada niatan untuk pemulihan negeri ini. Tidak cocok untuk ‘membersihkan’ gelas: memberantas korupsi. Ah, ini ‘kan hanya contoh menulis opini. Contoh bagaimana memberi ‘ilustrasi’ pada sebuah opini. Bagaimana menurut Anda?
__________________
|
| The Following User Says Thank You to idgscool For This Useful Post: | ||
moehzein (21 May 2011) | ||
|
#2
|
||||
|
||||
|
ehm ijin nyimak dulu
__________________
|
|
#3
|
||||
|
||||
|
Nice Info Gan
|
|
#4
|
||||
|
||||
|
ada benernya sich......, jujur...., suweerrrr...eweerr eweerr...!!!
|
|
#5
|
||||
|
||||
|
bener gusdur.nice posting
![]()
|
|
#6
|
||||
|
||||
|
yaah gusdur di bawa-bawa,,,kasian gan dia ssah jalan.
jngn di bwa-bwa yaa... ![]()
__________________
|
|
#7
|
||||
|
||||
|
Quote:
__________________
|
|
#8
|
||||
|
||||
|
izin nyimak dulu gan..
__________________
|
|
#9
|
||||
|
||||
|
Quote:
![]() ![]() ![]() ![]()
|
|
#10
|
||||
|
||||
|
menarik banget ni gan ceritanya,bisa buat inspirasi
|
![]() |
| Bookmarks |
| Thread Tools | |
| Display Modes | |
|
|